IHSG Menguat Usai The Fed Tahan Suku Bunga, Investor Kembali Berani Masuk Pasar

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 10:00 WIB
IHSG dibuka menguat 0,31 persen pada perdagangan Kamis (30/7/2026) didorong sikap risk on investor setelah The Fed menahan suku bunga. (JawaPos.com)
IHSG dibuka menguat 0,31 persen pada perdagangan Kamis (30/7/2026) didorong sikap risk on investor setelah The Fed menahan suku bunga. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Kamis (30/7/2026) di zona hijau setelah bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Keputusan tersebut meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi pengetatan kebijakan moneter sehingga mendorong kembali minat pada aset berisiko, termasuk pasar saham Indonesia.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG menguat 18,89 poin atau 0,31 persen ke level 6.110,28. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 turut naik 2,52 poin atau 0,42 persen menjadi 609,04.

Penguatan ini menunjukkan sentimen pasar mulai membaik meski pelaku pasar masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya tensi geopolitik. Keputusan The Fed menjadi perhatian investor karena arah suku bunga AS berpengaruh terhadap arus modal global, nilai tukar, hingga pergerakan pasar saham di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan pergerakan IHSG pada perdagangan Kamis masih dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal, faktor domestik, dan aspek teknikal. Menurut dia, IHSG berpeluang kembali menguji level psikologis 6.000.

Dari pasar global, Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan The Fed di kisaran 3,5–3,75 persen, sesuai ekspektasi pasar. Keputusan itu menghilangkan sebagian kekhawatiran investor terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Namun, keputusan tersebut tidak diambil secara bulat. Tiga pejabat The Fed menyatakan berbeda pendapat dan menginginkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Perbedaan pandangan itu mencerminkan masih besarnya tantangan yang dihadapi bank sentral AS dalam mengendalikan inflasi di tengah tingginya volatilitas harga energi.

Di sisi lain, pasar obligasi masih memberikan sinyal kehati-hatian. Sejumlah pelaku pasar menilai The Fed berpotensi tertinggal dalam upaya menurunkan inflasi karena memilih mempertahankan suku bunga. Kondisi itu turut menjadi salah satu faktor yang membebani pergerakan Wall Street pada perdagangan sebelumnya.

Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komite tidak akan ragu mengambil langkah lanjutan apabila diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Meski demikian, pernyataan tersebut belum sepenuhnya mampu memulihkan kepercayaan pelaku pasar obligasi.

Selain kebijakan suku bunga, investor juga mencermati lonjakan harga minyak dunia. Minyak Brent ditutup naik lebih dari 7 persen ke sekitar 90 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat lebih dari 6 persen menjadi sekitar 84 dolar AS per barel.

Kenaikan dipicu meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan negaranya akan memberikan respons keras terhadap dugaan serangan terhadap pasukan AS. Lonjakan harga minyak berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global apabila berlangsung dalam waktu yang lebih panjang.

Dari dalam negeri, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan hasil evaluasi indeks IDXBUMN20 yang berlaku mulai 5 Agustus 2026 hingga 2 Februari 2027. Evaluasi kali ini tidak mengubah komposisi konstituen sehingga seluruh 20 saham tetap menjadi penghuni indeks.

Meski demikian, BEI melakukan penyesuaian jumlah saham yang digunakan dalam perhitungan indeks beserta bobot masing-masing emiten. Penyesuaian tersebut dilakukan untuk menjaga representasi indeks terhadap kondisi pasar terkini.

Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) terus memperkuat reformasi pasar modal menjelang tinjauan indeks MSCI pada November 2026. Upaya tersebut dilakukan melalui komunikasi dengan penyedia indeks global sekaligus mempercepat implementasi berbagai agenda reformasi.

OJK juga menargetkan Peraturan OJK (POJK) mengenai demutualisasi Bursa Efek Indonesia dapat diterbitkan pada pekan kedua September 2026. Regulasi itu tengah disusun sebagai aturan turunan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Pada perdagangan Rabu (29/7/2026), bursa saham Eropa ditutup bervariasi. Indeks Euro Stoxx 50 melemah 0,70 persen, DAX Jerman turun 0,01 persen, dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,60 persen. Sebaliknya, FTSE 100 Inggris masih menguat 0,34 persen.

Wall Street juga berakhir di zona merah. Indeks S&P 500 turun 2,19 persen menjadi 7.316,15, Nasdaq Composite melemah 2,06 persen ke level 27.192,31, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 2,19 persen menjadi 51.594,14.

Sementara itu, perdagangan bursa Asia pada Kamis pagi menunjukkan pergerakan yang beragam. Indeks Nikkei Jepang menguat 2,15 persen, sedangkan Shanghai Composite, Hang Seng, dan Strait Times masih bergerak melemah.

Meski IHSG berhasil dibuka menguat, arah pergerakan pasar diperkirakan masih fluktuatif. Investor akan terus mencermati perkembangan kebijakan moneter Amerika Serikat, dinamika harga minyak dunia, kondisi geopolitik di Timur Tengah, serta implementasi reformasi pasar modal Indonesia.

Jika sentimen global tetap kondusif dan agenda reformasi domestik berjalan sesuai rencana, optimisme terhadap pasar saham Indonesia berpeluang tetap terjaga. Namun, volatilitas masih berpotensi muncul seiring tingginya ketidakpastian ekonomi global dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
wall street journal ihsg bursa efek indonesia Pasar Modal the fed