Rupiah Masih Tertekan, Gejolak Timur Tengah dan Data Tenaga Kerja AS Jadi Perhatian Pasar

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 11:07 WIB
Rupiah diproyeksi masih melemah akibat tekanan eksternal menjelang rilis data Nonfarm Payrolls AS. (JawaPos.com)
Rupiah diproyeksi masih melemah akibat tekanan eksternal menjelang rilis data Nonfarm Payrolls AS. (JawaPos.com)

RADAR BANYUWANGI - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan hari ini. Pelemahan mata uang Garuda dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama sikap pelaku pasar yang menunggu rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) atau Nonfarm Payrolls (NFP) sebagai acuan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan sentimen global masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan rupiah. Investor memilih bersikap hati-hati menjelang publikasi data NFP yang dijadwalkan akhir pekan ini.

Menurutnya, hasil data tersebut akan memberikan gambaran mengenai peluang perubahan kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa waktu ke depan. Apabila data tenaga kerja AS menunjukkan penguatan, dolar AS berpotensi kembali menguat sehingga memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor tersebut, ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah juga masih mendorong permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman (safe haven). Kondisi itu membuat tekanan terhadap mata uang emerging markets belum sepenuhnya mereda.

Di sisi lain, sentimen domestik dinilai masih memberikan penyangga bagi pergerakan rupiah. Pasar mencermati data Neraca Perdagangan Indonesia Juni 2026 yang mencatatkan defisit lebih kecil dibandingkan perkiraan sebelumnya. Sementara itu, inflasi Juli tetap berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia sehingga menjaga optimisme terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Perhatian investor pada hari ini juga tertuju pada rilis Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II-2026. Amru menilai capaian pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar dapat menjadi katalis positif bagi penguatan rupiah karena mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang masih kuat.

Dalam jangka pendek, nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak pada kisaran Rp17.950 hingga Rp18.100 per dolar AS. Meski tekanan eksternal masih mendominasi, ruang pelemahan diperkirakan relatif terbatas.

Prospek tersebut didukung oleh inflasi yang tetap terkendali, pertumbuhan ekonomi yang masih positif, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen kebijakan.

Ke depan, arah pergerakan rupiah diperkirakan sangat bergantung pada hasil rilis PDB Indonesia serta data Nonfarm Payrolls Amerika Serikat. Jika pertumbuhan ekonomi Indonesia melampaui ekspektasi dan peluang kenaikan suku bunga The Fed kembali mereda, rupiah berpotensi menguat.

Sebaliknya, apabila data ekonomi AS kembali menunjukkan kinerja yang solid sehingga memperkuat dolar AS, nilai tukar rupiah masih berpeluang bergerak mendekati batas atas kisaran proyeksi yang telah diperkirakan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
rupiah