RADAR BANYUWANGI - PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat pertumbuhan angkutan komoditas perkebunan sepanjang tujuh bulan pertama 2026. Selama periode 1 Januari hingga 31 Juli 2026, volume angkutan mencapai 374.098 ton atau meningkat 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar 317.026 ton.
Kenaikan tersebut setara dengan tambahan volume 57.072 ton. Peningkatan juga terlihat pada kinerja bulanan. Sepanjang Juli 2026, KAI mengangkut 51.741 ton komoditas perkebunan, naik 24,52 persen dibandingkan Juli 2025 yang mencapai 41.551 ton. Dengan demikian, terdapat tambahan volume sebesar 10.190 ton dalam satu bulan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, mayoritas komoditas perkebunan yang diangkut merupakan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). Menurutnya, moda kereta api mampu menjaga kelancaran distribusi menuju fasilitas pengolahan melalui kapasitas angkut yang besar, jadwal perjalanan yang teratur, serta sistem operasional yang terukur.
"Peningkatan sebesar 18 persen menunjukkan kebutuhan terhadap layanan logistik perkebunan berbasis kereta api semakin kuat. KAI menjaga kelancaran distribusi CPO sebagai bahan baku berbagai industri, termasuk industri bioenergi yang kini memiliki peran strategis dalam kebijakan ketahanan energi nasional," ujar Anne, dikutip Antara.
CPO menjadi bahan baku utama dalam produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME), yaitu komponen biodiesel yang dicampurkan dengan solar. Pada implementasi B50, komposisi bahan bakar terdiri atas 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dan 50 persen solar.
Kebutuhan terhadap CPO diperkirakan terus meningkat seiring pemberlakuan Program Mandatori Biodiesel B50 yang mulai diterapkan pemerintah sejak 1 Juli 2026 dan diluncurkan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada 9 Juli 2026 sebagai bagian dari strategi memperkuat kemandirian energi nasional.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral memperkirakan implementasi B50 secara nasional membutuhkan biodiesel sekitar 16,7 juta hingga 18 juta kiloliter. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, diperlukan pasokan CPO sekitar 15,2 juta hingga 16,3 juta ton.
Program B50 juga diproyeksikan memberikan dampak ekonomi dan lingkungan yang signifikan, mulai dari penghematan devisa hingga Rp170 triliun, penyerapan sekitar 2,1 juta tenaga kerja, hingga penurunan emisi karbon dioksida mencapai 44,46 juta ton.
Anne menilai meningkatnya kebutuhan CPO membuka peluang lebih besar bagi sektor perkebunan nasional. Dalam rantai pasok tersebut, kereta api memiliki peran penting menjaga distribusi bahan baku dari wilayah produksi menuju industri pengolahan secara aman, efisien, dan berkelanjutan.
Di sisi lain, perhatian terhadap kebijakan B50 Indonesia juga datang dari pasar internasional. Laporan Oilseeds: World Markets and Trade edisi Juli 2026 yang diterbitkan United States Department of Agriculture (USDA) memperkirakan produksi minyak sawit dunia pada tahun pemasaran 2026/2027 mencapai 81,44 juta ton.
Dari total produksi tersebut, Indonesia diproyeksikan menghasilkan sekitar 47,5 juta ton atau setara 58,3 persen dari produksi minyak sawit global. Laporan itu juga menyebut kebijakan B50 Indonesia, potensi El Niño, serta perkembangan harga minyak dunia menjadi faktor yang memengaruhi dinamika pasar minyak nabati global.
Sejalan dengan kebijakan pemerintah, KAI mulai menerapkan penggunaan B50 secara bertahap pada sarana berbasis diesel sejak 1 Juli 2026. Implementasi dilakukan pada lokomotif dan kereta pembangkit setelah melalui serangkaian pengujian, meliputi performa mesin, konsumsi bahan bakar, stabilitas pembakaran, emisi, kondisi filter, pelumas, hingga sistem bahan bakar.
"KAI memiliki peran pada dua bagian penting dalam ekosistem B50. Melalui layanan angkutan perkebunan, KAI membantu kelancaran distribusi komoditas sawit. Pada kegiatan operasional, KAI menggunakan B50 secara bertahap pada lokomotif dan kereta pembangkit dengan tetap mengutamakan keselamatan serta keandalan sarana," jelas Anne.
Ke depan, KAI akan terus memperkuat kapasitas layanan angkutan perkebunan melalui peningkatan kesiapan sarana, fasilitas bongkar muat, serta koordinasi dengan pelanggan dan para pemangku kepentingan. Langkah tersebut diarahkan untuk mendukung rantai pasok industri, memperluas pemanfaatan energi dalam negeri, sekaligus menjaga daya saing komoditas perkebunan Indonesia.
Menurut Anne, pertumbuhan angkutan perkebunan menjadi peluang bagi KAI untuk memperkuat peran logistik perkeretaapian dalam mendukung hilirisasi sawit sekaligus menopang program kemandirian energi nasional.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara