Angin Kencang Mulai Mereda, Nelayan Muncar Kembali Melaut, Hasil Tangkapan Belum Maksimal

Ramada Kusuma Atmaja • Dipublikasikan Minggu, 2 Agustus 2026 | 01:00 WIB
HASIL TANGKAPAN: Seorang juragan kapal memindah ikan ekor merah dari perahu ke tempat penampungan khusus di Pelabuhan Muncar, Sabtu (1/8). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
HASIL TANGKAPAN: Seorang juragan kapal memindah ikan ekor merah dari perahu ke tempat penampungan khusus di Pelabuhan Muncar, Sabtu (1/8). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Setelah beberapa hari aktivitas penangkapan ikan nyaris terhenti akibat cuaca ekstrem, nelayan di Pelabuhan Perikanan Muncar, Banyuwangi, mulai kembali melaut. Meredanya angin kencang dan membaiknya kondisi perairan memberi harapan baru bagi para nelayan untuk kembali mencari nafkah, meski hasil tangkapan ikan sejauh ini masih belum optimal.

Sejak Sabtu (1/8), suasana di Pelabuhan Perikanan Muncar kembali menggeliat. Deretan kapal yang sebelumnya lebih banyak bersandar mulai meninggalkan dermaga satu per satu menuju wilayah penangkapan ikan di Selat Bali.

Sebelumnya, cuaca buruk yang melanda perairan Banyuwangi dan Selat Bali memaksa banyak nelayan menghentikan aktivitas melaut. Angin kencang yang disertai gelombang tinggi membuat mereka memilih bertahan di darat demi keselamatan.

Cuaca Membaik, Nelayan Kembali Beraktivitas

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim, tinggi gelombang di Selat Bali bagian utara diperkirakan mencapai sekitar 1 meter dengan kecepatan angin hingga 20 knot atau sekitar 37 kilometer per jam.

Sementara di Selat Bali bagian selatan hingga perairan selatan Banyuwangi, tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,6 meter atau masuk kategori sedang, dengan kecepatan angin mencapai 21 knot atau sekitar 38 kilometer per jam.

Meski kondisi tersebut mulai membaik dibanding beberapa hari sebelumnya, para nelayan tetap diminta berhati-hati karena perubahan cuaca masih berpotensi terjadi sewaktu-waktu.

Keselamatan Tetap Jadi Prioritas

Ali, salah seorang nelayan Muncar, mengaku baru kembali melaut setelah kondisi angin berangsur normal.

Menurutnya, selama cuaca buruk berlangsung, sebagian besar nelayan memilih tidak mengambil risiko karena keselamatan menjadi pertimbangan utama.

"Baru bisa kerja, Mas, karena sebelumnya angin kencang. Sekarang baru ada ikan," ujar Ali.

Ia mengatakan, keputusan menunda melaut memang berdampak pada penghasilan. Namun, keselamatan awak kapal tetap menjadi prioritas dibanding memaksakan diri menghadapi gelombang tinggi.

Hasil Tangkapan Belum Maksimal

Meski aktivitas melaut mulai kembali berjalan, hasil tangkapan ikan belum sepenuhnya pulih.

Ali menyebut jumlah ikan yang diperoleh saat ini masih relatif sedikit. Kendati demikian, kondisi tersebut sudah jauh lebih baik dibanding beberapa hari lalu ketika sebagian besar kapal sama sekali tidak beroperasi.

Para nelayan optimistis hasil tangkapan akan meningkat seiring datangnya musim ikan dalam beberapa pekan mendatang.

"Setelah tanggal 20 Jawa biasanya ikan mulai banyak," katanya.

Pengalaman para nelayan menunjukkan bahwa paruh kedua Agustus umumnya menjadi periode meningkatnya populasi ikan di sejumlah titik penangkapan di Selat Bali.

Pelabuhan Muncar Kembali Bergeliat

Membaiknya cuaca juga menghidupkan kembali aktivitas di Pelabuhan Perikanan Muncar.

Sejak pagi, nelayan terlihat menyiapkan perbekalan, memeriksa mesin kapal, memperbaiki jaring, hingga memastikan perlengkapan keselamatan sebelum berlayar.

Bagi mereka, kembalinya aktivitas melaut menjadi harapan untuk memulihkan pendapatan yang sempat terhenti akibat cuaca ekstrem.

BMKG Minta Nelayan Tetap Waspada

Meski kondisi laut mulai lebih bersahabat, nelayan tetap diimbau tidak mengabaikan informasi cuaca sebelum berangkat.

Prakiraan cuaca dan gelombang dari BMKG menjadi acuan utama dalam menentukan waktu melaut, mengingat dinamika cuaca di perairan Selat Bali dapat berubah dalam waktu singkat.

Dengan cuaca yang mulai membaik, nelayan berharap aktivitas penangkapan ikan dapat kembali normal. Namun, kewaspadaan tetap menjadi kunci agar produktivitas di laut dapat berjalan seiring dengan keselamatan para awak kapal. (ram/aif)

Editor : Ali Sodiqin
cuaca Banyuwangi hasil tangkapan bmkg selat bali Nelayan Muncar