Jajanan Viral Masih Digemari, Pelaku UMKM Dituntut Kreatif Hadapi Persaingan Industri Kuliner

M Humam Naufal • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 15:47 WIB
Warga mengunjungi Festival UMKM yang digelar dalam rangkaian BEC 2025 di kawasan Taman Blambangan Banyuwangi tahun lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Warga mengunjungi Festival UMKM yang digelar dalam rangkaian BEC 2025 di kawasan Taman Blambangan Banyuwangi tahun lalu. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Tren jajanan kekinian masih menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kuliner. Berbagai produk makanan ringan dengan konsep baru terus bermunculan dan mendapat respons positif dari masyarakat, terutama kalangan muda yang aktif mengikuti perkembangan tren melalui media sosial.

Pelaku usaha tidak lagi hanya mengandalkan cita rasa sebagai daya tarik utama. Tampilan produk yang menarik, kemasan yang lebih modern, hingga strategi pemasaran digital kini menjadi bagian penting untuk memenangkan persaingan pasar yang semakin kompetitif.

Beragam jajanan viral seperti mochi donut, croffle, dessert box, dan dimsum premium menjadi contoh bagaimana inovasi mampu menciptakan peluang bisnis baru. Di sisi lain, jajanan tradisional juga kembali diminati setelah dikreasikan dengan varian rasa, topping, dan penyajian yang lebih kekinian tanpa menghilangkan karakter khasnya.

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (Akumandiri), Hermawan Kartajaya, menilai sektor kuliner menjadi salah satu industri yang berkembang paling cepat karena mampu mengikuti perubahan selera konsumen.

"Pelaku UMKM harus terus berinovasi. Produk yang baik saja belum cukup, tetapi juga harus mampu dipasarkan dengan strategi yang tepat agar bisa bertahan di tengah persaingan," ujarnya dalam berbagai kesempatan membahas perkembangan UMKM.

Perubahan pola pemasaran juga menjadi faktor penting dalam mendorong pertumbuhan usaha kuliner. Konten video pendek yang menampilkan proses pembuatan makanan, tekstur produk, hingga ulasan pelanggan terbukti efektif meningkatkan minat konsumen. Tidak sedikit usaha rumahan yang kemudian berkembang menjadi bisnis dengan omzet puluhan hingga ratusan juta rupiah setiap bulan berkat promosi digital yang konsisten.

Selain inovasi menu, pelaku usaha kini semakin memperhatikan kualitas pelayanan dan pengalaman konsumen. Kemasan yang lebih menarik serta pelayanan yang cepat menjadi nilai tambah yang turut memengaruhi keputusan pembelian sekaligus membangun loyalitas pelanggan.

Sementara itu, makanan tradisional seperti cilok, cireng, telur gulung, kue cubit, klepon, dan serabi kembali mendapat ruang di pasar setelah hadir dalam konsep yang lebih modern. Inovasi tersebut dinilai mampu memperkenalkan kembali kuliner khas Indonesia kepada generasi muda tanpa menghilangkan cita rasa autentiknya.

Meski peluang bisnis masih terbuka luas, persaingan di sektor kuliner juga semakin ketat. Pelaku UMKM dituntut menjaga kualitas bahan baku, kebersihan proses produksi, serta konsistensi rasa agar mampu mempertahankan kepercayaan konsumen dan mendorong pembelian berulang.

Pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM juga menilai digitalisasi menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan usaha kuliner. Pemanfaatan media sosial, layanan pesan antar, hingga sistem pembayaran digital dinilai mampu memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan daya saing UMKM di tengah perubahan perilaku konsumen.

Editor : Lugas Rumpakaadi
UMKM kuliner