IHSG Dibuka Menguat, Investor Cermati Sentimen AI dan Kebijakan BI

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 11:54 WIB
IHSG dibuka menguat di zona hijau pada perdagangan Kamis (23/7/2026). (JawaPos.com)
IHSG dibuka menguat di zona hijau pada perdagangan Kamis (23/7/2026). (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis dengan catatan positif. Indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka menguat mengikuti sentimen positif yang mewarnai mayoritas pasar saham kawasan Asia.

Pada awal perdagangan, IHSG tercatat naik 12,14 poin atau 0,19 persen menuju level 6.346,62. Penguatan juga terjadi pada indeks saham unggulan LQ45 yang bertambah 0,81 poin atau 0,13 persen ke posisi 633,36.

Analis Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai peluang IHSG untuk melanjutkan tren penguatan masih terbuka. Namun, indeks harus mampu menjaga posisi di atas area support 6.284–6.260.

Apabila mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, IHSG berpotensi menguji area resistance 6.377. Bahkan, penguatan lanjutan dapat membawa indeks bergerak menuju kisaran 6.398 hingga 6.459.

"Jika IHSG berhasil breakout dan konsisten berada di atas level tersebut, pergerakan indeks berpotensi menguji resistance di 6.377, bahkan berlanjut menuju kisaran 6.398–6.459," ujar Liza, dikutip Antara.

Meski demikian, investor tetap perlu mewaspadai potensi koreksi apabila IHSG kembali gagal melewati area resistance. Dalam skenario tersebut, indeks diperkirakan melakukan pullback sehat dengan area penopang terdekat pada 6.284–6.260 sebelum mengarah ke 6.231.

Dari pasar global, pelaku pasar masih bersikap hati-hati sambil menunggu laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar dunia. Kinerja emiten kapitalisasi besar tersebut dinilai menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberlanjutan reli saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Salah satu perhatian investor tertuju pada rencana belanja modal Alphabet yang diperkirakan meningkat akibat tingginya kebutuhan infrastruktur AI dan kenaikan harga chip memori. Namun, besarnya investasi tersebut juga memunculkan kekhawatiran terkait beban modal dan waktu pengembalian investasi.

Kondisi tersebut sempat menekan saham sektor semikonduktor hingga terkoreksi lebih dari 20 persen dari level tertingginya.

Selain sektor teknologi, perkembangan geopolitik Timur Tengah turut menjadi perhatian pasar. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait ancaman terhadap jalur strategis energi di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi distribusi energi global.

Situasi ini semakin kompleks setelah gangguan pelayaran di Laut Merah akibat konflik regional sebelumnya. Meski begitu, upaya diplomasi melalui wacana gencatan senjata tetap menjadi harapan bagi stabilitas pasar.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia memberikan kepastian arah kebijakan moneter dengan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 5,75 persen.

Selain itu, BI juga menjaga suku bunga Deposit Facility pada 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.

Keputusan tersebut diambil sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menjaga daya tarik investasi asing melalui berbagai insentif portofolio.

BI juga memperkuat fasilitas lindung nilai atau hedging serta mendorong transaksi Local Currency Transaction (LCT) guna meningkatkan arus modal asing ke pasar domestik.

Sebelumnya, perdagangan saham Eropa pada Rabu (22/7) ditutup menguat. Indeks Euro Stoxx 50 naik 0,57 persen, FTSE 100 Inggris meningkat 1,24 persen, DAX Jerman bertambah 0,58 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 0,89 persen.

Berbeda dengan Eropa, Wall Street Amerika Serikat bergerak melemah. Indeks S&P 500 turun 0,10 persen ke level 7.499,73. Nasdaq Composite terkoreksi 0,60 persen menjadi 25.690,90, sedangkan Dow Jones Industrial Average melemah tipis 0,01 persen ke posisi 52.218,58.

Sementara itu, bursa Asia pagi ini menunjukkan tren positif. Nikkei Jepang menguat 0,56 persen, Shanghai Composite naik 0,02 persen, Hang Seng Hong Kong melonjak 1,16 persen, Kospi Korea Selatan memimpin kenaikan dengan penguatan 2,18 persen, dan Shenzhen Component bertambah 0,18 persen.

Pergerakan pasar domestik masih akan dipengaruhi kombinasi sentimen global, arah kebijakan moneter, serta kemampuan IHSG mempertahankan momentum penguatan di tengah dinamika ekonomi dunia.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
bi rate ihsg Bank Indonesia bursa efek indonesia