Tomat Murah, Petani Menjerit: Dipanen Rugi, Dibiarkan Busuk di Pohon

Salis Ali Muhyidin • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 06:30 WIB
HARGA ANJLOK: Petani merawat tanaman tomat di persawahan Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Rabu (5/8). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
HARGA ANJLOK: Petani merawat tanaman tomat di persawahan Desa Sragi, Kecamatan Songgon, Rabu (5/8). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Musim panen yang seharusnya membawa keuntungan justru menjadi pukulan bagi petani tomat di Banyuwangi. Melimpahnya pasokan membuat harga tomat anjlok hingga hanya Rp3.000 per kilogram di tingkat pasar. Di tingkat petani, nilainya bahkan lebih rendah, sehingga banyak petani mengaku tidak mampu menutup biaya produksi dan mulai mempertimbangkan menunda panen meski berisiko buah membusuk di pohon.

Kondisi itu dirasakan Mahmud (54), petani asal Desa Sragi, Kecamatan Songgon. Di tengah hamparan tanaman tomat yang siap dipetik, ia hanya bisa memandangi lahannya dengan rasa kecewa. Berbulan-bulan mengolah lahan, membeli pupuk, pestisida, hingga merawat tanaman, hasil yang diperoleh kini jauh dari harapan.

Di Pasar Genteng, tomat saat ini dijual sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 per kilogram. Padahal dalam kondisi normal, komoditas tersebut dapat mencapai sekitar Rp9.000 per kilogram.

Anjloknya harga membuat keuntungan petani nyaris hilang. Bahkan, menurut Mahmud, hasil penjualan tidak lagi mampu menutup biaya produksi.

"Kondisi begini bikin elus dada. Untuk menutup modal pupuk dan obat-obatan saja sudah tidak cukup, apalagi buat bayar tenaga petik. Kalau dipaksa panen, biayanya tambah membengkak. Tapi kalau dibiarkan di pohon, ya busuk," ujarnya.

Mahmud menjelaskan, harga yang diterima petani lebih rendah dibandingkan harga di tingkat pengecer. Pengepul membeli tomat dengan harga yang jauh di bawah harga pasar sehingga margin keuntungan petani semakin tipis.

Fenomena ini juga diakui pengelola Pasar Genteng. Petugas Pasar Genteng Arif Kurniawan mengatakan, penurunan harga dipicu oleh membanjirnya pasokan tomat dari berbagai daerah sentra produksi di Banyuwangi.

"Pasokan yang masuk dalam beberapa hari terakhir memang sangat melimpah, tidak hanya dari Songgon tapi juga daerah sekitar. Ketika barang melimpah sementara permintaan pembeli cenderung stabil, hukum pasar berlaku, harga langsung turun," jelasnya.

Melimpahnya produksi tanpa diimbangi peningkatan permintaan membuat harga tomat terus tertekan. Situasi ini menjadi tantangan bagi petani hortikultura yang bergantung pada fluktuasi harga pasar.

Bagi Mahmud dan petani lainnya, pilihan yang tersedia sama-sama berat. Memanen tomat berarti menanggung biaya tambahan yang belum tentu tertutup hasil penjualan. Sebaliknya, menunda panen membuat buah berisiko rusak dan kehilangan nilai jual.

Mereka berharap harga segera pulih sehingga hasil panen yang telah dirawat selama berbulan-bulan dapat memberikan keuntungan yang layak dan menjaga keberlangsungan usaha tani. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
petani Songgon tomat Banyuwangi panen tomat Pasar Genteng harga tomat