Klaim AS Gagalkan Serangan Iran, Harga Minyak Dunia Sempat Melonjak 5 Persen

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 09:09 WIB
Harga minyak dunia melonjak setelah AS mengklaim berhasil mencegat serangan rudal Iran di Timur Tengah. (Pexels/Erik McLean)
Harga minyak dunia melonjak setelah AS mengklaim berhasil mencegat serangan rudal Iran di Timur Tengah. (Pexels/Erik McLean)

RADARBANYUWANGI.ID - Harga minyak mentah dunia kembali bergejolak setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat. Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat (AS) sempat melonjak sekitar 5 persen pada perdagangan Selasa (29/7/2026) malam waktu setempat menyusul klaim Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) yang menyatakan berhasil menggagalkan serangan rudal dari Iran.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman September sempat menyentuh level 83,30 dolar AS per barel atau naik sekitar 5,1 persen. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama karena kenaikannya kemudian menyusut menjadi sekitar 3 persen seiring respons pasar terhadap perkembangan situasi.

Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X, CENTCOM menyebutkan bahwa pada pukul 17.45 Eastern Time, pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) meluncurkan beberapa rudal balistik dari Iran sebagai bagian dari upaya serangan mendadak terhadap pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan di Timur Tengah.

CENTCOM menegaskan seluruh rudal tersebut berhasil dicegat sehingga tidak menimbulkan dampak terhadap pasukan AS. Militer Amerika juga menyatakan seluruh personelnya tetap berada dalam kondisi siaga tinggi untuk mengantisipasi kemungkinan eskalasi lanjutan.

Klaim tersebut langsung memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi terganggunya pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang selama ini menjadi salah satu wilayah produsen minyak terbesar di dunia. Kekhawatiran itu mendorong kenaikan harga minyak karena investor kembali memasukkan faktor risiko geopolitik ke dalam perhitungan pasar.

Meski sempat menguat tajam, harga minyak belum sepenuhnya pulih dari tekanan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Pada penutupan perdagangan Selasa, baik minyak mentah WTI maupun Brent untuk pengiriman September masih tercatat turun lebih dari 4 persen dibandingkan sesi sebelumnya.

Sebelum insiden tersebut, harga minyak berada dalam tren melemah. Pasar merespons positif jeda serangan antara Amerika Serikat dan Iran, dimulainya kembali negosiasi bilateral, serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia.

Optimisme terhadap membaiknya situasi keamanan di kawasan membuat harga minyak mentah berjangka terkoreksi tajam dalam tiga sesi perdagangan berturut-turut.

Namun, analis pasar dari platform perdagangan Tradu, Nikos Tzabouras, menilai risiko geopolitik masih menjadi faktor utama yang dapat mengubah arah pasar dalam waktu singkat.

Menurutnya, premi risiko pada harga minyak berpotensi kembali meningkat apabila ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut. Kondisi tersebut bahkan dapat mendorong harga minyak kembali menembus level 100 dolar AS per barel apabila konflik berkembang menjadi lebih luas.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
WTI timur tengah iran harga minyak dunia as