Eskalasi Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Minyak, Rupiah Dibuka Melemah 32 Poin

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 13:05 WIB
Nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp18.029 per dolar AS pada perdagangan Selasa (4/8/2026). (Riau Pos)
Nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp18.029 per dolar AS pada perdagangan Selasa (4/8/2026). (Riau Pos)

RADARBANYUWANGI.ID - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa (4/8/2026) pagi. Mata uang Garuda tercatat melemah 32 poin atau sekitar 0,18 persen menjadi Rp18.029 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.997 per dolar AS.

Pelemahan rupiah dipengaruhi sejumlah sentimen eksternal maupun domestik. Dari sisi global, kenaikan harga minyak mentah dunia kembali menjadi faktor yang membebani pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak dalam tren melemah pada perdagangan hari ini dengan kisaran Rp17.980 hingga Rp18.140 per dolar AS.

Menurutnya, kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang mulai berdampak terhadap sektor produksi kilang minyak. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi dunia.

Mengacu pada laporan Kantor Berita Anadolu, harga minyak mentah Brent sempat melonjak sekitar 25 persen sepanjang Juli 2026. Kenaikan tersebut dipicu konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran yang menggagalkan upaya perdamaian sementara serta memperbesar risiko gangguan distribusi energi, mulai dari Selat Hormuz hingga Laut Merah.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran terhadap kelancaran pengiriman minyak mentah beserta produk turunannya sehingga harga minyak bertahan tinggi dalam beberapa pekan terakhir.

Meski demikian, pada Senin (3/8/2026), harga minyak sempat terkoreksi lebih dari lima persen setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perundingan damai dengan Iran akan kembali dilanjutkan serta membatalkan rencana serangan militer terhadap negara tersebut.

Harga minyak Brent yang menjadi acuan internasional turun ke kisaran 83,40 dolar AS per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah sekitar enam persen menjadi 79,60 dolar AS per barel.

Namun, memasuki perdagangan Selasa, harga minyak Brent kembali menguat hingga berada di atas level 84 dolar AS per barel setelah sebelumnya ditutup di kisaran 83 dolar AS per barel.

Selain faktor global, tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Investor masih mencermati kondisi neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatatkan defisit.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 mengalami defisit sebesar 450 juta dolar AS. Nilai ekspor tercatat mencapai 25,46 miliar dolar AS, sedangkan impor mencapai 25,91 miliar dolar AS.

Rully menjelaskan, surplus neraca perdagangan selama ini menjadi salah satu penopang utama penguatan rupiah. Sebaliknya, ketika neraca perdagangan mengalami defisit, tekanan terhadap nilai tukar cenderung meningkat, terlebih arus modal asing di pasar saham maupun obligasi masih bergerak fluktuatif.

Ia menambahkan, defisit perdagangan saat ini dipengaruhi menyusutnya surplus sektor nonmigas, sementara defisit perdagangan migas terus melebar. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
rupiah