Harga Emas Dunia Menguat 24,8 Persen Setahun, Masih Layak Dikoleksi?

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 07:24 WIB
Harga emas Antam terbaru turun Rp9.000 menjadi Rp2.601.000 per gram. (Pexels/Michael Steinberg)
Harga emas dunia stabil di US$4.237,27 per troy ons. Simak penyebab pergerakan, tren tahunan, dan proyeksi harga emas hingga 12 bulan. (Pexels/Michael Steinberg)

RADAR BANYUWANGI – Harga emas dunia masih bertahan di level tinggi pada perdagangan Jumat (7/8). Logam mulia diperdagangkan di kisaran US$4.237,27 per troy ons, mencerminkan fase konsolidasi setelah sempat mencetak rekor di atas US$4.250 per troy ons pada awal pekan. Meski secara harian terkoreksi tipis 0,24 persen, tren jangka menengah hingga tahunan masih menunjukkan penguatan yang signifikan.

Data perdagangan menunjukkan harga emas spot (XAU/USD) bergerak dalam rentang sempit sepanjang sesi perdagangan. Harga pembukaan berada di kisaran US$4.241 per troy ons dan berfluktuasi tipis sebelum ditutup di sekitar US$4.240 per troy ons.

Pergerakan yang relatif datar tersebut menandakan pasar tengah memasuki fase konsolidasi setelah reli kuat pada pertengahan pekan. Pada 5 Agustus 2026, harga emas sempat melonjak hingga US$4.279,49 per troy ons, atau naik sekitar 4,94 persen dalam sehari, dipicu meningkatnya permintaan aset aman (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Meski mengalami koreksi tipis pada perdagangan terakhir, kinerja emas masih menunjukkan tren positif. Dalam satu bulan terakhir, harga tercatat naik sekitar 3,20 persen, sedangkan secara tahunan meningkat 24,80 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan tersebut mempertegas posisi emas sebagai salah satu instrumen investasi yang tetap diminati ketika pasar keuangan menghadapi volatilitas.

Bank Sentral Jadi Penopang Harga

Analis menilai salah satu faktor utama yang menjaga harga emas tetap tinggi adalah konsistensi bank sentral di berbagai negara dalam menambah cadangan emas sebagai bagian dari strategi diversifikasi aset.

Amerika Serikat masih menjadi negara dengan cadangan emas terbesar di dunia, yakni sekitar 8.133,46 ton, disusul Rusia yang memiliki sekitar 2.304,75 ton.

Akumulasi cadangan emas oleh bank sentral tersebut dinilai mampu menopang permintaan global sehingga harga logam mulia tetap bertahan di atas level psikologis US$4.200 per troy ons.

Selain pembelian bank sentral, tingginya minat investor terhadap aset aman juga menjadi faktor yang menopang harga di tengah dinamika kebijakan moneter global.

Proyeksi Masih Positif

Untuk jangka pendek, pelaku pasar memperkirakan harga emas akan bergerak dalam pola konsolidasi dengan proyeksi berada di kisaran US$4.103,88 per troy ons pada akhir kuartal berjalan.

Sementara dalam horizon 12 bulan, harga emas diperkirakan masih berpotensi menguat hingga menyentuh US$4.420,99 per troy ons, apabila permintaan aset lindung nilai tetap tinggi dan pembelian emas oleh bank sentral berlanjut.

Pergerakan harga emas selanjutnya akan dipengaruhi sejumlah faktor eksternal, mulai dari rilis data inflasi, pertumbuhan ekonomi, arah suku bunga bank sentral utama dunia, hingga perkembangan geopolitik yang dapat meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.

Meski prospeknya masih dinilai positif, pelaku pasar diingatkan bahwa investasi emas tetap memiliki risiko fluktuasi harga. Oleh karena itu, keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing investor, serta tidak hanya didasarkan pada pergerakan harga jangka pendek. (*)

Editor : Ali Sodiqin
XAU/USD bank sentral investasi emas emas dunia harga emas