BRI Peduli Bekali 50 PMI di Taiwan Jadi Calon Pengusaha, Remitansi Didorong Jadi Modal Usaha

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 13:55 WIB
BRI bekali PMI di Taiwan dengan kewirausahaan dan literasi keuangan untuk bangun usaha produktif. (Foto: BRI)
BRI bekali PMI di Taiwan dengan kewirausahaan dan literasi keuangan untuk bangun usaha produktif. (Foto: BRI)

RADAR BANYUWANGI - Bukan sekadar bekerja dan mengirim uang ke kampung halaman. Puluhan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan kini didorong naik kelas menjadi calon wirausahawan. Melalui program pemberdayaan BRI Peduli, sebanyak 50 PMI mendapat bekal kewirausahaan, literasi keuangan, hingga strategi pemasaran digital agar siap membangun usaha produktif setelah kembali ke Indonesia.

Program yang merupakan bagian dari komitmen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) BRI tersebut resmi dimulai melalui kick-off di Heelung District Fishermen’s Association, Keelung City, Taiwan, Minggu (26/7/2026).

Peserta program berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mereka tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga pendampingan bisnis secara modular agar ide usaha yang disusun selama program dapat benar-benar diterapkan dan dikembangkan secara berkelanjutan.

Materi yang diberikan dirancang praktis dan aplikatif. Mulai dari membangun mindset kewirausahaan, memvalidasi ide bisnis, memahami literasi keuangan dan pengelolaan remitansi, menyusun business plan, hingga mengelola aspek produksi, pemasaran, dan keuangan usaha.

Peserta juga dibekali kemampuan branding dan pemasaran digital. Dengan bekal tersebut, PMI diharapkan tidak sekadar menjadi penerima manfaat program, tetapi mampu mengubah pengalaman bekerja di luar negeri dan pendapatan yang diperoleh menjadi pijakan untuk membangun kemandirian ekonomi.

Program ini juga menjadi ruang untuk memperkuat jejaring usaha antarsesama PMI. Selain itu, BRI memperkenalkan sejumlah layanan yang dapat dimanfaatkan para pekerja migran, mulai dari layanan remitansi dan tabungan hingga akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk mendukung pengembangan usaha setelah mereka pulang ke Tanah Air.

Dari Taiwan, Menyiapkan Langkah Pulang sebagai Pengusaha

Salah satu peserta program adalah Sevi Astinih, PMI asal Indramayu, Jawa Barat. Bagi Sevi, kegiatan tersebut bukan sekadar forum pelatihan, melainkan kesempatan untuk memperluas wawasan sekaligus membangun jaringan dengan sesama PMI yang memiliki semangat serupa.

"Adanya acara ini sangat menyenangkan karena kami mendapat banyak pengalaman dan teman-teman baru sesama PMI di Taiwan. Melalui kegiatan ini, kami belajar bagaimana mengelola pendapatan, menyusun perencanaan keuangan, hingga memahami pentingnya investasi dan tabungan. Semua materi yang diberikan sangat bermanfaat bagi kami," tutur Sevi.

Bagi Sevi, materi yang diberikan juga relevan dengan kebutuhan PMI yang tengah mempersiapkan masa depan setelah masa kerja di luar negeri berakhir. Pengetahuan mengenai pengelolaan keuangan, investasi, hingga perencanaan bisnis semakin menguatkan keinginannya untuk kembali mengembangkan usaha di Indonesia.

"Saya memiliki cita-cita untuk kembali mengembangkan usaha saya di Indonesia yang sempat tertunda. Semoga teman-teman PMI lainnya juga semakin termotivasi. Saya merasa senang karena BRI Peduli bukan hanya hadir mendukung kami selama bekerja di luar negeri, tetapi juga mempersiapkan kehidupan kami setelah kembali ke Indonesia," ujar Sevi.

Kisah Sevi menjadi gambaran bahwa remitansi PMI memiliki potensi lebih besar jika dikelola secara produktif. Uang yang dikirim ke daerah asal tidak hanya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga diarahkan menjadi modal usaha yang mampu menciptakan sumber pendapatan baru.

Remitansi Bukan Sekadar untuk Konsumsi

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, pemberdayaan PMI merupakan bagian dari komitmen perseroan untuk menciptakan dampak sosial berkelanjutan melalui penguatan kapasitas ekonomi masyarakat Indonesia, termasuk warga negara yang bekerja di luar negeri.

"BRI meyakini bahwa remitansi yang dihasilkan oleh para PMI tidak hanya menjadi sumber penghidupan keluarga, tetapi juga dapat menjadi modal untuk membangun usaha yang produktif dan berkelanjutan," ujar Dhanny.

Menurut dia, program pemberdayaan tersebut dibangun dengan prinsip bahwa remitansi dapat menjadi instrumen untuk memperkuat kemandirian ekonomi, bukan hanya digunakan untuk konsumsi.

Karena itu, PMI didorong memiliki kemampuan menyusun rencana usaha yang terukur, menciptakan nilai tambah, membangun diferensiasi produk, serta memahami berbagai risiko bisnis yang mungkin muncul.

Langkah tersebut dinilai penting agar usaha yang dibangun setelah PMI kembali ke Indonesia tidak berhenti sebagai bisnis musiman, tetapi mampu tumbuh dan bertahan dalam jangka panjang.

"Kami berharap wadah ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh para peserta. Melalui inisiatif ini, BRI ingin mendorong Pekerja Migran Indonesia tidak hanya sukses selama bekerja di luar negeri, tetapi juga siap menjadi wirausahawan mandiri yang mampu menciptakan lapangan kerja dan memberikan manfaat bagi masyarakat di daerah asalnya," tegas Dhanny.

Melalui program BRI Peduli ini, perjalanan PMI di Taiwan diarahkan memiliki tujuan yang lebih panjang. Bukan hanya bekerja di negeri orang, tetapi juga menyiapkan bekal untuk pulang dengan keterampilan, jaringan, dan rencana usaha.

Pada akhirnya, remitansi yang selama ini menjadi bagian penting bagi ekonomi keluarga di daerah diharapkan dapat bertransformasi menjadi modal produktif. Dari tangan para PMI, uang hasil kerja di luar negeri berpeluang kembali ke Indonesia dalam bentuk usaha baru, lapangan pekerjaan, dan kemandirian ekonomi. (*)

Editor : Ali Sodiqin
PMI Taiwan Wirausaha PMI Remitansi PMI Pelatihan usaha bri peduli