RADARBANYUWANGI.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi bergerak variatif pada perdagangan Senin (3/8/2026) setelah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Meski dibuka menguat, pelaku pasar masih mencermati sejumlah faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan indeks sepanjang sesi perdagangan.
Pada awal perdagangan, IHSG naik 36,49 poin atau 0,59 persen ke level 6.272,62. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan turut menguat 6,05 poin atau 0,97 persen ke posisi 627,29.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, secara teknikal IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan selama mampu bertahan di atas area 6.200 hingga 6.180.
Menurut dia, apabila level tersebut tetap terjaga, IHSG berpotensi menguji resistance terdekat di kisaran 6.244. Jika mampu menembus level tersebut, penguatan dapat berlanjut menuju area 6.315 hingga 6.377.
Sebaliknya, apabila indeks kembali bergerak di bawah level 6.180, risiko pelemahan masih terbuka dengan potensi menguji area support pada level 6.186, 6.177 hingga 6.135.
Dari pasar global, optimisme investor ditopang oleh kinerja emiten teknologi Amerika Serikat. Laporan keuangan Amazon yang melampaui ekspektasi memicu reli pada saham-saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan sektor semikonduktor.
Namun, sentimen positif tersebut masih diimbangi kehati-hatian investor terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) kembali menegaskan bahwa suku bunga perlu dipertahankan pada level tinggi lebih lama untuk memastikan inflasi benar-benar kembali ke target.
Liza menilai kombinasi kinerja positif perusahaan teknologi dan ketidakpastian kebijakan suku bunga membuat pergerakan pasar tetap berlangsung secara selektif. Pernyataan bernada hawkish dari pejabat The Fed juga memperkuat ekspektasi bahwa peluang penurunan suku bunga dalam waktu dekat masih terbatas.
Di sisi lain, ketegangan hubungan dagang Amerika Serikat dan China kembali meningkat. Pemerintah AS memasukkan 43 perusahaan asal China ke dalam daftar larangan impor berdasarkan Uyghur Forced Labor Prevention Act (UFLPA) dengan alasan dugaan penggunaan tenaga kerja paksa di Xinjiang.
Pemerintah China mengecam kebijakan tersebut sebagai sanksi sepihak yang tidak berdasar dan menegaskan akan mengambil langkah untuk melindungi kepentingan perusahaan-perusahaannya. Kondisi ini dinilai berpotensi meningkatkan ketidakpastian perdagangan global, terutama pada sektor baterai kendaraan listrik, logam, elektronik, dan energi.
Dari kawasan Asia, Bank of Japan (BoJ) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 1,00 persen sesuai dengan ekspektasi pasar.
Sementara itu, dari dalam negeri, Danantara diperkirakan menunda rencana penerbitan obligasi dolar Amerika Serikat bertenor 20 dan 30 tahun. Keputusan tersebut dipengaruhi kondisi pasar obligasi global yang belum kondusif setelah lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury membuat investor meminta tingkat imbal hasil lebih tinggi dibanding target perusahaan.
Penundaan juga dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya defisit transaksi berjalan, serta sikap hati-hati investor terhadap rekam jejak Danantara yang masih tergolong baru.
Di sisi lain, pemerintah bersama DPR mempercepat pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Langkah tersebut diharapkan mampu memanfaatkan perpindahan arus modal global di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
PFII diproyeksikan dapat menarik sebagian dana family office global yang diperkirakan mencapai sekitar 3,2 triliun dolar Amerika Serikat melalui regulasi yang kompetitif, kepastian hukum, serta tata kelola berstandar internasional.
Pada perdagangan akhir pekan lalu, mayoritas bursa saham Eropa ditutup menguat. Indeks Euro Stoxx 50 naik 0,21 persen, DAX Jerman menguat 0,07 persen, dan CAC 40 Prancis bertambah 0,28 persen. Sementara itu, FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,27 persen.
Wall Street juga mencatat penguatan dengan indeks S&P 500 naik 0,70 persen menjadi 7.489,72, Nasdaq Composite menguat 0,60 persen ke level 28.274,20, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,53 persen menjadi 52.485,03.
Adapun pada perdagangan Asia pagi ini, mayoritas indeks bergerak melemah. Nikkei turun 1,55 persen, Shanghai Composite terkoreksi 0,66 persen, Hang Seng melemah 0,18 persen, Kospi merosot 3,76 persen, sedangkan Straits Times turun 0,15 persen.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara