RADARBANYUWANGI.ID - Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (3/8/2026). Mata uang Garuda naik 25 poin atau 0,14 persen menjadi Rp17.997 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.022 per dolar AS.
Penguatan rupiah didorong oleh membaiknya sejumlah indikator ekonomi domestik, terutama sektor manufaktur. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan, kenaikan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia menjadi salah satu faktor utama yang memberikan sentimen positif bagi pasar.
Berdasarkan laporan S&P Global Indonesia, PMI manufaktur Indonesia meningkat ke level 50,2 pada Juli 2026, setelah sebelumnya berada di angka 46,9 pada Juni 2026. Capaian tersebut menandakan aktivitas manufaktur kembali memasuki fase ekspansi karena telah berada di atas ambang batas 50.
"Angka di atas level 50 menunjukkan kondisi operasional manufaktur kembali membaik pada awal kuartal III 2026," ujar Ibrahim, dikutip Antara.
Perbaikan aktivitas manufaktur juga ditopang oleh meningkatnya volume produksi setelah selama empat bulan berturut-turut mengalami kontraksi. S&P Global mencatat peningkatan produksi dipicu oleh mulai pulihnya permintaan pasar dan meningkatnya kepercayaan pelanggan.
Meski demikian, pelaku industri masih menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku yang dinilai membatasi laju ekspansi sektor manufaktur.
Selain itu, sentimen positif bagi rupiah turut datang dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Indonesia mencatat deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan atau month to month (MtM) pada Juni 2026. Kondisi tersebut berbalik dari bulan sebelumnya yang mencatat inflasi sebesar 0,44 persen.
Dari sisi eksternal, pasar juga merespons perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan militer besar-besaran terhadap Iran setelah sejumlah negara di kawasan tersebut meminta tambahan waktu untuk melanjutkan proses negosiasi.
Menurut Ibrahim, keputusan itu langsung memengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Harga minyak turun lebih dari 5 dolar AS per barel pada awal perdagangan Asia sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Penurunan harga minyak dinilai mampu mengurangi tekanan inflasi dunia sekaligus menurunkan ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat di berbagai negara.
Sejalan dengan penguatan rupiah di pasar spot, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan apresiasi. Pada perdagangan Senin, JISDOR tercatat berada di level Rp17.991 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp18.058 per dolar AS.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara