RADAR BANYUWANGI – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, pedagang musiman bendera Merah Putih dan umbul-umbul mulai bermunculan di sejumlah ruas jalan protokol di Kecamatan Genteng, Banyuwangi. Sebagian besar penjual datang dari Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dengan harapan meraih rezeki dari tradisi tahunan menyambut bulan kemerdekaan.
Lapak-lapak dadakan itu mulai terlihat sejak awal pekan ini. Beragam ukuran bendera, umbul-umbul, hingga pernak-pernik Agustusan dipajang mencolok di tepi jalan untuk menarik perhatian pengendara maupun warga yang melintas.
Salah satu pedagang, Adib Sofyan, 47, memilih berjualan di kawasan Dusun Maron, Desa Gentengkulon, Kecamatan Genteng. Pria asal Kabupaten Bandung itu mengaku datang ke Banyuwangi bersama rombongan pedagang lain yang telah membagi lokasi jualan di sejumlah kecamatan agar tidak saling berebut pembeli.
“Saya tidak sendiri, datang rombongan bersama 10 teman lainnya dari Bandung,” ujarnya.
Bagi Adib, merantau ke berbagai daerah untuk menjual atribut kemerdekaan bukan hal baru. Tradisi itu sudah dijalaninya selama enam tahun terakhir. Setibanya di Banyuwangi, ia bersama rekan-rekannya langsung menyebar ke titik-titik strategis yang dinilai ramai dilalui masyarakat.
“Jualannya memang menyebar ke beberapa kecamatan agar tidak menumpuk di satu titik,” katanya.
Menariknya, Adib tidak perlu mengeluarkan modal besar untuk menyediakan barang dagangan. Ia menjual bendera, umbul-umbul, dan berbagai aksesori Agustusan milik juragannya dengan sistem bagi hasil.
Apabila hingga pertengahan Agustus masih ada stok yang belum terjual, barang tersebut dapat dikembalikan sehingga pedagang tidak menanggung risiko kerugian modal.
“Saya hanya menjualkan saja. Sistemnya bagi hasil sesuai kesepakatan bersama. Jadi ya tergantung penjualan, kalau pembeli sepi pendapatan otomatis sedikit,” ungkapnya.
Meski suasana peringatan kemerdekaan mulai terasa, penjualan hingga akhir Juli masih belum menggembirakan. Kondisi serupa juga dirasakan Asep Guntur, 35, pedagang bendera yang membuka lapak di Desa Gentengwetan.
Menurutnya, pembeli biasanya baru berdatangan saat memasuki pekan kedua Agustus, ketika instansi, sekolah, pelaku usaha, hingga masyarakat mulai memasang atribut merah putih di lingkungan masing-masing.
“Awal-awal memang sangat sepi. Tapi kalau sudah ramai sehari bisa mengantongi omzet sekitar Rp 500 ribu,” bebernya.
Pengalaman bertahun-tahun membuat Asep memahami pola pasar musiman tersebut. Ia optimistis penjualan akan meningkat seiring mendekatnya peringatan 17 Agustus.
Harapan terbesar para pedagang adalah seluruh dagangan habis terjual sebelum Hari Kemerdekaan tiba. Pengalaman saat pandemi Covid-19, ketika penjualan merosot tajam, masih membekas di ingatan mereka.
Editor : Ali Sodiqin“Semoga tahun ini habis semua, jadi tidak sia-sia sudah merantau jauh-jauh dari Bandung,” pungkas Asep. (sas/sgt)