RADARBANYUWANGI.ID - PT Pertamina (Persero) terus memperkuat langkah menuju ketahanan energi nasional melalui pengembangan energi baru terbarukan. Salah satu proyek strategis yang kini direalisasikan adalah pembangunan fasilitas produksi bioetanol di Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Pabrik bioetanol tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi mencapai 30 ribu kiloliter per tahun. Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi salah satu penopang pasokan bioetanol nasional sekaligus mendukung upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, mengatakan pembangunan fasilitas bioetanol di Glenmore merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan energi yang lebih bersih, berkelanjutan, dan ramah lingkungan.
Menurutnya, proyek tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang terus mendorong pemanfaatan campuran bioetanol dalam bahan bakar minyak melalui implementasi program E5 hingga E20.
Pengembangan bioetanol di Indonesia juga mendapat dukungan kuat dari pemerintah pusat. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menargetkan pembangunan sekitar 30 hingga 50 pabrik etanol baru di berbagai daerah sebagai upaya mempercepat pemanfaatan energi berbasis bahan bakar nabati.
Pemerintah optimistis Indonesia mampu mengikuti keberhasilan sejumlah negara yang telah lebih dahulu menerapkan bioetanol sebagai bahan bakar kendaraan, seperti India dengan program E20 serta Brasil yang telah mengimplementasikan E100. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah, Indonesia dinilai memiliki peluang besar mencapai target penggunaan E20 dalam beberapa tahun mendatang.
Untuk mendukung program tersebut, Pertamina memastikan kesiapan infrastruktur operasional dan rantai pasok. VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyebut perusahaan telah menyiapkan berbagai fasilitas penunjang agar distribusi bioetanol dapat berjalan optimal.
"Pertamina telah menyiapkan infrastruktur blending, terminal BBM, serta fasilitas distribusi," ujarnya, dikutip Antara.
Baron menjelaskan implementasi penggunaan bioetanol sebenarnya telah dimulai secara bertahap melalui pemasaran Pertamax Green 95 oleh PT Pertamina Patra Niaga. Produk tersebut merupakan bahan bakar dengan campuran lima persen bioetanol berbahan baku tebu atau E5.
Saat ini Pertamax Green 95 telah dipasarkan di 177 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang tersebar di berbagai wilayah Pulau Jawa. Distribusi tersebut menjadi tahap awal sebelum pemanfaatan bioetanol diperluas sesuai arah kebijakan pemerintah.
Selain itu, Pertamina memastikan seluruh produk bahan bakar nabati yang dipasarkan telah memenuhi standar mutu sesuai ketentuan yang berlaku.
"Pertamina memastikan setiap produk yang dipasarkan memenuhi standar kualitas dan spesifikasi yang telah ditetapkan pemerintah, sehingga dapat disalurkan kepada masyarakat secara aman dan andal," tegas Baron.
Pembangunan pabrik bioetanol di Glenmore sekaligus memperkuat posisi Banyuwangi sebagai daerah strategis dalam pengembangan energi baru terbarukan. Selain dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan tebu, Banyuwangi kini diproyeksikan menjadi bagian penting dalam rantai pasok bioetanol nasional yang mendukung terwujudnya kemandirian energi Indonesia di masa depan.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara