Fenomena Concert Tourism Kian Berkembang, Daerah Berpeluang Raup Manfaat Ekonomi dari Event Musik

Loanda Ajeng Rossiani • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 09:35 WIB
Concert tourism menjadi tren baru yang mengubah cara masyarakat berwisata. (Unsplash/Abigail Lynn)
Concert tourism menjadi tren baru yang mengubah cara masyarakat berwisata. (Unsplash/Abigail Lynn)

RADARBANYUWANGI.ID - Ribuan penggemar musik kini tidak lagi ragu menempuh perjalanan lintas kota bahkan antarnegara hanya untuk menyaksikan penampilan musisi favorit secara langsung. Fenomena yang dikenal sebagai concert tourism atau wisata konser itu berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi salah satu tren baru di sektor pariwisata. Tak sekadar menghadirkan hiburan, gelaran konser berskala besar juga mampu menggerakkan roda ekonomi, mulai dari industri perhotelan, transportasi, kuliner, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Perubahan pola berwisata tersebut menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya generasi muda, kini lebih mengutamakan pengalaman dibanding sekadar mengunjungi destinasi wisata konvensional. Menonton konser secara langsung dinilai memberikan pengalaman emosional yang tidak dapat digantikan oleh tayangan digital maupun layanan streaming musik.

Meningkatnya minat terhadap wisata konser dipengaruhi perubahan perilaku konsumen yang semakin menghargai experience economy atau ekonomi berbasis pengalaman. Banyak penggemar rela menyusun anggaran khusus untuk membeli tiket, memesan hotel, hingga menyiapkan biaya perjalanan demi menyaksikan artis idola tampil di atas panggung.

Keterbatasan kuota tiket di kota asal juga mendorong penonton mencari kesempatan menghadiri konser di daerah atau negara lain. Akibatnya, perjalanan untuk menonton konser kini menjadi bagian dari agenda wisata yang direncanakan jauh hari.

Fenomena tersebut terlihat pada berbagai konser musisi internasional maupun nasional yang mampu menarik puluhan ribu penonton. Tiket sering kali habis terjual dalam waktu singkat sehingga banyak penggemar memilih berburu tiket di kota lain yang masih tersedia.

Maraknya wisata konser membawa dampak ekonomi yang luas bagi daerah penyelenggara. Kedatangan ribuan wisatawan meningkatkan permintaan terhadap hotel, penginapan, transportasi, restoran, pusat oleh-oleh, hingga layanan transportasi daring.

Hotel di sekitar lokasi konser bahkan kerap mencatat tingkat hunian mendekati penuh beberapa hari sebelum acara berlangsung. Restoran dan pelaku usaha kuliner memperoleh tambahan pelanggan, sementara UMKM memanfaatkan momentum tersebut dengan menjual berbagai produk suvenir maupun kebutuhan penonton.

Perputaran uang yang terjadi selama penyelenggaraan konser menciptakan multiplier effect karena melibatkan banyak sektor usaha dalam waktu yang relatif singkat. Tidak hanya pelaku industri hiburan yang memperoleh keuntungan, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor jasa dan perdagangan.

Di balik besarnya peluang ekonomi, wisata konser juga menghadirkan tantangan bagi pemerintah daerah dan penyelenggara acara. Lonjakan pengunjung dalam waktu bersamaan menuntut kesiapan infrastruktur transportasi, rekayasa lalu lintas, area parkir, hingga sistem keamanan yang memadai.

Pengelolaan arus penonton menjadi faktor penting untuk menghindari kemacetan maupun penumpukan massa di sekitar lokasi konser. Koordinasi antara penyelenggara, aparat keamanan, operator transportasi, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman dan nyaman.

Selain itu, transparansi harga tiket, tarif hotel, maupun biaya transportasi juga perlu menjadi perhatian. Pengawasan diperlukan untuk mencegah praktik kenaikan harga yang tidak wajar sehingga wisatawan tetap memperoleh pelayanan yang baik dan memiliki pengalaman positif selama berada di kota tujuan.

Sebagai daerah yang dikenal aktif mengembangkan sektor pariwisata berbasis event, Banyuwangi memiliki peluang memanfaatkan tren wisata konser untuk memperluas daya tarik wisata. Selama ini daerah tersebut telah sukses menyelenggarakan berbagai festival budaya dan olahraga yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Ke depan, penyelenggaraan konser musik berskala nasional yang didukung promosi, akses transportasi, serta kolaborasi dengan pelaku ekonomi kreatif berpotensi memperpanjang lama tinggal wisatawan. Dampaknya tidak hanya meningkatkan kunjungan, tetapi juga membuka peluang usaha bagi hotel, restoran, penyedia transportasi, hingga UMKM lokal.

Konsep tersebut dapat menjadi pelengkap kalender event daerah sehingga wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk berkunjung ke Banyuwangi sepanjang tahun.

Fenomena concert tourism membuktikan bahwa industri musik kini telah berkembang menjadi bagian penting dari ekosistem pariwisata modern. Keberhasilan sebuah daerah menjadi tuan rumah konser berskala besar bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memperkuat citra destinasi sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata berbasis pengalaman, tren wisata konser diperkirakan akan terus berkembang. Daerah yang mampu menghadirkan event berkualitas, didukung infrastruktur yang memadai, pelayanan prima, serta tata kelola yang profesional, berpeluang memperoleh manfaat ekonomi yang berkelanjutan sekaligus memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata unggulan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
concert tourism wisata konser pariwisata