Banyuwangi Jadi Poros Bioetanol Nasional, Pertamina Bangun Pabrik Berkapasitas 30 Ribu KL per Tahun untuk Dukung Target Campuran E10

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 17:09 WIB
Pembangunan fasilitas bioetanol Pertamina di Glenmore, Banyuwangi, berkapasitas 30 ribu KL per tahun dipersiapkan mendukung target E10. (Radar Surabaya Bisnis)
Pembangunan fasilitas bioetanol Pertamina di Glenmore, Banyuwangi, berkapasitas 30 ribu KL per tahun dipersiapkan mendukung target E10. (Radar Surabaya Bisnis)

RADARBANYUWANGI.ID - Kabupaten Banyuwangi kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah strategis dalam mendukung transisi energi bersih nasional. PT Pertamina (Persero) saat ini tengah membangun fasilitas pengembangan bioetanol di Kecamatan Glenmore dengan kapasitas produksi mencapai 30 ribu kiloliter (KL) per tahun.

Pembangunan fasilitas tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah dalam mengejar target penerapan campuran bioetanol 10 persen (E10) pada bahan bakar sesuai peta jalan yang telah disusun. Program ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor bensin sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, mengatakan percepatan pengembangan bioenergi merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam menghadirkan energi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

"Langkah ini dilakukan guna mengejar target pencampuran E10 sesuai peta jalan pemerintah. Kehadiran bioenergi tidak hanya menjaga ketahanan energi, tetapi juga mempercepat dekarbonisasi di sektor transportasi serta menggerakkan roda ekonomi sirkular bagi masyarakat," ujarnya, dikutip Antara.

Selain mengembangkan bioetanol, Pertamina juga terus memperkuat implementasi program biodiesel B50. Program tersebut semakin mengukuhkan Indonesia sebagai negara dengan penggunaan biodiesel terbesar di dunia. Hingga kini, sebanyak 86 dari total 121 Terminal BBM Pertamina di berbagai daerah telah siap menyalurkan biodiesel kepada masyarakat.

Pertamina juga mulai mengembangkan pemanfaatan Tandan Kosong Sawit (TKS) sebagai bahan baku alternatif bioetanol. Selama ini limbah perkebunan tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, padahal potensinya diperkirakan mencapai 25 juta ton per tahun.

Menurut Oki, tantangan utama dalam pengembangan teknologi tersebut adalah mengubah struktur TKS menjadi glukosa yang selanjutnya diproses menjadi bioetanol. Apabila berhasil diterapkan secara luas, pemanfaatan limbah sawit itu tidak hanya mengurangi beban limbah perkebunan, tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi baru.

Ia menjelaskan, terdapat tiga faktor utama yang menjadikan bioenergi sebagai salah satu fondasi masa depan energi nasional. Pertama, Indonesia memiliki ketersediaan biomassa domestik yang melimpah sebagai sumber bahan baku. Kedua, penggunaan bioenergi mampu menekan emisi karbon melalui dekarbonisasi sektor transportasi. Ketiga, pengembangannya membuka peluang ekonomi sirkular yang melibatkan masyarakat di berbagai daerah.

Meski demikian, Oki menegaskan pengembangan bioenergi membutuhkan dukungan lintas sektor. Keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada industri, tetapi juga memerlukan sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, kalangan akademisi, hingga masyarakat.

"Ini semua membutuhkan kerja sama. Tidak bisa hanya mengandalkan industri, namun harus ada sinergi antara pemerintah, perbankan, akademisi, dan masyarakat. Tujuannya satu, mewujudkan kemandirian energi dan mengurangi beban devisa negara," pungkasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Bioetanol pertamina banyuwangi