Refinancing dan Stabilitas Ekonomi Jadi Penopang Pasar Obligasi Korporasi, Pefindo Ingatkan Risiko Global

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 16:36 WIB
Pefindo memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi sepanjang 2026 mencapai Rp154 triliun-Rp196,86 triliun. (Pexels/Hanna Pad)
Pefindo memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi sepanjang 2026 mencapai Rp154 triliun-Rp196,86 triliun. (Pexels/Hanna Pad)

RADARBANYUWANGI.ID - Aktivitas pasar modal Indonesia diperkirakan masih tetap bergairah hingga paruh kedua 2026. PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi tetap berada pada level yang solid, seiring tingginya kebutuhan pendanaan kembali (refinancing) dari kalangan emiten.

Hingga akhir 2026, Pefindo memperkirakan total penerbitan obligasi korporasi berada pada kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun. Adapun titik tengah proyeksi tersebut mencapai Rp175,77 triliun.

Proyeksi itu dinilai masih berada di jalur yang sesuai. Sepanjang semester I-2026, realisasi penerbitan obligasi korporasi telah mencapai Rp87,35 triliun atau sekitar separuh dari estimasi titik tengah yang dipatok Pefindo.

"Jadi, sejauh ini proyeksi dari Pefindo sejak awal tahun kemarin masih inline," ujar Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, Suhindarto, dikutip Antara.

Menurut Suhindarto, tingginya aktivitas penerbitan obligasi pada semester II-2026 tidak lepas dari meningkatnya nilai surat utang yang memasuki masa jatuh tempo. Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan membutuhkan pembiayaan baru untuk memenuhi kewajiban yang akan berakhir.

Pefindo mencatat nilai obligasi korporasi yang jatuh tempo pada semester II-2026 mencapai Rp107,5 triliun. Nilai tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan dengan semester I-2026 yang sebesar Rp55 triliun.

Besarnya nilai jatuh tempo tersebut diperkirakan akan mendorong emiten kembali masuk ke pasar obligasi untuk melakukan refinancing. Dengan menerbitkan surat utang baru, perusahaan dapat menjaga kelancaran arus pendanaan sekaligus memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo.

Selain didorong kebutuhan refinancing, prospek pasar obligasi korporasi juga ditopang kondisi ekonomi domestik yang diperkirakan tetap stabil sepanjang semester II-2026.

Pefindo menilai kebijakan fiskal yang tetap ekspansif masih menjadi penyangga pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, kebijakan moneter yang terarah dinilai mampu menjaga stabilitas pasar keuangan sehingga memberikan ruang bagi aktivitas penerbitan surat utang.

Di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham sepanjang 2026, obligasi korporasi juga dinilai menawarkan daya tarik tersendiri bagi investor. Imbal hasil atau yield yang relatif kompetitif membuat instrumen ini berpotensi menjadi alternatif investasi di tengah dinamika pasar keuangan.

Meski prospeknya dinilai positif, Pefindo tetap mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi pelaku pasar. Berbagai faktor eksternal maupun domestik masih berpotensi memengaruhi laju penerbitan obligasi korporasi pada semester II-2026.

Beberapa risiko yang menjadi perhatian antara lain ketidakpastian geopolitik global, potensi kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), bertahannya suku bunga acuan pada level tinggi, volatilitas nilai tukar rupiah, hingga meningkatnya persaingan dengan instrumen investasi lain seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Pefindo Korporasi obligasi