Perajin Batik Jambewangi Terjepit, Harga Pewarna Naik hingga 30 Persen dan Cuaca Tak Menentu

Salis Ali Muhyidin • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 00:30 WIB
Salah satu pegawai pabrik batik cap di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, menjemur kain batik yang baru diberi pewarna, Rabu (22/7). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)
Salah satu pegawai pabrik batik cap di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, menjemur kain batik yang baru diberi pewarna, Rabu (22/7). (Salis Ali/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Industri batik cap di Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Banyuwangi, tengah menghadapi ujian berat. Di saat persaingan pasar ekspor semakin ketat, para perajin kini harus berjibaku dengan lonjakan harga bahan baku pewarna impor hingga 30 persen dan cuaca ekstrem yang mengganggu proses produksi.

Kondisi tersebut mulai dirasakan para pelaku usaha batik dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan harga pewarna sintetis seperti naptol, indigosol, dan remasol membuat biaya produksi melonjak, terutama bagi perajin yang memasok batik untuk pasar ekspor, termasuk ke Amerika Serikat.

Fluktuasi nilai tukar rupiah serta tingginya biaya logistik bahan kimia internasional disebut menjadi faktor utama yang memicu kenaikan harga bahan baku tersebut.

Sebagai gambaran, harga pewarna reaktif yang sebelumnya berkisar Rp120 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp155 ribu hingga Rp160 ribu per kilogram. Kenaikan sekitar 20 hingga 30 persen itu langsung menggerus margin keuntungan para perajin.

Salah seorang perajin batik di Kecamatan Sempu, Hartono, 48, mengaku kondisi tersebut semakin menyulitkan pelaku usaha yang harus menjaga kualitas produk di tengah biaya produksi yang terus meningkat.

“Harga pewarna naik terus masalahnya, ini menyulitkan perajin seperti kami,” ujarnya.

Tak hanya soal bahan baku, tantangan lain datang dari cuaca yang semakin sulit diprediksi. Proses pengeringan kain batik sangat bergantung pada kondisi alam, sehingga perubahan cuaca berdampak langsung pada ritme produksi.

Saat cuaca panas, proses pengeringan memang berlangsung jauh lebih cepat. Kain yang telah diberi warna dapat kering hanya dalam waktu sekitar 30 menit, padahal dalam kondisi normal membutuhkan waktu hingga satu jam.

Namun, panas berlebih juga menyimpan risiko tersendiri.

“Kalau panasnya terlalu ekstrem, lilinnya justru mencair. Belum sempat masuk ke proses pewarnaan selanjutnya, lilin di kain sudah meluber. Motifnya jadi rusak dan keluar bercak-bercak putih,” cetus Hartono.

Di tengah cuaca cerah, produktivitas perajin sebenarnya meningkat cukup signifikan. Hartono mengaku mampu memproduksi hingga 200 lembar kain batik per hari, dua kali lipat dibanding hari biasa yang rata-rata hanya sekitar 100 lembar.

Perputaran kain basah yang lebih cepat juga membuat penggunaan lahan jemur menjadi lebih efisien.

“Tapi kalau disuruh milih, mending cuaca panas saja,” katanya.

Sayangnya, kondisi cuaca di wilayah selatan Banyuwangi belakangan justru didominasi mendung dan hujan deras. Situasi ini menjadi tantangan baru bagi perajin batik di Jambewangi.

Jika sebelumnya pengeringan hanya membutuhkan hitungan menit, saat musim hujan proses tersebut dapat berlangsung berhari-hari. Risiko kerusakan produk pun meningkat, mulai dari warna yang kusam hingga munculnya jamur pada kain.

“Kalau hujan risiko warna menjadi kusam atau berjamur mengancam kualitas produk,” terang Hartono.

Di tengah tekanan harga bahan baku dan cuaca yang tidak menentu, para perajin batik Banyuwangi kini harus terus beradaptasi agar industri batik cap tetap bertahan dan mampu bersaing di pasar ekspor. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
batik Sempu harga pewarna batik ekspor Jambewangi Batik Banyuwangi