Ancaman Status Frontier Market Mereda, Investor Asing Kembali Melirik Saham Big Caps Bank di Bursa Indonesia

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 14:57 WIB
Prospek pasar saham Indonesia semester II 2026. (JawaPos.com)
Prospek pasar saham Indonesia semester II 2026. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Pergerakan pasar saham Indonesia pada semester II 2026 diproyeksikan masih menghadapi sejumlah tantangan global. Namun, peluang penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap terbuka seiring membaiknya fundamental ekonomi nasional, valuasi saham yang semakin menarik, serta mulai pulihnya kepercayaan investor asing.

PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI) menilai, keberhasilan Indonesia mempertahankan status dalam indeks MSCI Emerging Market menjadi salah satu faktor penting yang menjaga daya tarik pasar modal domestik. Selain itu, kembalinya minat pemodal asing terhadap saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan, menjadi sinyal positif bagi arah bursa ke depan.

Head of Research and Chief Economist MASI, Rully Arya Wisnubroto, menyampaikan bahwa pasar saham Indonesia telah melewati fase pemulihan teknis atau technical rebound. Kini, perhatian investor mulai bergeser dari sekadar mencari momentum kenaikan harga menuju penilaian terhadap kekuatan fundamental ekonomi dan prospek kinerja perusahaan tercatat.

“Perhatian investor kini tidak lagi hanya tertuju pada momentum rebound, tetapi juga pada kekuatan fundamental ekonomi dan prospek kinerja emiten di tengah tantangan makro yang masih berlangsung,” ujar Rully dalam acara Mirae Asset Media Day di Jakarta, dikutip Antara.

Menurutnya, tantangan terbesar pada paruh kedua 2026 masih berasal dari arah kebijakan moneter global. Mirae Asset memperkirakan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed masih akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dengan potensi kenaikan masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember 2026.

Kondisi tersebut berpotensi menjaga tekanan terhadap likuiditas dolar AS dan memberikan pengaruh terhadap nilai tukar rupiah. Di sisi lain, risiko perlambatan ekonomi global serta potensi twin deficit membuat ruang Bank Indonesia dalam melakukan penyesuaian suku bunga menjadi lebih terbatas.

Meski demikian, pasar modal Indonesia mendapatkan sentimen positif setelah MSCI mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market. Research Analyst MASI, Wilbert Arifin, menjelaskan keputusan tersebut memberikan kepastian bagi investor, meskipun Indonesia masih berada dalam periode pemantauan hingga November 2026.

Sebelumnya, kekhawatiran terhadap kemungkinan penurunan status Indonesia menjadi Frontier Market sempat membayangi pasar. Perubahan klasifikasi tersebut dikhawatirkan dapat memicu arus dana keluar hingga sekitar Rp80 triliun.

Setelah keputusan MSCI diumumkan, risiko tersebut mulai mereda. Namun, bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets masih mengalami penurunan menjadi sekitar 0,4 persen pada Juni 2026, dibandingkan 1,2 persen pada akhir 2025 akibat tekanan arus modal sebelumnya.

Wilbert menyebut, arus keluar dana asing masih banyak berasal dari investor berbasis indeks atau index linked funds. Sementara itu, investor strategis masih mempertahankan kepemilikan pada saham-saham perbankan dengan kapitalisasi besar.

“Net outflow asing masih didominasi dana yang mengacu pada indeks, sementara investor strategis tetap mempertahankan eksposurnya pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar,” jelas Wilbert.

Selain faktor MSCI, peluang penguatan pasar juga didukung oleh kondisi valuasi saham Indonesia yang berada pada level rendah. MASI mencatat, valuasi pasar saham domestik saat ini berada di titik paling murah dalam satu dekade terakhir.

Kondisi tersebut dinilai membuka peluang masuknya kembali modal asing apabila sentimen global membaik dan potensi pembukaan kembali inklusi indeks MSCI terealisasi di masa mendatang.

Wilbert menegaskan, arah pasar saham Indonesia pada semester II 2026 akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan daya tarik investasi, serta mendorong pertumbuhan laba perusahaan.

“Stabilitas makroekonomi, daya tarik pasar modal, dan peningkatan kinerja emiten akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar saham Indonesia pada semester kedua 2026,” pungkasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Pasar saham Indonesia 2026 MSCI Emerging Market