Bersama BRI, Petani Kopi Asal Batang Sajikan Racikan Produk hingga Jangkau Pasar Dunia

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 08:59 WIB
Berawal dari Secangkir Kopi, Kingkaf Tembus AS hingga Jepang Berkat Transformasi UMKM. (Foto: BRI)
Berawal dari Secangkir Kopi, Kingkaf Tembus AS hingga Jepang Berkat Transformasi UMKM. (Foto: BRI)

RADAR BANYUWANGI – Secangkir kopi menjadi titik awal perubahan besar bagi Ika Yuanita. Berangkat dari kepeduliannya terhadap petani kopi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, perempuan tersebut mendirikan PT Kingkaf Makmur Sejahtera pada 2017. Delapan tahun berselang, kopi yang awalnya dipasarkan dari pintu ke pintu kini berhasil menembus pasar internasional, mulai Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Selandia Baru hingga Hong Kong.

Perjalanan itu bukan hanya tentang membangun merek kopi lokal, tetapi juga kisah transformasi sebuah usaha mikro yang mampu bertahan dari pandemi, beradaptasi dengan perubahan pasar, hingga berkembang melalui digitalisasi dan penguatan ekosistem bisnis.

Ika mengawali Kingkaf setelah melihat potensi kopi hasil panen petani Batang belum memperoleh nilai ekonomi maksimal. Keterbatasan pengetahuan mengenai pengolahan pascapanen membuat kualitas kopi belum mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Berangkat dari kondisi tersebut, ia memilih mendampingi petani sekaligus mengolah kopi agar memiliki nilai tambah sebelum dipasarkan.

Kisah Ika Yuanita, Bangkit dari Pandemi hingga Kopi Kingkaf Menembus Pasar Dunia. (Foto: BRI)
Kisah Ika Yuanita, Bangkit dari Pandemi hingga Kopi Kingkaf Menembus Pasar Dunia. (Foto: BRI)

Namun, membangun pasar bukan perkara mudah. Saat belum memiliki jaringan distribusi, Ika menawarkan produknya secara langsung kepada rekan, kenalan, hingga berbagai komunitas.

"Pada awalnya, proses penjualan kopi kami lakukan secara door to door melalui rekanan dan kenalan," kenang Ika.

Pendekatan sederhana itu perlahan membuahkan hasil. Permintaan mulai meningkat hingga Kingkaf berkembang menjadi bisnis kedai kopi dan restoran. Bahkan, usaha tersebut sempat mengoperasikan enam outlet sebagai bukti pertumbuhan bisnis yang cukup pesat.

Pandemi Jadi Titik Balik

Momentum itu berubah drastis ketika pandemi Covid-19 melanda. Pembatasan aktivitas masyarakat membuat operasional enam outlet mengalami tekanan besar sehingga Ika harus mengambil keputusan strategis.

Alih-alih bertahan pada model bisnis lama, ia mengubah arah usaha dengan fokus menjual kopi dalam bentuk produk kemasan melalui jaringan reseller.

Langkah tersebut menjadi titik balik bagi Kingkaf. Produk yang sebelumnya bergantung pada kunjungan pelanggan ke kedai kini dapat menjangkau konsumen lebih luas sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat yang bergabung sebagai mitra penjualan.

Seiring berkembangnya jaringan reseller, kebutuhan bisnis pun semakin kompleks. Tidak hanya soal produksi, tetapi juga pengelolaan transaksi, pemasaran digital, hingga permodalan.

Untuk mendukung operasional, Ika memanfaatkan layanan transaksi digital dan QRIS BRI, serta pembiayaan mikro untuk menjaga kelancaran usaha.

"QRIS sangat membantu karena transaksi penjualan dapat diproses dengan cepat. Untuk kebutuhan permodalan, proses pembiayaan mikro BRI juga mudah dan cepat sehingga mendukung operasional usaha kami," ujarnya.

Rumah BUMN Ubah Cara Pandang Berbisnis

Transformasi Kingkaf semakin kuat ketika Ika bergabung dengan Rumah BUMN BRI Semarang pada 2020 setelah memperoleh rekomendasi dari sesama pelaku UMKM.

Melalui berbagai pelatihan, ia mempelajari digitalisasi bisnis, manajemen keuangan, akses permodalan, legalitas produk hingga strategi pemasaran.

Yang paling berkesan baginya justru perubahan cara berpikir dalam membangun usaha.

"Petugas BRI sangat terbuka dan sangat ramah saat saya berminat masuk rumah pendampingan mereka. Di sana, saya merasa peran Rumah BUMN BRI Semarang sangat besar dalam mendukung perkembangan usaha saya. Dari berbagai pembelajaran yang diperoleh, pola pikir saya berubah. Menjual produk ternyata tidak cukup hanya dengan menawarkan kualitas, tetapi juga harus memberikan solusi bagi kebutuhan konsumen," ungkapnya.

Selain memperoleh ilmu, Ika juga mendapatkan jejaring antarpelaku usaha yang membuka peluang kolaborasi.

"Di Rumah BUMN BRI Semarang, kami dapat saling mendukung, bertukar pengalaman, dan membuka peluang kolaborasi. Jadi, bukan hanya belajar mengenai bisnis, tetapi juga bertumbuh bersama pelaku UMKM lainnya," katanya.

Kini Tembus Pasar Global

Bekal pengetahuan, akses pembiayaan, digitalisasi, dan jaringan bisnis menjadi fondasi pertumbuhan Kingkaf pada fase berikutnya.

Berbasis produksi di Semarang dengan melibatkan 12 tenaga kerja, Kingkaf kini memasarkan produknya melalui situs resmi dan berbagai platform e-commerce nasional.

Jangkauan pasarnya pun meluas hingga luar negeri. Produk kopi Kingkaf kini telah dipasarkan ke Amerika Serikat, Jepang, Singapura, Selandia Baru, dan Hong Kong.

Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa produk berbasis potensi lokal mampu bersaing di pasar internasional ketika didukung inovasi, pengelolaan usaha yang konsisten, serta ekosistem pemberdayaan yang tepat.

Secara terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan potensi UMKM Indonesia untuk menembus pasar global memerlukan dukungan menyeluruh, mulai dari akses pembiayaan, legalitas usaha, digitalisasi, hingga perluasan jejaring dan akses pasar.

"Melalui program pemberdayaan Rumah BUMN, BRI menghadirkan ruang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas, bertukar pengalaman, dan membuka peluang kolaborasi. Ekosistem ini diharapkan dapat membantu UMKM membangun fondasi usaha yang lebih kuat agar mampu tumbuh secara berkelanjutan," ujarnya.

Menurut Akhmad, pertumbuhan UMKM tidak hanya memperkuat daya saing produk lokal, tetapi juga menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas melalui peningkatan kapasitas produksi, penyerapan tenaga kerja, serta pergerakan ekonomi di daerah. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Kingkaf Ika Yuanita kopi Batang UMKM BRI rumah BUMN