BPS Catat Pekerja Informal Turun Tipis pada Mei 2026, Sektor Formal Bertambah hingga 60,31 Juta Orang

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 13:56 WIB
Proporsi pekerja informal di Indonesia turun tipis menjadi 59,30 persen pada Mei 2026 menurut BPS. (Pexels/Mico Medel)
Proporsi pekerja informal di Indonesia turun tipis menjadi 59,30 persen pada Mei 2026 menurut BPS. (Pexels/Mico Medel)

RADAR BANYUWANGI - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat proporsi pekerja informal di Indonesia mengalami penurunan tipis pada Mei 2026. Meski demikian, sektor informal masih menjadi penopang utama pasar kerja nasional dengan porsi lebih dari separuh total penduduk yang bekerja.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud mengatakan proporsi pekerja informal pada Mei 2026 mencapai 59,30 persen dari seluruh penduduk yang bekerja. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan Februari 2026 yang tercatat sebesar 59,42 persen.

Secara jumlah, pekerja informal mencapai sekitar 87,88 juta orang. Sementara pada Februari 2026 jumlahnya sebanyak 87,74 juta orang. Penurunan yang terjadi lebih disebabkan oleh meningkatnya jumlah pekerja formal dibandingkan perubahan komposisi tenaga kerja secara keseluruhan.

BPS mendefinisikan pekerja informal sebagai mereka yang berusaha sendiri, berusaha dengan bantuan buruh tidak tetap atau pekerja keluarga yang tidak dibayar, pekerja bebas, serta pekerja keluarga yang tidak menerima upah.

Pada Mei 2026, jumlah penduduk yang bekerja di Indonesia mencapai 148,19 juta orang. Dari total tersebut, sebanyak 37,09 persen berstatus sebagai buruh, karyawan, atau pegawai.

Menurut Edy, kelompok pengusaha yang bekerja sendiri menjadi kategori yang mengalami penambahan terbesar dibandingkan Februari 2026. Jumlahnya bertambah sekitar 1,38 juta orang.

Di sisi lain, jumlah pekerja di sektor formal juga meningkat. BPS mencatat pekerja formal bertambah dari 59,93 juta orang pada Februari menjadi 60,31 juta orang pada Mei 2026. Kenaikan tersebut terutama didorong bertambahnya jumlah buruh, karyawan, dan pegawai.

Selain melihat status pekerjaan, BPS juga mencatat adanya perubahan struktur tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan. Proporsi pekerja dengan pendidikan diploma hingga perguruan tinggi mencapai 13,18 persen dari total penduduk yang bekerja.

Jika dibandingkan Februari 2026, proporsi pekerja dengan pendidikan SMA, SMK, serta diploma ke atas mengalami peningkatan. Kondisi ini menunjukkan semakin banyak tenaga kerja dengan tingkat pendidikan menengah dan tinggi yang terserap ke pasar kerja.

Secara rinci, pekerja berpendidikan Diploma IV, Sarjana, Magister, hingga Doktor berjumlah 15,93 juta orang atau sekitar 10,75 persen dari total pekerja. Sementara lulusan Diploma I, II, dan III mencapai 3,59 juta orang atau 2,42 persen.

Untuk lulusan SMA, jumlah pekerja tercatat sebanyak 30,71 juta orang atau 20,72 persen. Sedangkan lulusan SMK mencapai 19,44 juta orang atau sekitar 13,12 persen.

Meski tren pendidikan tenaga kerja terus membaik, lulusan sekolah dasar atau yang berpendidikan lebih rendah masih mendominasi struktur penduduk bekerja di Indonesia. Kelompok ini mencapai 52,46 juta orang atau sekitar 35,40 persen dari total pekerja nasional.

BPS menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia masih menjadi tantangan penting di pasar kerja Indonesia. Di tengah bertambahnya pekerja berpendidikan tinggi dan meningkatnya sektor formal, tenaga kerja dengan pendidikan dasar masih menjadi kelompok terbesar yang menopang aktivitas ekonomi nasional.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
BPS Mei 2026