RADAR BANYUWANGI – Bagaimana agar santunan kematian tidak habis hanya untuk kebutuhan sehari-hari? Pertanyaan itulah yang melatarbelakangi lahirnya Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian (PEKA) dari BPJS Ketenagakerjaan.
Program yang baru diluncurkan pada awal Juli 2026 ini dirancang untuk mendorong para ahli waris peserta menjadi pelaku usaha mandiri sehingga tetap memiliki sumber penghasilan setelah kehilangan tulang punggung keluarga.
Program tersebut ditinjau langsung Direktur BPJS Ketenagakerjaan Saiful Hidayat bersama Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Banyuwangi, Jumat (17/7).
Secara nasional, sekitar 1.000 ahli waris telah menjadi penerima manfaat Program PEKA, sementara di Banyuwangi terdapat sekitar 100 peserta yang mulai mendapatkan pelatihan dan pendampingan usaha.
Santunan Tidak Boleh Habis untuk Konsumsi
Direktur BPJS Ketenagakerjaan, Saiful Hidayat, menjelaskan bahwa Program PEKA hadir sebagai upaya memastikan manfaat jaminan sosial memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan.
Menurutnya, selama ini ahli waris menerima santunan dengan nilai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Namun tanpa perencanaan yang baik, dana tersebut berpotensi habis dalam waktu singkat.
"Kami ingin memastikan manfaat yang diberikan benar-benar berdampak jangka panjang. Jangan sampai santunan yang jumlahnya puluhan hingga ratusan juta rupiah habis dalam satu atau dua bulan," ujar Saiful.
Karena itu, BPJS Ketenagakerjaan mengarahkan dana santunan agar dapat dimanfaatkan sebagai modal membangun usaha dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Mengusung Konsep 3P
Program PEKA dijalankan melalui konsep 3P, yaitu:
-
Pelatihan
-
Produktif
-
Pendampingan
Peserta tidak hanya memperoleh pelatihan kewirausahaan, tetapi juga mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan sesuai jenis usaha yang ingin dikembangkan.
BPJS Ketenagakerjaan menargetkan minimal 10 persen peserta telah memiliki usaha produktif dalam tiga bulan pertama setelah mengikuti program.
Untuk mendukung target tersebut, peserta akan dihubungkan dengan berbagai ekosistem usaha, mulai dari akses pembiayaan perbankan, pengembangan bisnis, hingga pemasaran digital.
"Kami tidak ingin pelatihan hanya sekadar hadir, menerima sertifikat lalu selesai. Semua peserta akan kami pantau perkembangannya agar benar-benar mampu mandiri," tegas Saiful.
Banyuwangi Sambut Positif Program PEKA
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyatakan Program PEKA menjadi pelengkap berbagai program pengentasan kemiskinan yang selama ini dijalankan pemerintah daerah.
Menurutnya, kolaborasi dengan BPJS Ketenagakerjaan sangat membantu, terutama di tengah keterbatasan kemampuan anggaran daerah.
"Di tengah keterbatasan anggaran daerah, kami sangat terbantu dengan program dari BPJS Ketenagakerjaan. Ini menjadi bagian dari skema lain dalam penanganan kemiskinan di Banyuwangi," kata Ipuk.
Meski demikian, Ipuk menegaskan keberhasilan program sangat bergantung pada semangat para penerima manfaat.
Ia berharap peserta memiliki motivasi untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan usaha sehingga mampu menciptakan kemandirian ekonomi bagi keluarganya.
Dari Kehilangan Suami hingga Berani Merintis Usaha
Harapan itu kini mulai dirasakan Elsi Yutanti (53), salah satu peserta Program PEKA asal Banyuwangi.
Elsi mengaku kehilangan sumber penghasilan setelah suaminya yang bekerja sebagai perangkat desa di Kecamatan Tegalsari meninggal dunia pada April lalu.
Selama ini sang suami menjadi pencari nafkah utama keluarga. Kondisi tersebut membuat Elsi harus memulai kembali perjuangan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Melalui Program PEKA, ia kini mulai berani merintis usaha sendiri dengan bekal pelatihan dan pendampingan yang diterimanya.
"Sejak suami meninggal saya tidak punya pendapatan sama sekali. Sekarang, melalui Program PEKA, saya mulai berani merintis usaha sendiri. Mudah-mudahan ke depan bisa mandiri dan membantu perekonomian keluarga," ungkap Elsi.
Kolaborasi Jaminan Sosial dan Pemberdayaan Ekonomi
Program PEKA menjadi langkah baru BPJS Ketenagakerjaan dalam memperluas manfaat jaminan sosial ketenagakerjaan. Tidak hanya memberikan santunan kepada ahli waris, tetapi juga membangun fondasi ekonomi keluarga agar tetap produktif setelah kehilangan pencari nafkah.
Dengan pendampingan berkelanjutan, akses pembiayaan, hingga pemasaran digital, program ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak pelaku usaha baru yang mandiri sekaligus memperkuat upaya pengentasan kemiskinan di daerah, termasuk Banyuwangi. (*)
Editor : Ali Sodiqin