IHSG Menguat ke Level 6.273, Investor Menanti Keputusan BI Rate di Tengah Ketidakpastian Global

Lugas Rumpakaadi • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 11:30 WIB
IHSG dibuka menguat ke level 6.273,57 di tengah sikap wait and see investor menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia. (JawaPos.com)
IHSG dibuka menguat ke level 6.273,57 di tengah sikap wait and see investor menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia. (JawaPos.com)

RADARBANYUWANGI.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mengawali perdagangan Selasa (21/7/2026) di zona hijau. Penguatan indeks terjadi di tengah sikap pelaku pasar yang masih memilih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) terkait penetapan suku bunga acuan.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG naik 41,79 poin atau 0,67 persen ke level 6.273,57. Sejalan dengan itu, indeks saham unggulan LQ45 juga menguat 6,25 poin atau 1 persen menjadi 634,00.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menilai pergerakan IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan. Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mengantisipasi aksi ambil untung yang dapat membatasi kenaikan indeks.

"IHSG diperkirakan berpotensi menguji level resistance di kisaran 6.250 hingga 6.300. Namun, potensi profit taking tetap perlu diwaspadai," ujarnya, dikutip Antara.

Fokus perhatian investor saat ini tertuju pada hasil RDG BI yang berlangsung pada 21–22 Juli 2026. Salah satu agenda utama rapat tersebut adalah menentukan arah kebijakan BI-Rate yang saat ini berada di level 5,75 persen. Sepanjang 2026, bank sentral telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali dengan total kenaikan mencapai 100 basis poin.

Di sisi lain, kondisi ekonomi domestik menunjukkan sinyal yang masih cukup solid. Berdasarkan Survei Perbankan Bank Indonesia, nilai saldo bersih tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru pada kuartal II 2026 mencapai 93,08 persen. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan kuartal I 2026 yang sebesar 38,74 persen dan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 85,22 persen.

Penyaluran kredit modal kerja menjadi kontributor terbesar dengan SBT 94,34 persen, disusul kredit investasi sebesar 93,51 persen serta kredit konsumsi sebesar 83,67 persen.

Meski penyaluran kredit meningkat, Bank Indonesia mencatat perbankan tetap menerapkan standar pemberian kredit yang lebih ketat selama kuartal II 2026. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi masih berada pada fase ekspansi, ditopang meningkatnya permintaan pembiayaan dari dunia usaha maupun masyarakat.

Dari pasar global, sentimen masih dipengaruhi meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik tersebut mendorong harga minyak mentah naik, meski sempat mereda setelah muncul harapan penyelesaian diplomatik dari pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Ratna mengatakan kenaikan harga minyak yang bertahan dalam waktu lama berpotensi meningkatkan kembali tekanan inflasi di Amerika Serikat. Dampaknya, ekspektasi pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve juga dapat meningkat.

Sementara itu, Bank Sentral China (PBoC) mempertahankan suku bunga pinjaman utama di level terendah dalam 14 bulan terakhir, yakni 3 persen untuk tenor satu tahun dan 3,5 persen untuk tenor lima tahun. Kebijakan tersebut diambil meskipun pertumbuhan ekonomi China pada kuartal II 2026 melambat, dengan pertimbangan tingginya ketidakpastian akibat konflik di kawasan Timur Tengah.

Pergerakan bursa saham global pada awal pekan juga masih bervariasi. Di Eropa, indeks Euro Stoxx 50 turun 0,10 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,71 persen, sementara DAX Jerman naik 0,06 persen dan CAC 40 Prancis menguat tipis 0,02 persen.

Di Amerika Serikat, seluruh indeks utama Wall Street ditutup melemah. Indeks S&P 500 turun 0,19 persen menjadi 7.443,28, Nasdaq Composite terkoreksi 0,05 persen ke level 25.508,07, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 0,59 persen menjadi 51.839,26.

Adapun bursa saham Asia pada perdagangan Selasa pagi bergerak beragam. Sebagian indeks mencatat penguatan, sementara indeks Shanghai, Hang Seng, dan Kospi berada di zona merah. Kondisi tersebut mencerminkan pelaku pasar global masih berhati-hati menanti arah kebijakan bank sentral serta perkembangan geopolitik internasional.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Sumber : Antara
Pasar Saham bi rate ihsg Bank Indonesia bursa efek indonesia