RADARBANYUWANGI.ID - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis (23/7/2026). Sentimen global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus memberi tekanan terhadap mata uang Garuda.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, kondisi geopolitik antara AS dan Iran yang kembali memanas menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah. Menurut dia, kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah berpotensi membuat rupiah bergerak melemah terhadap dolar AS.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS di tengah harga minyak yang kembali naik akibat tensi geopolitik di Timur Tengah,” ujar Lukman, dikutip Antara.
Ketegangan global memang terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Amerika Serikat dilaporkan melakukan redistribusi sejumlah kekuatan militernya ke kawasan Timur Tengah, termasuk pengerahan jet tempur siluman F-35 generasi kelima dan F-16 dari wilayah Eropa. Washington juga disebut menambah pasukan operasi khusus serta memperkuat armada udara untuk menghadapi berbagai kemungkinan perkembangan situasi.
Kondisi tersebut ikut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global. Kenaikan harga minyak dunia biasanya memberikan tekanan terhadap negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, karena dapat meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS untuk pembayaran impor energi.
Meski demikian, Lukman menilai potensi pelemahan rupiah masih relatif terbatas. Faktor domestik dinilai mampu menjadi penahan tekanan eksternal, terutama setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2026.
Selain mempertahankan BI-Rate, bank sentral juga menyiapkan sejumlah insentif untuk memperkuat stabilitas pasar keuangan. Kebijakan tersebut diarahkan untuk meningkatkan arus investasi portofolio asing sekaligus menekan biaya transaksi lindung nilai atau hedging valuta asing.
Beberapa langkah yang ditempuh BI antara lain meningkatkan insentif swap jual lindung nilai dari sebelumnya 10 persen menjadi 12,5 persen. BI juga memperluas insentif Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) jual lindung nilai sebesar 15 persen.
Di sisi lain, BI terus mendorong efisiensi transaksi valuta asing serta memperluas penggunaan skema penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal atau local currency settlement sebagai alternatif penggunaan dolar AS.
“Meski suku bunga ditahan, insentif baru untuk mengurangi biaya transaksi lindung nilai valas dan dorongan penggunaan mata uang selain dolar AS diharapkan mampu menopang rupiah,” jelas Lukman.
Menurutnya, keputusan BI untuk tidak menaikkan suku bunga masih sesuai dengan kondisi ekonomi domestik yang mulai menunjukkan tekanan lebih rendah. Namun, arah kebijakan moneter berikutnya tetap bergantung pada perkembangan situasi global, khususnya konflik di Timur Tengah.
Jika ketegangan geopolitik tidak segera mereda dan berdampak pada lonjakan harga energi, BI berpotensi mempertimbangkan perubahan kebijakan pada pertemuan berikutnya.
Pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, rupiah sempat bergerak menguat tipis 3 poin atau sekitar 0,02 persen ke level Rp17.914 per dolar AS. Posisi tersebut bergerak dari penutupan perdagangan sebelumnya di angka Rp17.917 per dolar AS.
Pergerakan rupiah saat ini masih sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara tekanan eksternal akibat kondisi geopolitik global dan upaya pemerintah bersama BI menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara