Rupiah Menguat Tipis ke Rp18.074 per Dolar AS, Dibayangi Konflik AS-Iran

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 12:28 WIB
Rupiah menguat tipis 37 poin ke Rp18.074 per dolar AS pada perdagangan Jumat (31/7/2026). (Pexels/Ahsanjaya)
Rupiah menguat tipis 37 poin ke Rp18.074 per dolar AS pada perdagangan Jumat (31/7/2026). (Pexels/Ahsanjaya)

RADARBANYUWANGI.ID - Nilai tukar rupiah mencatatkan penguatan tipis pada perdagangan Jumat pagi (31/7/2026). Mata uang Garuda naik 37 poin atau sekitar 0,20 persen menjadi Rp18.074 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah ditutup di level Rp18.111 per dolar AS.

Penguatan tersebut terjadi setelah rupiah sempat tertekan pada perdagangan sebelumnya. Kendati demikian, pergerakan mata uang domestik masih dibayangi meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia dan mendorong pelaku pasar mengalihkan aset ke instrumen yang dinilai lebih aman (risk-off).

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, mengatakan dinamika pasar keuangan global saat ini sangat dipengaruhi eskalasi konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran.

"Lonjakan harga minyak dipicu oleh serangan militer AS terhadap Iran yang meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan memicu sentimen risk-off di pasar negara berkembang," ujar Josua kepada wartawan, Jumat (31/7/2026), dikutip Antara.

Ketegangan kedua negara memuncak setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan operasi militer terhadap sasaran di Iran pada Rabu malam (29/7). Langkah tersebut disebut sebagai respons atas dugaan upaya serangan Iran terhadap personel militer AS di kawasan Timur Tengah.

Aksi tersebut juga sejalan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menegaskan akan memberikan respons keras menyusul insiden serangan drone terhadap kapal tanker LNG milik AS di perairan Mesir.

Selain dipengaruhi faktor geopolitik, pasar keuangan global juga mencermati sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat yang menunjukkan perlambatan aktivitas ekonomi.

Data Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal II-2026 tercatat tumbuh 1,5 persen secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq). Angka tersebut melambat dibanding kuartal I-2026 yang mencapai 2,1 persen qoq dan lebih rendah dari proyeksi pasar sebesar 2 persen qoq.

Perlambatan juga terlihat pada data pengeluaran konsumen (Personal Spending) Juni 2026 yang tumbuh 0,3 persen secara bulanan (month-on-month/mom), turun dari 0,9 persen pada bulan sebelumnya dan sedikit di bawah ekspektasi pasar sebesar 0,4 persen.

Sementara itu, indikator inflasi pilihan Bank Sentral AS (The Fed), yakni PCE Price Index dan Core PCE Price Index, masing-masing melandai menjadi 3,7 persen dan 3,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juni 2026. Capaian tersebut masih berada dalam kisaran yang telah diperkirakan pelaku pasar.

Menurut Josua, kombinasi sentimen global dan kondisi ekonomi domestik membuat pergerakan rupiah masih akan berfluktuasi, meski tetap berada dalam rentang yang relatif terkendali.

"Kami memperkirakan rupiah akan bergerak pada kisaran Rp18.000 hingga Rp18.125 per dolar AS sepanjang hari ini," pungkasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
rupiah