RADAR BANYUWANGI – Harga sejumlah kebutuhan pangan yang melandai ikut menarik laju inflasi Banyuwangi ke zona deflasi. Pada Juli 2026, Kabupaten Banyuwangi mengalami deflasi bulanan sebesar 0,55 persen. Salah satu komoditas yang ikut menyumbang penurunan harga tersebut adalah telur ayam ras.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi menunjukkan, secara bulanan atau month to month (m-t-m), terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 0,55 persen dibandingkan Juni 2026.
Namun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, harga berbagai komoditas di Banyuwangi masih mengalami kenaikan. Inflasi tahunan atau year on year (y-o-y) pada Juli 2026 tercatat sebesar 1,73 persen.
Kenaikan tersebut tercermin dari IHK yang bergerak dari 109,74 pada Juli 2025 menjadi 111,64 pada Juli 2026. Sementara secara kumulatif sepanjang tahun atau year to date (y-t-d), Banyuwangi mencatat inflasi sebesar 0,59 persen.
Kepala BPS Banyuwangi Abdus Salam melalui Berita Resmi Statistik Nomor 68/08/3510/Th. XII yang dirilis kemarin (3/8) mengatakan, inflasi tahunan terjadi karena adanya kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan sebesar 1,34 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik 1,06 persen.
Kenaikan juga tercatat pada kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 2,27 persen. Kemudian kelompok kesehatan naik 1,61 persen dan transportasi sebesar 2,58 persen.
Sementara kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami kenaikan sebesar 3,47 persen. Kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik 0,26 persen.
Tekanan kenaikan harga juga terlihat pada kelompok pendidikan sebesar 0,23 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran naik 2,84 persen, sedangkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya meningkat 2,92 persen.
“Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,17 persen,” ujar Abdus Salam.
Jika dilihat dari komoditas yang menyumbang inflasi tahunan, emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang dominan. Selain itu, kenaikan harga juga terjadi pada beras, minyak goreng, bensin, laptop atau notebook, nasi dengan lauk, mobil, daging sapi, telepon seluler, hingga bawang putih.
Komoditas lainnya yang turut memberikan andil inflasi tahunan antara lain tempe, jeruk, ikan lemuru, tongkol diawetkan, sepeda motor, bahan bakar rumah tangga, spring bed, sigaret kretek mesin (SKM), ikan tongkol, dan pepaya.
Namun, sejumlah komoditas justru mengalami penurunan harga secara tahunan. Di antaranya tomat, telur ayam ras, kelapa, bawang merah, cabai rawit, kacang panjang, kangkung, pakis, sawi hijau, jagung manis, susu bubuk, makanan bayi, salak, tarif kendaraan roda dua online, dan cabai merah.
Kondisi berbeda terlihat ketika pergerakan harga dibandingkan secara bulanan. Pada Juli 2026, deflasi 0,55 persen terutama dipengaruhi penurunan harga sejumlah komoditas pangan.
Abdus Salam menyebut emas perhiasan, bawang merah, cabai rawit, telur ayam ras, tomat, cabai merah, jagung manis, daging ayam ras, buncis, labu siam atau jipang, serta kangkung menjadi komoditas yang dominan memberikan andil deflasi bulanan.
“Sedangkan komoditas yang memberikan andil atau sumbangan inflasi m-t-m adalah bensin, telepon seluler, beras, udang basah, pisang, bawang putih, lemari es, laptop/notebook, cumi-cumi, bayam, dan pir,” pungkasnya.
Data tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga di Banyuwangi pada Juli 2026 cukup dinamis. Di satu sisi, sejumlah komoditas pangan mengalami penurunan harga dan mendorong deflasi bulanan. Di sisi lain, secara tahunan tekanan harga masih terasa pada berbagai kelompok pengeluaran.
Dengan demikian, deflasi 0,55 persen pada Juli menjadi gambaran bahwa harga sejumlah kebutuhan masyarakat mengalami pelonggaran dibandingkan bulan sebelumnya. Telur ayam ras dan sejumlah komoditas pangan lainnya turut menjadi penopang turunnya tekanan harga di Bumi Blambangan. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin