KAI Mulai Integrasi Strategis dengan INKA, Bangun Solusi Perkeretaapian Nasional Terpadu

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 10:16 WIB
KAI memulai integrasi strategis dengan INKA untuk membangun solusi perkeretaapian nasional terpadu. (Antara)
KAI memulai integrasi strategis dengan INKA untuk membangun solusi perkeretaapian nasional terpadu. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai memperkuat fondasi industri transportasi rel nasional melalui langkah strategis dengan memetakan seluruh kapabilitas yang tersebar di lingkungan KAI Group. Upaya tersebut menjadi pijakan untuk membangun solusi perkeretaapian terpadu yang mengintegrasikan kemampuan operasional, layanan, hingga manufaktur dalam satu ekosistem.

Momentum tersebut ditandai dengan dimulainya integrasi strategis antara KAI dan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA. Proses awal integrasi diawali melalui kegiatan Kick-Off Integrasi KAI dan INKA yang berlangsung di Ballroom Jakarta Railway Center, Jakarta, Selasa (21/7).

Kegiatan itu dihadiri jajaran Danantara Asset Management, direksi KAI dan INKA, tim Project Management Office (PMO), konsultan, serta pimpinan dari kedua entitas.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, konsolidasi tersebut menjadi ruang untuk menyatukan pengalaman panjang KAI Group dalam pengelolaan operasional dan pelayanan dengan kompetensi INKA di bidang desain, rekayasa, manufaktur, hingga pengembangan sarana perkeretaapian.

Menurut Anne, proses integrasi masih berada pada tahap awal dan dilaksanakan secara bertahap melalui kajian mendalam, penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta pemetaan kompetensi masing-masing pihak.

"Proses ini masih berada pada tahap awal dan dijalankan secara bertahap melalui kajian mendalam, penerapan tata kelola yang baik, serta pemetaan kompetensi kedua pihak. Keselamatan, keandalan, kualitas produk, dan kebutuhan pelanggan tetap menjadi komitmen serta acuan utama kami," ujarnya, dikutip Antara.

Langkah tersebut didukung rekam jejak operasional KAI Group yang terus menunjukkan pertumbuhan. Sepanjang Semester I 2026, KAI Group melayani 258.993.359 pelanggan atau meningkat 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 240.805.920 pelanggan. Di sisi lain, volume angkutan barang mencapai 32.498.043 ton.

Operasional tersebut ditopang jaringan yang mencakup 627 stasiun dan jalur aktif sepanjang 7.765 kilometer spoor di Pulau Jawa dan Sumatra. Hingga Juni 2026, KAI mengelola 12.856 unit sarana yang terdiri atas 551 lokomotif, 1.064 Kereta Rel Listrik (KRL), 2.238 kereta penumpang, 8.907 gerbong barang, serta 96 Kereta Rel Diesel Elektrik dan Kereta Rel Diesel Indonesia.

Anne menjelaskan, skala operasional yang luas menghasilkan akumulasi pengetahuan yang menjadi modal penting bagi pengembangan industri perkeretaapian. Pengalaman tersebut meliputi manajemen perjalanan, pemeliharaan sarana, penyediaan suku cadang, pengawasan keselamatan, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, hingga integrasi sistem digital.

"Setiap jenis sarana punya karakteristik, teknologi, dan siklus pemeliharaan yang berbeda. Pengalaman dalam mengelola variasi sarana tersebut menjadi aset modal pengetahuan untuk menyusun solusi perkeretaapian yang lebih solid," katanya.

Saat ini, ekosistem KAI Group didukung enam anak perusahaan dan sejumlah entitas asosiasi yang memiliki spesialisasi masing-masing. KAI Bandara mengembangkan layanan Maintenance, Operation, Spare Parts and Services (MOSS) dan Airport Railway Ticketing System (ARTS). KAI Properti bergerak pada konstruksi dan perawatan rel serta jembatan, sedangkan KAI Services menangani layanan hospitality, keamanan, dan kebersihan.

Selain itu, KAI Logistik memperkuat distribusi multimoda, KAI Commuter mengoperasikan layanan kereta perkotaan, sementara KAI Wisata mengembangkan bisnis MICE dan destinasi heritage.

Anne menilai, seluruh kapabilitas tersebut perlu dipetakan secara komprehensif agar mampu membentuk standar layanan, cakupan pekerjaan, serta kepastian hukum yang matang sebelum dipasarkan kepada segmen business-to-business (B2B).

Di sisi lain, kehadiran INKA dinilai melengkapi rantai nilai industri dari aspek manufaktur. Hasil evaluasi operasional dan kebutuhan di lapangan nantinya dapat diteruskan kepada tim rekayasa INKA untuk penyempurnaan desain, spesifikasi, hingga proses pengujian sarana baru.

Dalam agenda kick-off tersebut, KAI juga memaparkan proyeksi awal kebutuhan 156 rangkaian KRL hingga 2040. Proyeksi tersebut belum memasukkan kebutuhan Kereta Rel Diesel, kereta jarak jauh, lokomotif, maupun gerbong angkutan barang.

Meski demikian, Anne menegaskan bahwa angka tersebut masih berupa kalkulasi awal yang akan terus disempurnakan berdasarkan analisis operasional, ketersediaan anggaran, kebijakan pemegang saham, serta regulasi pemerintah.

"Sinergi ini membuka gambaran jangka panjang bagi industri dalam negeri. Penguatan rantai nilai ini diharapkan mampu mendukung standardisasi produk lokal, kepastian suku cadang, efisiensi biaya operasional, serta memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat luas," pungkasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
inka KAI Kereta Api