RADAR BANYUWANGI – Kabar baik datang dari pasar tradisional Jawa Barat. Harga sejumlah bahan pangan pokok pada Jumat, 24 Juli 2026, terpantau melandai cukup signifikan. Bawang merah menjadi komoditas dengan penurunan paling tajam, yakni Rp6.050 per kilogram atau 14,37 persen.
Tak hanya bawang merah. Harga cabai merah besar anjlok Rp6.500 menjadi Rp44.300 per kilogram, sedangkan cabai merah keriting turun Rp4.900 menjadi Rp36.750 per kilogram.
Penurunan juga terjadi pada beras, daging ayam, minyak goreng, hingga telur ayam. Namun, tidak semua komoditas bergerak turun. Harga daging sapi, bawang bombay, kentang, dan wortel justru mengalami kenaikan.
Pergerakan harga tersebut berdasarkan pantauan dan survei berkala terhadap harga eceran rata-rata sejumlah kebutuhan pangan pokok di pasar tradisional wilayah Jawa Barat per 24 Juli 2026.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika pasokan dan permintaan masih menjadi faktor penting yang menentukan harga pangan di tingkat pedagang dan konsumen.
Bawang Merah Jadi Komoditas Paling Murah
Bawang merah menjadi sorotan utama dalam pergerakan harga sembako Jawa Barat kali ini.
Harganya turun Rp6.050 atau 14,37 persen, dari harga sebelumnya, menjadi Rp36.050 per kilogram.
Penurunan tersebut disebut terjadi seiring melimpahnya pasokan dari sentra produksi setelah memasuki periode panen raya. Kelancaran distribusi dari wilayah produsen juga turut mendorong penyesuaian harga di pasar.
Bagi konsumen, penurunan harga bawang merah menjadi kabar positif karena komoditas tersebut merupakan salah satu bahan utama kebutuhan dapur sehari-hari.
Namun, perkembangan harga tetap perlu dipantau karena komoditas hortikultura sangat dipengaruhi kondisi produksi dan kelancaran distribusi.
Cabai Merah Besar Turun Rp6.500
Pergerakan harga cukup mencolok juga terjadi pada kelompok cabai.
Cabai merah besar mengalami penurunan paling besar secara nominal setelah bawang merah. Harganya turun Rp6.500 atau 12,8 persen menjadi Rp44.300 per kilogram.
Sementara itu, cabai merah keriting turun Rp4.900 atau 11,76 persen menjadi Rp36.750 per kilogram.
Harga cabai rawit merah juga ikut melandai. Komoditas yang kerap menjadi perhatian konsumen ini turun Rp2.050 atau 4,1 persen, sehingga berada di angka Rp48.000 per kilogram.
Meski mengalami penurunan, cabai rawit merah masih menjadi salah satu komoditas dengan harga relatif tinggi dibandingkan jenis cabai lainnya.
Penyesuaian harga cabai tersebut dapat dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan, distribusi dari sentra produksi, hingga perubahan permintaan konsumen.
Harga Beras Ikut Turun
Penurunan harga juga terjadi pada komoditas pangan pokok utama, yakni beras.
Beras premium tercatat turun Rp800 atau 4,65 persen menjadi Rp16.400 per kilogram.
Sementara beras medium turun Rp400 atau 2,58 persen menjadi Rp15.100 per kilogram.
Penurunan harga beras menjadi perkembangan yang cukup penting bagi masyarakat karena beras merupakan kebutuhan pokok yang memiliki porsi besar dalam pengeluaran rumah tangga.
Dengan harga beras yang lebih rendah, konsumen berpotensi mendapatkan sedikit ruang dalam mengatur anggaran belanja harian.
Daging Ayam Turun, Daging Sapi Justru Naik
Pergerakan berbeda terjadi pada komoditas daging.
Harga daging ayam turun cukup signifikan sebesar Rp2.350 atau 6,28 persen, menjadi Rp35.050 per kilogram.
Sebaliknya, harga daging sapi justru naik Rp2.450 atau 1,58 persen, sehingga mencapai Rp157.100 per kilogram.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa masing-masing komoditas memiliki dinamika pasokan dan permintaan yang berbeda.
Konsumen yang berencana membeli kebutuhan protein hewani perlu memperhatikan perubahan harga tersebut untuk menyesuaikan anggaran belanja.
Bawang Bombay dan Kentang Naik
Di tengah tren penurunan harga sebagian besar komoditas, beberapa bahan pangan justru bergerak naik.
Harga bawang bombay naik Rp600 atau 1,61 persen menjadi Rp37.900 per kilogram.
Kemudian, kentang naik Rp500 atau 2,72 persen menjadi Rp18.900 per kilogram.
Harga wortel juga mengalami kenaikan tipis Rp100 atau 0,73 persen menjadi Rp13.800 per kilogram.
Kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut antara lain dapat dipengaruhi siklus pengiriman serta perubahan permintaan konsumen di tingkat pasar.
Daftar Harga Sembako Jawa Barat 24 Juli 2026
Berikut rincian harga rata-rata kebutuhan pangan pokok eceran di pasar tradisional wilayah Jawa Barat:
| Komoditas | Satuan | Harga 24 Juli 2026 | Perubahan |
|---|---|---|---|
| Beras Premium | Kg | Rp16.400 | Turun Rp800 |
| Beras Medium | Kg | Rp15.100 | Turun Rp400 |
| Cabai Rawit Merah | Kg | Rp48.000 | Turun Rp2.050 |
| Cabai Merah Keriting | Kg | Rp36.750 | Turun Rp4.900 |
| Cabai Merah Besar | Kg | Rp44.300 | Turun Rp6.500 |
| Bawang Merah | Kg | Rp36.050 | Turun Rp6.050 |
| Bawang Putih | Kg | Rp39.900 | Turun Rp500 |
| Bawang Bombay | Kg | Rp37.900 | Naik Rp600 |
| Daging Ayam | Kg | Rp35.050 | Turun Rp2.350 |
| Daging Sapi | Kg | Rp157.100 | Naik Rp2.450 |
| Telur Ayam | Kg | Rp26.850 | Turun Rp300 |
| Minyak Goreng Curah | Kg | Rp20.900 | Turun Rp550 |
| Minyak Goreng Kemasan | Liter | Rp22.900 | Turun Rp650 |
| Gula Pasir | Kg | Rp18.150 | Turun Rp150 |
| Tepung Terigu | Kg | Rp12.700 | Turun Rp100 |
| Kentang | Kg | Rp18.900 | Naik Rp500 |
| Tomat | Kg | Rp14.600 | Turun Rp300 |
| Wortel | Kg | Rp13.800 | Naik Rp100 |
Mayoritas Komoditas Mengalami Penurunan
Jika melihat keseluruhan data, mayoritas komoditas yang dipantau mengalami penurunan harga.
Selain beras dan cabai, penurunan juga terjadi pada bawang putih, daging ayam, telur ayam, minyak goreng curah, minyak goreng kemasan, gula pasir, tepung terigu, dan tomat.
Harga bawang putih turun Rp500 atau 1,24 persen menjadi Rp39.900 per kilogram.
Sementara telur ayam turun Rp300 atau 1,1 persen menjadi Rp26.850 per kilogram.
Harga minyak goreng curah turun Rp550 atau 2,56 persen menjadi Rp20.900 per kilogram. Adapun minyak goreng kemasan turun Rp650 atau 2,76 persen menjadi Rp22.900 per liter.
Gula pasir turun Rp150 atau 0,82 persen menjadi Rp18.150 per kilogram, sedangkan tepung terigu turun Rp100 atau 0,78 persen menjadi Rp12.700 per kilogram.
Tomat juga melandai Rp300 atau 2,01 persen menjadi Rp14.600 per kilogram.
Pasokan dan Distribusi Jadi Penentu
Perubahan harga pangan di pasar tradisional tidak terlepas dari kondisi rantai pasok.
Biaya transportasi dan angkutan barang, kondisi iklim di wilayah sentra pertanian, serta pola konsumsi masyarakat menjadi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi harga dari tingkat produsen hingga konsumen.
Ketika pasokan dari daerah produsen melimpah dan distribusi berjalan lancar, harga komoditas cenderung mengalami penyesuaian ke bawah.
Sebaliknya, gangguan produksi atau distribusi dapat membuat harga bergerak naik ketika kebutuhan konsumen tetap tinggi.
Karena itu, kelancaran rantai pasok antarwilayah menjadi salah satu kunci untuk menjaga harga pangan tetap stabil dan mencegah lonjakan harga yang terlalu ekstrem.
Tips Belanja Hemat di Tengah Harga yang Fluktuatif
Pergerakan harga yang berbeda-beda membuat konsumen perlu lebih cermat ketika berbelanja.
Salah satu cara sederhana adalah membandingkan harga di beberapa kios atau pedagang sebelum membeli. Perbedaan harga antarpedagang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan bahan pangan dengan harga lebih ekonomis.
Masyarakat juga dapat menyusun daftar belanja mingguan berdasarkan kebutuhan prioritas.
Ketika harga suatu komoditas sedang tinggi, konsumen dapat menggantinya dengan bahan pangan alternatif yang memiliki nilai gizi sebanding.
Strategi tersebut dapat membantu mengendalikan pengeluaran rumah tangga tanpa mengurangi kebutuhan nutrisi keluarga.
Pada akhirnya, pantauan harga sembako Jawa Barat per 24 Juli 2026 menunjukkan tren penurunan pada sejumlah komoditas strategis. Bawang merah dan cabai menjadi dua kelompok komoditas yang mengalami penurunan cukup signifikan.
Namun, harga pangan tetap dinamis. Perubahan pasokan, cuaca, biaya distribusi, dan pola konsumsi masyarakat dapat kembali mengubah harga dalam waktu singkat.
Bagi konsumen, memantau perkembangan harga dan menyesuaikan pola belanja menjadi langkah penting agar kebutuhan pangan keluarga tetap terpenuhi tanpa membebani anggaran. (*)
Editor : Ali Sodiqin