KAI Pangkas Konsumsi Energi 15,39 Persen Meski Layani Lebih dari 503 Juta Penumpang

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 08:23 WIB
Konsumsi energi PT KAI turun 15,39 persen sepanjang 2025 meski jumlah pelanggan dan angkutan barang meningkat. (Antara)
Konsumsi energi PT KAI turun 15,39 persen sepanjang 2025 meski jumlah pelanggan dan angkutan barang meningkat. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah lonjakan aktivitas operasional yang melayani lebih dari setengah miliar pelanggan, PT Kereta Api Indonesia (KAI) justru berhasil memangkas konsumsi energi secara signifikan sepanjang 2025. Penggunaan energi perusahaan turun 15,39 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan efisiensi yang terus meningkat tanpa mengurangi kualitas pelayanan maupun keandalan operasional.

Data dalam Laporan Keberlanjutan KAI 2025 mencatat total konsumsi energi perusahaan turun dari 11.945.467 gigajoule (GJ) pada 2024 menjadi 10.107.302 GJ pada 2025. Dengan demikian, KAI berhasil mengurangi penggunaan energi sebesar 1.838.165 GJ dalam satu tahun.

Capaian tersebut diraih ketika KAI tetap melayani 503.549.740 pelanggan dan mengangkut 69.571.601 ton barang sepanjang 2025. Penurunan konsumsi energi di tengah meningkatnya skala pelayanan menjadi indikator bahwa efisiensi operasional perusahaan terus membaik.

Efisiensi energi menjadi salah satu ukuran penting bagi sektor transportasi karena berkaitan langsung dengan biaya operasional, emisi karbon, serta keberlanjutan layanan. Semakin rendah energi yang dibutuhkan untuk melayani setiap pelanggan maupun mengangkut barang, semakin efisien pula sistem operasional yang dijalankan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan, penggunaan satuan gigajoule dilakukan agar seluruh sumber energi yang digunakan perusahaan dapat dihitung dalam ukuran yang sama.

Listrik dari PLN maupun panel surya pada awalnya dicatat dalam satuan kilowatt hour (kWh), sedangkan bensin, solar, dan biosolar menggunakan satuan liter. Agar seluruh data dapat dijumlahkan dan dibandingkan, semuanya dikonversi ke dalam satuan gigajoule sesuai standar pelaporan keberlanjutan Global Reporting Initiative (GRI).

"Karena listrik dan bahan bakar memiliki ukuran awal yang berbeda, semuanya lebih dahulu dikonversi ke gigajoule. Dengan begitu, KAI dapat mengetahui total energi yang benar-benar digunakan dan membandingkan tingkat efisiensinya dari tahun ke tahun," jelas Anne, dikutip Antara.

Dalam perhitungan tersebut, satu liter bensin setara 0,0342 GJ, satu liter solar maupun biosolar setara 0,0379 GJ, sedangkan satu kWh listrik dikonversi menjadi 0,0036 GJ. Acuan konversi bahan bakar menggunakan pedoman inventarisasi gas rumah kaca nasional, sementara konversi listrik mengacu pada referensi sektor ketenagalistrikan dan standar energi internasional.

Efisiensi tidak hanya terlihat dari total konsumsi energi, tetapi juga dari kebutuhan energi untuk menghasilkan layanan.

Pada layanan penumpang, intensitas energi turun dari 0,0263 GJ per pelanggan pada 2024 menjadi 0,0205 GJ pada 2025. Artinya, energi yang dibutuhkan untuk melayani setiap pelanggan menjadi 22,05 persen lebih hemat dibandingkan tahun sebelumnya.

Anne menegaskan, angka tersebut bukan berarti setiap pelanggan secara langsung menggunakan energi sebesar 0,0205 GJ. Nilai itu diperoleh dari pembagian total energi yang digunakan perusahaan selama satu tahun dengan jumlah pelanggan yang dilayani. Semakin kecil angkanya, semakin efisien penggunaan energi dalam menghasilkan pelayanan.

Efisiensi serupa juga terjadi pada layanan angkutan barang. Kebutuhan energi turun dari 0,1726 GJ menjadi 0,1453 GJ untuk setiap ton barang yang diangkut atau lebih hemat 15,82 persen dibandingkan 2024.

Sementara itu, intensitas energi terhadap pendapatan juga membaik. Rasio penggunaan energi turun dari 0,3308 GJ per Rp miliar pendapatan menjadi 0,2826 GJ per Rp miliar atau meningkat efisiensinya sebesar 14,57 persen.

Penghematan energi turut diperkuat melalui pemanfaatan energi baru terbarukan. Hingga 2025, KAI telah mengoperasikan 113 unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di 92 lokasi yang terdiri atas 62 stasiun, 10 balai yasa, 10 kantor, enam griya karya, tiga depo, dan satu record center.

Total kapasitas PLTS yang terpasang mencapai 4.430,65 kilowatt peak (kWp) atau sekitar 4,43 megawatt peak (MWp). Pemanfaatannya diperkirakan mampu mengurangi emisi lebih dari 5.000 ton karbon dioksida setiap tahun.

Energi yang dihasilkan panel surya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan penerangan, peralatan elektronik, ruang pelayanan, kantor, hingga berbagai fasilitas pendukung operasional sehingga sebagian kebutuhan listrik tidak lagi sepenuhnya bergantung pada jaringan konvensional.

Selain itu, sejak 1 Juli 2026 KAI mulai menjalankan uji terap biodiesel B50 selama tiga bulan. Bahan bakar tersebut merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis nabati dan 50 persen diesel.

Pengujian dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan B50 terhadap performa mesin, konsumsi bahan bakar, sistem penyaringan, kebutuhan perawatan, serta keandalan sarana dalam berbagai kondisi operasi.

"B50 memiliki kandungan biodiesel yang lebih tinggi dibandingkan B40 yang digunakan sebelumnya. Karena itu, penerapannya perlu melalui pengujian dan evaluasi teknis agar tetap sesuai dengan persyaratan keselamatan, kesiapan sarana, dan keandalan perjalanan kereta api," ujar Anne.

Upaya efisiensi juga terlihat melalui pengembangan layanan angkutan barang berbasis rel. Dalam Laporan Keberlanjutan KAI 2025 disebutkan, satu rangkaian kereta barang mampu mengangkut sekitar 3.050 ton muatan.

Untuk mengangkut volume yang sama melalui jalan raya dibutuhkan sekitar 144 truk trailer. Perbandingan tersebut menunjukkan keunggulan transportasi berbasis rel dalam mengonsolidasikan muatan besar sekaligus menekan penggunaan bahan bakar, mengurangi kepadatan lalu lintas, serta menekan risiko kerusakan jalan akibat kendaraan bertonase tinggi.

Menurut Anne, kereta barang memberikan kapasitas angkut besar dengan jadwal yang terencana sehingga menjadi pilihan distribusi yang lebih efisien untuk perjalanan jarak menengah hingga jauh.

Pengelolaan sumber daya juga diperkuat melalui transformasi digital. Selama Semester I 2026, sebanyak 5.555.034 pelanggan kereta api jarak jauh telah memanfaatkan Face Recognition Boarding Gate.

Pemanfaatan teknologi tersebut diperkirakan mampu mengurangi penggunaan sekitar 13.888 rol kertas boarding pass dengan estimasi penghematan biaya mencapai Rp203,80 juta. Berdasarkan simulasi internal perusahaan, pengurangan penggunaan kertas itu setara dengan bahan baku sekitar 75 pohon.

Di sisi lain, KAI juga menyediakan 124 unit fasilitas air minum gratis di 58 stasiun yang tersebar di 70 area layanan. Pelanggan didorong membawa tumbler sehingga penggunaan botol plastik sekali pakai selama perjalanan dapat ditekan.

Memasuki Semester I 2026, skala pelayanan KAI Group terus meningkat. Jumlah pelanggan mencapai 258.993.359 orang atau naik 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 240.805.920 pelanggan. Pada saat yang sama, volume angkutan barang mencapai sekitar 32,50 juta ton.

Pertumbuhan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan untuk mempertahankan efisiensi penggunaan energi di tengah meningkatnya kebutuhan layanan.

"Fokus KAI adalah memastikan penambahan pelanggan dan volume barang dapat dilayani dengan penggunaan energi yang semakin efisien, tanpa mengurangi aspek keselamatan dan keandalan operasi," kata Anne.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
KAI efisiensi energi