Biodiesel B50 Dikebut, Pemerintah Bidik Swasembada Energi dan Putus Ketergantungan Impor Solar

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 13:52 WIB
Pemerintah mempercepat implementasi biodiesel B50 sebagai langkah menuju swasembada energi nasional. (Radar Bromo)
Pemerintah mempercepat implementasi biodiesel B50 sebagai langkah menuju swasembada energi nasional. (Radar Bromo)

RADARBANYUWANGI.ID - Pemerintah terus mempercepat langkah menuju kemandirian energi nasional melalui implementasi program biodiesel B50. Kebijakan strategis ini menjadi salah satu upaya besar untuk memperkuat swasembada energi sekaligus mengurangi hingga menghentikan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak jenis solar.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyebut program B50 merupakan bagian dari visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam membangun kemandirian bangsa dengan mengoptimalkan potensi dalam negeri. Salah satunya melalui pemanfaatan sektor pertanian sebagai sumber energi nasional.

Menurut Sudaryono, percepatan program B50 dilakukan dengan pendekatan Best Fast Result (BFR). Strategi tersebut mengedepankan kerja cepat, terukur, dan menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat.

"Presiden ingin segala sesuatunya best fast result. Programnya besar, dikerjakan dengan cepat, dan memberikan dampak nyata. Potensi swasembada pangan harus diwujudkan menjadi kenyataan, begitu pula dengan potensi swasembada energi," ujar Sudaryono dalam keterangan resminya, dikutip Antara.

Melalui penerapan B50, kebutuhan bahan bakar diesel nasional nantinya akan mendapat dukungan dari campuran minyak sawit produksi dalam negeri. Komposisinya terdiri atas 50 persen minyak bumi dan 50 persen bahan bakar berbasis minyak sawit.

Kebijakan tersebut dinilai mampu memperpendek ketergantungan terhadap pasokan solar dari luar negeri. Selain memperkuat ketahanan energi, program ini juga membuka ruang lebih besar bagi hasil produksi petani sawit Indonesia untuk masuk dalam rantai energi nasional.

"Ini menunjukkan negara agraris seperti Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alam dan kerja keras petaninya untuk mencapai swasembada energi," tutur Sudaryono.

Sudaryono menjelaskan, langkah menuju swasembada energi tidak terlepas dari pengalaman Indonesia dalam membangun ketahanan pangan. Pandemi COVID-19 menjadi momentum penting ketika banyak negara memilih mengutamakan kebutuhan domestiknya dan membatasi ekspor berbagai komoditas pangan.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pelajaran bahwa kemandirian nasional harus dibangun melalui penguatan sumber daya sendiri.

"Saat pandemi kita merasakan sulitnya memperoleh beras dari negara lain. Dari pengalaman itulah kita bekerja keras hingga akhirnya Indonesia mencapai swasembada pangan. Sekarang kita melangkah lebih jauh dengan memperkuat swasembada energi," jelasnya.

Pemerintah berharap program B50 tidak berhenti sebagai gagasan jangka panjang, melainkan segera memberikan manfaat nyata. Dengan eksekusi yang cepat dan konsisten, kebijakan tersebut diharapkan mampu memperkuat ekonomi nasional sekaligus menciptakan ketahanan energi yang lebih kokoh.

Sudaryono menegaskan, program strategis nasional harus dijalankan dengan orientasi hasil agar manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat.

"Kalau programnya besar tetapi terlalu lama dikerjakan, manfaatnya juga terlambat dirasakan. Karena itu Presiden selalu mendorong agar setiap kebijakan dieksekusi cepat dengan hasil terbaik," pungkasnya.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
biodiesel B50 indonesia