RADARBANYUWANGI.ID - Ketidakpastian ekonomi dunia kembali meningkat seiring memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran sejak awal Juli 2026. Eskalasi tersebut memicu tekanan baru terhadap pasar keuangan global, terutama akibat terganggunya jalur perdagangan strategis di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, Bank Indonesia (BI) menilai kondisi fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat untuk menghadapi rambatan tekanan eksternal. Permintaan domestik yang tetap solid serta koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi faktor utama yang menjaga ketahanan ekonomi Indonesia.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, salah satu dampak terbesar dari meningkatnya ketegangan geopolitik terjadi di kawasan Selat Hormuz. Jalur pelayaran tersebut merupakan salah satu titik penting perdagangan energi dunia.
"Lalu lintas di Selat Hormuz kembali terhambat sehingga mengganggu produksi dan rantai pasok perdagangan antarnegara, serta harga minyak dan berbagai komoditas dunia berbalik naik," ujar Perry, dikutip Antara.
Gangguan tersebut turut menekan prospek ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 diperkirakan melambat di sekitar 3 persen, sementara inflasi global berpotensi meningkat hingga 4,5 persen. Kondisi ini membuat sejumlah bank sentral dunia perlu menyesuaikan kebijakan moneternya.
Tekanan juga terlihat di pasar keuangan internasional. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) mengalami kenaikan. Per 20 Juli 2026, yield obligasi AS tenor 10 tahun tercatat mencapai 4,56 persen, sedangkan tenor 2 tahun berada di level 4,18 persen.
Kenaikan imbal hasil tersebut mendorong perpindahan aliran modal dari sejumlah negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman. Pada saat bersamaan, dolar AS mengalami penguatan terhadap berbagai mata uang global.
Di tengah tekanan eksternal, BI melihat ekonomi Indonesia masih memiliki daya tahan yang baik. Salah satu penopangnya berasal dari konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga sepanjang triwulan II 2026.
Pemerintah melalui berbagai program prioritas turut berperan menjaga daya beli masyarakat. Realisasi belanja negara, pencairan gaji ke-13 bagi Aparatur Sipil Negara (ASN), serta penyaluran bantuan sosial kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menjadi stimulus penting bagi aktivitas ekonomi.
"Konsumsi rumah tangga tetap terjaga berkat berbagai stimulus pemerintah, seperti bantuan pangan, potongan tarif transportasi, hingga program makan dan pelatihan vokasi nasional," kata Perry.
Selain konsumsi, aktivitas investasi juga menunjukkan perkembangan positif. Sektor konstruksi yang berkaitan dengan Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) tetap bergerak, sementara investasi swasta terus diarahkan agar semakin kuat.
Beberapa sektor usaha seperti industri pengolahan, konstruksi, transportasi, dan pergudangan masih mencatat kinerja yang stabil. Kondisi tersebut menjadi modal penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia, BI terus memperkuat bauran kebijakan melalui instrumen moneter, makroprudensial, serta sistem pembayaran. Kebijakan tersebut dilakukan secara terkoordinasi bersama pemerintah agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.
BI juga mendorong penguatan ekspor untuk memanfaatkan peluang dari tingginya harga sejumlah komoditas dunia. Strategi tersebut diharapkan mampu memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi di tengah perlambatan global.
Dengan berbagai langkah tersebut, BI tetap optimistis perekonomian Indonesia pada 2026 mampu tumbuh positif.
"Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 tetap baik, berada dalam kisaran 4,9 persen sampai dengan 5,7 persen," pungkas Perry.
Ketahanan ekonomi domestik, menurut BI, menjadi kunci agar Indonesia mampu melewati tekanan global tanpa kehilangan momentum pembangunan nasional.
Editor : Lugas RumpakaadiSumber : Antara