IHSG Dibuka Naik, Sentimen Positif dari Wall Street dan Meredanya Ketegangan AS-Iran Angkat Bursa Regional

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 10:19 WIB
IHSG dibuka menguat mengikuti reli bursa Asia dan global. (Tangsel JawaPos)
IHSG dibuka menguat mengikuti reli bursa Asia dan global. (Tangsel JawaPos)

RADAR BANYUWANGI - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Penguatan tersebut sejalan dengan tren positif bursa saham Asia dan global yang didorong meningkatnya keberanian investor mengambil risiko (risk on) setelah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai mereda.

Pada awal perdagangan, IHSG naik 18,98 poin atau 0,30 persen ke level 6.338,59. Sementara itu, Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut menguat 1,25 poin atau 0,20 persen ke posisi 636,46.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, secara teknikal peluang penguatan IHSG masih terbuka selama mampu bertahan di atas area support 6.246 hingga 6.211.

"Selama IHSG mampu bertahan di atas area 6.246-6.211, berpeluang melanjutkan kenaikan untuk menguji resistance 6.377, kemudian 6.450, hingga 6.500. Namun apabila kembali bergerak di bawah EMA50, IHSG berpotensi mengalami pullback sehat dengan support di 6.246, 6.211, dan 6.161," ujarnya, dikutip Antara.

Dari pasar global, sentimen positif dipicu optimisme terhadap upaya diplomatik antara AS dan Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut peluang tercapainya kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz semakin besar. Sementara itu, Qatar mengonfirmasi proses negosiasi masih berlangsung dengan fokus meredakan konflik dan memulihkan jalur pelayaran strategis tersebut.

Menurut Liza, harapan tercapainya kesepakatan itu mendorong penurunan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.

Di sisi lain, perhatian pasar juga tertuju pada rencana pemerintah AS yang tengah menyiapkan kebijakan harga minimum (price floor) dan tarif impor untuk polysilicon beserta produk turunannya. Kebijakan yang diperkirakan diumumkan pada akhir Agustus 2026 setelah investigasi berdasarkan Section 232 Trade Expansion Act selesai itu bertujuan mengurangi dominasi China dalam rantai pasok semikonduktor dan panel surya.

Langkah tersebut diproyeksikan memberi perlindungan lebih besar bagi produsen domestik AS seperti Hemlock Semiconductor dan Wacker Chemie. Namun, kebijakan itu juga berpotensi meningkatkan biaya produksi industri semikonduktor, panel surya, kendaraan listrik, hingga elektronik konsumen sehingga menambah ketidakpastian rantai pasok global.

Meski demikian, sentimen awal pasar masih cenderung positif. Saham perusahaan energi surya AS seperti Corning, First Solar, dan T1 Energy tercatat menguat setelah kabar kebijakan tersebut beredar.

Pelaku pasar juga masih menanti arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Perhatian kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan AS pekan ini setelah jumlah lowongan pekerjaan (JOLTS) turun menjadi 7,359 juta pada Juni 2026 dari 7,537 juta pada Mei 2026.

Liza menilai, meski data tersebut menunjukkan perlambatan, kondisi pasar tenaga kerja AS masih tergolong kuat sehingga data Nonfarm Payrolls (NFP) Juli 2026 akan menjadi penentu utama ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Fed.

Sentimen positif juga datang dari Wall Street. Minat investor terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kembali meningkat setelah sempat mengalami koreksi sepanjang Juli. Reli sektor teknologi didorong laporan keuangan Microsoft dan Amazon yang melampaui ekspektasi sehingga memicu aksi beli.

Dari dalam negeri, investor kini menantikan rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II 2026 yang diperkirakan tumbuh sekitar 5,1 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Menurut Liza, realisasi pertumbuhan ekonomi yang melampaui konsensus berpotensi menjadi katalis positif bagi sektor perbankan, konsumsi, konstruksi, dan properti. Sebaliknya, apabila hasilnya berada di bawah ekspektasi, pasar berpotensi mengalami aksi ambil untung dalam jangka pendek.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah siap menambah penempatan dana yang bersumber dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan Himbara untuk menjaga likuiditas sekaligus mempercepat pemulihan ekonomi.

Penguatan juga terjadi di mayoritas bursa global. Bursa Eropa ditutup di zona hijau pada Selasa (4/8), dengan Euro Stoxx 50 naik 1,12 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,20 persen, DAX Jerman bertambah 0,77 persen, dan CAC 40 Prancis naik 0,61 persen.

Wall Street juga ditutup menguat. Indeks S&P 500 naik 1,79 persen ke level 7.736,52, Nasdaq Composite melonjak 3,32 persen ke 29.733,16, sedangkan Dow Jones Industrial Average menguat 1,71 persen ke posisi 54.085,88.

Pada perdagangan pagi ini, mayoritas bursa Asia juga bergerak positif. Indeks Nikkei menguat 3,17 persen, Shanghai Composite naik 0,42 persen, Kospi melonjak 4,16 persen, Kuala Lumpur bertambah 0,53 persen, sedangkan Straits Times Singapura menjadi satu-satunya yang melemah 0,67 persen.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
ihsg