KAI dan INKA Mulai Integrasi Strategis, Siapkan Kebutuhan Ratusan Rangkaian Kereta hingga 2040

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 08:26 WIB
Kereta KRL produksi PT INKA Banyuwangi tiba di Stasiun Probolinggo melalui jalur darat menggunakan trailer khusus karena tak dapat melintasi Terowongan Mrawan. (Dok. Radar Bromo)
Kereta KRL produksi PT INKA Banyuwangi tiba di Stasiun Probolinggo melalui jalur darat menggunakan trailer khusus karena tak dapat melintasi Terowongan Mrawan. (Dok. Radar Bromo)

RADARBANYUWANGI.ID - Dua badan usaha milik negara (BUMN) yang menjadi tulang punggung transportasi massal berbasis rel di Indonesia, PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT Industri Kereta Api (INKA), resmi memulai proses integrasi strategis.

Langkah awal tersebut ditandai melalui agenda Kick-Off Integrasi KAI dan INKA yang digelar di Ballroom Jakarta Railway Center, Jakarta, Selasa (21/7/2026).

Agenda tersebut dihadiri jajaran direksi KAI dan INKA, perwakilan Danantara Asset Management, tim Project Management Office (PMO), konsultan, serta manajemen kedua perusahaan.

Integrasi diarahkan untuk menyelaraskan proyeksi kebutuhan armada kereta api dari sisi operator dengan kemampuan produksi manufaktur nasional.

Senior Vice President Business Performance & Asset Optimization Cluster Logistic Danantara Asset Management, Desty Arlaini, menegaskan keberhasilan integrasi tidak hanya ditentukan oleh penyatuan proses bisnis, tetapi juga kesamaan visi dan budaya kerja.

Menurutnya, seluruh pimpinan dan insan di kedua perusahaan harus memiliki visi yang sama, membangun nilai bersama (shared values), serta menempatkan kebutuhan pelanggan sebagai prioritas utama.

KAI dan INKA juga diharapkan mampu bergerak sebagai satu tim dengan saling menghargai kompetensi masing-masing.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan penguatan sinergi antara operator dan produsen kereta menjadi kebutuhan mendesak seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.

Sepanjang Semester I 2026, KAI mencatat volume pelanggan mencapai 258,99 juta orang atau tumbuh 7,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sejalan dengan peningkatan permintaan layanan tersebut, KAI memperkirakan kebutuhan sarana Kereta Rel Listrik (KRL) mencapai sekitar 156 rangkaian hingga tahun 2040.

Bobby menjelaskan angka tersebut masih sebatas estimasi kebutuhan KRL untuk layanan perkotaan dan komuter.

Perhitungan itu belum mencakup kebutuhan Kereta Rel Diesel (KRD), rangkaian kereta api jarak jauh, lokomotif, maupun kereta barang sehingga potensi pengembangan industri manufaktur nasional dinilai masih sangat besar.

Ia menambahkan, proyeksi jangka panjang tersebut membutuhkan sinkronisasi sejak tahap desain, penyesuaian kapasitas pabrik, proses pengujian sarana, hingga jadwal penyerahan produk.

Model integrasi antara operator dan industri manufaktur domestik, menurutnya, telah terbukti berhasil diterapkan di berbagai negara.

Bobby menilai semakin kuat industri manufaktur nasional, semakin besar pula kemampuan Indonesia menghadirkan sarana perkeretaapian yang aman, andal, nyaman, dan sesuai karakter operasional di dalam negeri.

Karena itu, keberhasilan integrasi KAI dan INKA diharapkan menjadi salah satu fondasi dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045.

Sementara itu, Direktur Utama PT INKA (Persero), Bambang Jatmika, menyebut dimulainya integrasi menjadi tonggak penting dalam menyatukan pengalaman operasional KAI dengan kemampuan rekayasa teknologi yang dimiliki INKA.

Menurutnya, kolaborasi tersebut akan mempertemukan pengalaman KAI dalam memahami kebutuhan operasional di lapangan dengan kompetensi INKA pada bidang desain, rekayasa (engineering), dan produksi kereta api.

Sinergi itu juga diyakini akan mempermudah penyusunan jadwal produksi, standardisasi kualitas, hingga penguatan penguasaan teknologi perkeretaapian masa depan.

Melalui integrasi yang semakin erat, KAI dan INKA optimistis mampu menghadirkan produk kereta api buatan dalam negeri yang lebih kompetitif dan berdaya saing tinggi, sekaligus memperkuat keamanan serta kenyamanan layanan transportasi massal bagi masyarakat Indonesia.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
inka KAI Kereta Api bumn