Perry Warjiyo: Penguatan Kebijakan Moneter dan Fiskal Dorong Berlanjutnya Aliran Modal Asing ke Indonesia

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 16:42 WIB
Aliran modal asing ke Indonesia tetap positif di tengah ketidakpastian global. (Pexels/Defrino Maasy)
Aliran modal asing ke Indonesia tetap positif di tengah ketidakpastian global. (Pexels/Defrino Maasy)

RADARBANYUWANGI.ID - Ketahanan ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing melalui investasi portofolio masih membukukan nilai bersih masuk (net inflows) ke pasar keuangan domestik sepanjang 2026.

Pada triwulan II 2026, investasi portofolio asing mencatat net inflows sebesar 8,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Capaian tersebut terutama didorong tingginya minat investor terhadap instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Tren positif itu berlanjut memasuki triwulan III 2026. Berdasarkan data hingga 20 Juli 2026, instrumen SBN kembali menjadi penyumbang utama aliran modal asing dengan net inflows sebesar 0,1 miliar dolar AS.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan, berlanjutnya aliran modal asing tidak terlepas dari sinergi kebijakan moneter BI dengan kebijakan fiskal pemerintah. Menurutnya, koordinasi tersebut mampu meningkatkan daya tarik sekaligus imbal hasil instrumen keuangan domestik di mata investor.

"Dari transaksi modal dan finansial, berbagai penguatan respons kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia bersinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah untuk meningkatkan imbal hasil instrumen keuangan domestik dapat mendorong berlanjutnya aliran masuk modal asing," ujar Perry, Rabu (22/7/2026), dikutip Antara.

Bank Indonesia juga menekankan pentingnya menjaga kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) secara berkelanjutan sebagai langkah memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Upaya tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi dampak rambatan dari ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.

Dari sisi perdagangan, Neraca Perdagangan Indonesia secara kumulatif sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih mencatat surplus sebesar 4,03 miliar dolar AS. Meski demikian, secara bulanan pada Mei 2026 sempat mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS.

Sementara itu, ketahanan sektor eksternal juga ditopang posisi cadangan devisa yang tetap tinggi. Hingga akhir Juni 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 145,6 miliar dolar AS.

Nilai tersebut setara dengan pembiayaan 5,5 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi tersebut jauh melampaui standar kecukupan internasional yang berada pada kisaran minimum tiga bulan impor.

Ke depan, BI memperkirakan transaksi berjalan Indonesia sepanjang 2026 tetap berada dalam kisaran yang sehat, yakni defisit 1,3 persen hingga 0,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Perry menegaskan, Bank Indonesia bersama pemerintah akan terus memperkuat koordinasi kebijakan guna menjaga ketahanan eksternal perekonomian nasional sekaligus mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah potensi gejolak ekonomi global.

"Penguatan sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia terus ditempuh untuk memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional dan sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dalam menghadapi gejolak global," tegasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
cadangan devisa modal asing Bank Indonesia