Harga Sembako Jatim 24 Juli 2026: Daging dan Bawang Turun, Minyak Goreng Naik

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 14:13 WIB
SEPI: Salah satu pedagang di Pasar Banyuwangi mengeluhkan omzet penjualannya yang terus menurun akibat kenaikan harga sembako Selasa (27/2).
ILUSTRASI: Harga sembako Jatim 24 Juli 2026 bergerak fluktuatif. Daging dan bawang turun, sementara minyak goreng curah serta telur mengalami kenaikan.

RADAR BANYUWANGI – Harga kebutuhan pokok di Jawa Timur kembali bergerak pada Jumat, 24 Juli 2026. Harga daging sapi, daging ayam kampung, cabai rawit merah, bawang putih, dan bawang merah terpantau turun. Sebaliknya, minyak goreng curah serta sejumlah komoditas telur mengalami kenaikan.

Perubahan harga tersebut menjadi perhatian masyarakat yang tengah mengatur kebutuhan belanja rumah tangga. Berdasarkan pantauan Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur pada Jumat (24/7/2026) pukul 09.31 WIB, pergerakan harga terjadi pada sejumlah komoditas pangan strategis.

Penurunan paling besar secara persentase terjadi pada bawang putih jenis Sinco/Honan, yakni Rp452 atau 1,40 persen. Sementara itu, daging ayam kampung turun Rp836 atau 1,21 persen.

Di sisi lain, minyak goreng curah mengalami kenaikan Rp260 atau 1,29 persen. Harga telur ayam kampung dan telur ayam ras juga bergerak naik meski dalam persentase relatif terbatas.

Bagi masyarakat, memantau harga sembako setiap hari penting dilakukan untuk menyusun anggaran belanja sekaligus mengantisipasi perubahan pengeluaran akibat fluktuasi harga pangan.

Harga Sembako Jatim Hari Ini

Berikut daftar harga rata-rata kebutuhan pokok di Jawa Timur berdasarkan data Siskaperbapo per Jumat, 24 Juli 2026:

Daging dan Bawang Kompak Turun

Pergerakan harga komoditas pangan di Jawa Timur pada hari ini cukup beragam. Sejumlah bahan pangan utama justru memberikan sedikit ruang bagi konsumen karena mengalami penurunan harga.

Daging sapi paha belakang turun Rp170 atau 0,13 persen. Harga rata-ratanya kini berada di angka Rp127.026 per kilogram.

Penurunan lebih terasa pada daging ayam kampung yang terkoreksi Rp836 atau 1,21 persen menjadi Rp68.449 per ekor.

Kelompok bumbu dapur juga mencatat penurunan. Bawang putih Sinco/Honan turun Rp452 atau 1,40 persen menjadi Rp31.711 per kilogram.

Kemudian, bawang merah turun Rp173 atau 0,54 persen menjadi Rp31.954 per kilogram.

Harga cabai rawit merah turut melandai Rp223 atau 0,58 persen menjadi Rp38.493 per kilogram.

Penurunan harga pada komoditas tersebut menjadi kabar positif bagi masyarakat karena daging, cabai, dan bawang merupakan bahan yang cukup sering digunakan dalam kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Minyak Goreng Curah Naik

Di tengah penurunan sejumlah komoditas, harga minyak goreng curah justru bergerak naik.

Harga rata-rata minyak goreng curah naik Rp260 atau 1,29 persen menjadi Rp20.474 per kilogram.

Kenaikan juga terjadi pada kelompok telur. Telur ayam ras naik Rp143 atau 0,57 persen menjadi Rp25.080 per kilogram.

Sementara itu, telur ayam kampung naik Rp277 atau 0,60 persen menjadi Rp46.762 per kilogram.

Harga daging ayam ras juga mengalami kenaikan Rp115 atau 0,34 persen. Harga rata-ratanya tercatat Rp33.496 per kilogram.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa harga kebutuhan pangan tidak selalu bergerak seragam. Ketika sebagian komoditas mengalami penurunan, komoditas lainnya dapat mengalami kenaikan karena dipengaruhi kondisi pasokan dan permintaan masing-masing.

Beras Premium Rp15.040 per Kilogram

Beras sebagai salah satu kebutuhan pokok utama tercatat berada pada harga rata-rata Rp15.040 per kilogram untuk jenis premium.

Sementara beras medium berada di angka Rp12.954 per kilogram.

Adapun harga rata-rata gula kristal putih tercatat Rp17.191 per kilogram.

Untuk minyak goreng kemasan, harga rata-rata minyak goreng kemasan premium berada di angka Rp21.807 per liter. Sementara minyak goreng kemasan sederhana Rp18.851 per liter dan Minyakita Rp16.025 per liter.

Komoditas lain seperti garam, susu, hingga gas elpiji 3 kilogram juga menjadi bagian dari kebutuhan rumah tangga yang perlu diperhitungkan dalam anggaran belanja.

Mengapa Harga Sembako Sering Berubah?

Fluktuasi harga sembako di tingkat konsumen dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya adalah hukum dasar permintaan dan penawaran.

Ketika permintaan meningkat sementara pasokan terbatas, harga cenderung naik. Sebaliknya, ketika pasokan melimpah dan permintaan relatif stabil, harga berpotensi mengalami penurunan.

Cuaca dan kondisi alam juga memiliki pengaruh besar, terutama terhadap komoditas pertanian seperti cabai dan bawang. Hujan ekstrem, kekeringan, maupun perubahan musim dapat mengganggu produksi dan distribusi hasil pertanian.

Selain itu, biaya produksi dan transportasi ikut menentukan harga akhir. Kenaikan harga bahan bakar, pupuk, biaya tenaga kerja, serta ongkos angkutan dapat meningkatkan biaya distribusi hingga ke pasar.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kelancaran rantai pasok. Gangguan logistik, keterlambatan pengiriman, atau kendala transportasi dapat mengurangi ketersediaan barang di pasar dan mendorong harga naik.

Kebijakan pemerintah, nilai tukar rupiah, inflasi, serta kondisi ekonomi secara umum juga dapat memberikan pengaruh terhadap harga sejumlah komoditas, khususnya bahan pangan yang memiliki keterkaitan dengan produk impor.

Harga Bisa Berbeda di Setiap Pasar

Data harga sembako Jatim yang tercantum merupakan harga rata-rata di wilayah Jawa Timur. Karena itu, harga yang ditemui konsumen di pasar tradisional, toko kelontong, maupun pusat perbelanjaan bisa berbeda.

Perbedaan harga dapat terjadi karena lokasi pasar, biaya distribusi, jumlah pasokan, hingga kebijakan harga masing-masing pedagang.

Masyarakat disarankan membandingkan harga sebelum berbelanja, terutama untuk komoditas yang mengalami kenaikan.

Dengan mengetahui pergerakan harga secara berkala, konsumen dapat mengatur prioritas belanja dan menyesuaikan menu keluarga berdasarkan komoditas yang sedang lebih terjangkau.

Pada Jumat, 24 Juli 2026, daging sapi, daging ayam kampung, cabai rawit merah, bawang putih, dan bawang merah menjadi sejumlah komoditas yang mengalami penurunan. Sementara minyak goreng curah, telur ayam kampung, telur ayam ras, dan daging ayam ras tercatat mengalami kenaikan.

Pergerakan harga tersebut menunjukkan bahwa dinamika pasar pangan Jawa Timur masih berlangsung. Bagi rumah tangga, pemantauan harga menjadi langkah sederhana untuk menjaga pengeluaran tetap terkendali di tengah perubahan harga kebutuhan pokok. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Harga sembako Jatim Harga pangan Jatim harga cabai harga bawang harga minyak goreng