RADARBANYUWANGI.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (23/7/2026) di zona merah. Pelemahan indeks dipicu meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar menyusul lonjakan harga minyak mentah dunia akibat memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Pada penutupan perdagangan, IHSG turun 19,17 poin atau 0,30 persen ke level 6.315,31. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham berkapitalisasi besar juga terkoreksi 5,43 poin atau 0,86 persen ke posisi 627,12.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim mengatakan kenaikan harga minyak mentah hingga menyentuh level tertinggi dalam enam pekan terakhir mendorong investor mengurangi agresivitas transaksi. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar lebih memilih strategi perdagangan jangka pendek sambil mencermati perkembangan situasi global.
"Berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah pada level tertinggi selama enam pekan terakhir membuat para pelaku pasar cenderung mulai berhati-hati dan melakukan trading jangka pendek," ujarnya, dikutip Antara.
Pergerakan IHSG sepanjang perdagangan berlangsung cukup fluktuatif. Pada sesi pertama, indeks sempat bergerak di zona hijau didorong penguatan saham-saham komoditas, khususnya sektor energi dan emas yang memperoleh sentimen positif dari kenaikan harga minyak dan emas di pasar internasional.
Namun memasuki sesi kedua, arah pergerakan berubah. IHSG berbalik melemah hingga penutupan seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap dampak eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Kondisi tersebut turut mendorong harga minyak mentah dunia terus menanjak. Minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas 89 dolar Amerika Serikat per barel, sedangkan Brent telah melampaui 97 dolar Amerika Serikat per barel.
Untuk perdagangan Jumat (24/7/2026), Ratna memperkirakan IHSG masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Selain sentimen global, aksi ambil untung menjelang libur akhir pekan diperkirakan menjadi faktor yang membatasi ruang penguatan indeks.
Menurut dia, apabila IHSG menembus ke bawah level rata-rata pergerakan lima hari (MA5) di kisaran 6.279, indeks berpotensi menguji area support berikutnya pada rentang 6.200 hingga 6.250.
Dari sisi sektoral, enam sektor berhasil ditutup menguat. Sektor properti menjadi pemimpin kenaikan dengan menguat 3,20 persen. Posisi berikutnya ditempati sektor energi yang naik 1,59 persen dan sektor barang konsumen primer yang menguat 1,54 persen.
Sebaliknya, lima sektor berakhir di zona merah. Pelemahan terdalam terjadi pada sektor barang konsumen non-primer yang turun 1,08 persen, disusul sektor keuangan yang melemah 1,00 persen dan sektor industri yang terkoreksi 0,94 persen.
Pada perdagangan saham individual, emiten FUTR, MPRO, ENAK, ZATA, dan ALKA masuk daftar saham dengan kenaikan harga tertinggi. Sementara itu, SWID, HOPE, LUCK, WMUU, dan FORU menjadi kelompok saham dengan penurunan terdalam.
Aktivitas transaksi di BEI tetap berlangsung aktif. Frekuensi perdagangan mencapai 3,148 juta kali transaksi dengan volume 59,77 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp23,88 triliun. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 343 saham menguat, 309 saham melemah, dan 313 saham ditutup tidak berubah.
Di kawasan Asia, mayoritas bursa bergerak bervariasi. Indeks Nikkei, Shanghai, Hang Seng, dan Kospi berhasil ditutup menguat, sedangkan Straits Times menjadi satu-satunya indeks utama yang berakhir di zona merah. Pergerakan tersebut menunjukkan pelaku pasar regional masih mencermati perkembangan konflik geopolitik yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan global.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara