RADARBANYUWANGI.ID - Perubahan pola transaksi mulai terlihat di sejumlah sudut Pasar Blambangan Banyuwangi. Di tengah hiruk pikuk aktivitas jual beli dengan uang tunai yang masih mendominasi, beberapa pedagang mulai menghadirkan pilihan pembayaran digital melalui barcode QRIS.
Stiker QRIS kini terlihat menempel di sejumlah warung kelontong, toko sembako, hingga lapak pedagang yang dikelola generasi muda. Kehadirannya menjadi penanda bahwa teknologi pembayaran modern mulai menemukan ruang di lingkungan pasar tradisional.
Meski demikian, penerapan transaksi digital tersebut belum merata. Barcode QRIS masih lebih banyak ditemukan pada pedagang dengan perputaran barang cukup tinggi atau mereka yang lebih terbiasa menggunakan perangkat telepon pintar dalam aktivitas sehari-hari.
Salah satu pedagang yang telah memanfaatkan layanan tersebut adalah Siti Maryam, 43, pemilik warung kelontong di Pasar Blambangan. Menurut dia, QRIS cukup membantu terutama ketika pelanggan tidak membawa uang tunai dalam jumlah kecil.
“Memang belum semua pembeli pakai. Dalam sehari biasanya ada sekitar tiga sampai lima orang yang melakukan scan QRIS. Kebanyakan anak muda atau pegawai kantor yang mampir belanja sepulang kerja,” ujar Siti.
Menurutnya, pembayaran digital memberikan kemudahan saat menghadapi kondisi tertentu, terutama ketika persediaan uang pecahan untuk kembalian terbatas.
“Lumayan membantu, jadi tidak bingung mencari uang kembalian receh kalau stok koin sedang habis,” imbuhnya.
Masuknya QRIS ke pasar tradisional tidak lepas dari peran generasi muda di lingkungan pedagang. Sejumlah pedagang senior yang sebelumnya masih ragu mulai mencoba setelah mendapatkan pendampingan dari anak atau keluarga yang lebih memahami penggunaan aplikasi perbankan digital.
Namun, tidak semua sektor perdagangan di pasar mudah beralih ke sistem pembayaran nontunai. Pada area lapak basah seperti pedagang sayur, ikan, dan bumbu dapur, transaksi menggunakan uang fisik masih menjadi pilihan utama.
Kondisi tersebut berkaitan dengan pola usaha pedagang yang membutuhkan perputaran modal cepat. Banyak pedagang harus kembali berbelanja stok barang pada dini hari sehingga membutuhkan uang tunai yang bisa langsung digunakan.
Selain itu, sejumlah kendala masih menjadi pertimbangan pedagang. Mulai dari kekhawatiran terkait proses pencairan dana yang dianggap tidak langsung masuk, gangguan jaringan seluler di beberapa titik pasar, hingga risiko penipuan menggunakan bukti transfer palsu.
Meski menghadapi berbagai tantangan, keberadaan pedagang yang mulai menggunakan QRIS menjadi langkah awal menuju perubahan pola transaksi di pasar tradisional Banyuwangi. Teknologi digital perlahan hadir tanpa menghilangkan karakter utama pasar, yakni interaksi langsung antara pedagang dan pembeli.
Editor : Lugas Rumpakaadi