Pengembangan Berbasis Transit Dorong Nilai Aset dan Aktivitas Ekonomi, MRT Jakarta Paparkan Strateginya

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 06:18 WIB
PT MRT Jakarta mencatat 567.633 penumpang memanfaatkan tarif khusus Rp1 selama perayaan HUT ke-499 DKI Jakarta. (Pexels/kevin yung)
MRT Jakarta menilai pengembangan berbasis transit atau TOD mampu menciptakan efek ganda bagi perekonomian. (Pexels/kevin yung)

RADARBANYUWANGI.ID - PT MRT Jakarta (Perseroda) menilai pengembangan kawasan berbasis transit atau Transit Oriented Development (TOD) mampu memberikan efek ganda terhadap pertumbuhan ekonomi sekaligus mendorong regenerasi kawasan perkotaan di sekitar stasiun transportasi massal.

TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi, mengatakan konsep pengembangan kawasan di sekitar stasiun tidak hanya berfungsi sebagai pusat mobilitas masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak aktivitas ekonomi baru yang memberikan manfaat jangka panjang.

Menurutnya, pengembangan kawasan TOD mampu menghasilkan multiplier effect melalui transformasi ruang transit menjadi pusat aktivitas perkotaan yang lebih produktif.

"Dampaknya antara lain meningkatnya tingkat okupansi bangunan, munculnya berbagai tipologi usaha komersial baru, hingga bertambahnya jumlah pengguna MRT," ujar Sagita, Kamis (30/7/2026), dikutip Antara.

Ia menjelaskan, MRT Jakarta diposisikan sebagai katalis regenerasi perkotaan melalui penyediaan transportasi publik yang andal, integrasi antarmoda, revitalisasi ruang publik, serta penguatan pertumbuhan ekonomi berbasis konektivitas.

Dalam implementasinya, MRT Jakarta memiliki sejumlah fokus strategis dalam pengembangan TOD. Salah satunya adalah memperkuat konektivitas pejalan kaki melalui integrasi yang mulus antara stasiun dengan berbagai bangunan di sekitarnya. Selain itu, pengembangan infrastruktur pendukung, termasuk sistem parkir beserta operasional dan pemeliharaannya, juga menjadi perhatian utama.

Pengembangan kawasan dengan konsep mixed-use turut menjadi prioritas. Melalui pendekatan tersebut, fungsi komersial, hunian, dan ruang publik diintegrasikan dalam satu kawasan. Salah satu contoh penerapannya adalah Transport Hub Dukuh Atas yang dirancang menjadi pusat aktivitas masyarakat sekaligus simpul transportasi modern.

Selain itu, MRT Jakarta juga mengoptimalkan pemanfaatan aset di sekitar kawasan transit. Langkah tersebut dilakukan melalui peningkatan nilai aset milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kolaborasi dengan badan usaha milik daerah lainnya, serta kerja sama dengan sektor swasta dalam pengembangan kawasan.

Di sisi lain, komersialisasi kawasan transit juga menjadi strategi untuk menciptakan infrastruktur yang mampu menopang keberlanjutan pendanaan secara mandiri. Contohnya terlihat pada kawasan Blok M Hub yang kini berkembang menjadi pusat transit modern dengan beragam aktivitas komersial yang terintegrasi dan inklusif.

Sagita menambahkan, pengembangan TOD juga memiliki potensi besar dalam mendukung sektor pariwisata perkotaan di Jakarta. Salah satu contohnya adalah pengembangan kawasan Dukuh Atas yang dilengkapi Pedestrian Deck dengan konektivitas langsung ke berbagai moda transportasi publik, termasuk kereta bandara.

Melalui integrasi tersebut, wisatawan yang tiba dari Bandara Soekarno-Hatta dapat langsung menuju pusat kota menggunakan kereta bandara dan melanjutkan perjalanan dengan mudah ke berbagai destinasi melalui kawasan Dukuh Atas. Kawasan tersebut juga dikembangkan dengan konsep mixed-use yang dilengkapi fasilitas hotel.

Menurut Sagita, konektivitas yang semakin terintegrasi akan meningkatkan minat masyarakat menggunakan transportasi umum sekaligus mendorong aktivitas berjalan kaki. Karena itu, penyediaan jalur pedestrian yang aman, nyaman, dan terhubung menjadi aspek penting dalam mendukung keberhasilan pengembangan kawasan berbasis transit di Jakarta.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Transit Oriented Development Pengembangan Perkotaan transportasi publik mrt jakarta tod