Wamenkeu: Daya Beli Masyarakat Masih Terjaga, Deflasi Juli 2026 Bukan Pertanda Permintaan Melemah

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 12:25 WIB
Wamenkeu Juda Agung optimistis ekonomi Indonesia 2026 tetap tumbuh di atas 5 persen. (Pexels/kaboompics)
Wamenkeu Juda Agung optimistis ekonomi Indonesia 2026 tetap tumbuh di atas 5 persen. (Pexels/kaboompics)

RADAR BANYUWANGI - Pemerintah optimistis perekonomian Indonesia mampu mempertahankan tren pertumbuhan positif sepanjang 2026 meski ketidakpastian ekonomi global masih membayangi. Keyakinan tersebut didukung oleh aktivitas ekonomi yang tetap bergairah, daya beli masyarakat yang terjaga, serta kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dinilai tetap sehat dan kredibel.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengatakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 diperkirakan masih berada di atas 5 persen. Meski sedikit lebih rendah dibandingkan triwulan I, indikator ekonomi menunjukkan aktivitas produksi dan investasi masih terus menguat.

Menurutnya, kondisi tersebut tercermin dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur yang kembali berada pada zona ekspansi. Selain itu, impor barang modal dan bahan baku juga mengalami peningkatan sehingga mencerminkan masih tingginya aktivitas industri dan investasi.

Pemerintah pun tetap meyakini target pertumbuhan ekonomi nasional pada kisaran 5,6 hingga 6,0 persen sepanjang 2026 dapat direalisasikan. Berbagai stimulus ekonomi yang disiapkan pada semester II, termasuk untuk sektor manufaktur dan otomotif, diharapkan mampu memberikan dorongan tambahan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Juda juga menegaskan daya beli masyarakat masih relatif kuat. Ia menjelaskan deflasi yang terjadi pada Juli 2026 lebih dipengaruhi oleh turunnya harga sejumlah komoditas, seperti bawang merah dan emas, bukan akibat melemahnya permintaan masyarakat.

Menurutnya, kondisi tersebut tidak mencerminkan pelemahan konsumsi domestik. Apalagi, aktivitas manufaktur yang kembali berekspansi menunjukkan permintaan dan aktivitas ekonomi masih bergerak positif.

Selain ditopang konsumsi dan investasi, kinerja ekonomi nasional juga didukung kondisi APBN yang tetap terjaga. Juda menyebut penerimaan negara hingga semester I 2026 meningkat sekitar 24 persen dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan tersebut memberikan ruang fiskal bagi pemerintah untuk meningkatkan belanja negara yang tumbuh sekitar 17 persen.

Di sisi lain, defisit APBN hingga akhir Juni 2026 tercatat sebesar 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut dinilai mencerminkan pengelolaan fiskal yang disiplin, hati-hati, dan tetap berada pada jalur yang sehat.

Pengelolaan fiskal yang pruden tersebut, lanjut Juda, menjadi salah satu faktor yang menjaga kepercayaan investor internasional terhadap Indonesia. Hal itu terlihat dari tetap terjaganya peringkat kredit Indonesia serta tingginya minat investor terhadap berbagai instrumen pembiayaan pemerintah.

Ia menilai Indonesia mampu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makro. Inflasi tetap terkendali, kondisi fiskal sehat, dan ekonomi masih tumbuh di atas 5 persen sehingga menjadi fondasi penting bagi kepercayaan pasar.

Menjelang penyampaian Nota Keuangan Rancangan APBN Tahun Anggaran 2027, pemerintah memastikan kebijakan fiskal tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga keberlanjutan fiskal.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Kementerian Keuangan RI
Wamenkeu Juda Agung