Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tak Sekadar Karnaval, BEC 2026 Hidupkan Belasan Subsektor Ekraf dan Ciptakan Lapangan Kerja Baru di Banyuwangi

Loanda Ajeng Rossiani • Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:56 WIB
Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 menjadi penggerak ekonomi kreatif. (Lugas Rumpakaadi/Radar Banyuwangi)
Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026 menjadi penggerak ekonomi kreatif. (Lugas Rumpakaadi/Radar Banyuwangi)

RADARBANYUWANGI.ID - Kemegahan kostum bertema Perang Bayu yang memikat ribuan pasang mata di sepanjang jalan protokol Banyuwangi pada pertengahan Juli 2026 bukan hanya menghadirkan tontonan budaya. Di balik parade spektakuler tersebut, Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) telah berkembang menjadi penggerak utama ekonomi kreatif yang melibatkan banyak sektor sekaligus.

Masuknya BEC dalam jajaran agenda unggulan Karisma Event Nusantara (KEN) menjadi bukti bahwa festival budaya ini memiliki dampak yang jauh melampaui aspek hiburan. BEC dinilai berhasil mengubah potensi budaya lokal menjadi pengungkit kesejahteraan masyarakat melalui keterlibatan berbagai subsektor ekonomi kreatif.

Efek ekonomi BEC bahkan sudah terasa jauh sebelum hari pelaksanaan. Persiapan karnaval menggerakkan subsektor fesyen dan kriya dengan meningkatnya permintaan pembuatan kostum. Desainer lokal, penjahit rumahan, hingga pengrajin manik-manik, logam, dan berbagai aksesori memperoleh pesanan dalam jumlah besar untuk mendukung parade budaya tersebut.

Perputaran ekonomi kemudian meluas ke subsektor seni pertunjukan dan musik. Para komposer lokal menyusun aransemen musik etnik modern yang menjadi identitas pertunjukan, sementara ratusan musisi, penabuh gamelan, penari tradisional, dan pelaku seni lainnya terlibat menghidupkan suasana sepanjang jalur karnaval.

Saat pelaksanaan BEC berlangsung, subsektor fotografi dan videografi ikut menikmati dampak positif. Ribuan fotografer, videografer, hingga kreator konten dari berbagai daerah memadati Banyuwangi untuk mengabadikan kemeriahan acara. Aktivitas tersebut turut meningkatkan kebutuhan jasa dokumentasi serta penyewaan peralatan fotografi.

Sektor kuliner juga menjadi salah satu penerima manfaat terbesar. Pedagang makanan tradisional, pelaku UMKM kuliner, hingga kafe di sekitar lokasi parade mengalami peningkatan omzet seiring melonjaknya jumlah wisatawan yang memadati rute sepanjang sekitar dua kilometer.

Keunikan lain BEC terletak pada proses pembinaan sumber daya manusia yang dilakukan jauh sebelum acara berlangsung. Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mengembangkan sistem inkubasi melalui berbagai workshop yang melibatkan pelajar, mahasiswa, dan desainer lokal.

Dalam program tersebut, peserta mendapatkan pendampingan langsung dari praktisi fesyen nasional. Mereka dibekali kemampuan menerjemahkan narasi sejarah, seperti kisah Perang Bayu, ke dalam rancangan kostum, memilih material yang lebih ramah lingkungan, hingga mempelajari teknik konstruksi agar kostum tetap nyaman digunakan saat parade berlangsung.

Program pembinaan tersebut tidak hanya menghasilkan karya untuk kebutuhan karnaval, tetapi juga membuka peluang ekonomi jangka panjang. Sejumlah alumni workshop BEC kini mengembangkan usaha sendiri, mulai dari event organizer, agensi model, persewaan kostum fantasi, hingga bisnis busana pengantin bernuansa etnik yang memiliki pasar di berbagai daerah di Jawa Timur.

Pada penyelenggaraan tahun 2026, dampak ekonomi BEC semakin diperluas melalui penyelenggaraan Sekarkijang Creative Fest. Kegiatan pendukung ini menjadi etalase bagi produk unggulan UMKM dari kawasan Sekarsidenan Besuki dan wilayah sekitarnya.

Digitalisasi menjadi salah satu pembeda dalam pelaksanaan festival tersebut. Pelaku UMKM didorong memanfaatkan transaksi nontunai melalui QRIS sekaligus mengintegrasikan penjualan dengan platform perdagangan elektronik. Dengan sistem tersebut, wisatawan dapat membeli produk secara digital tanpa harus membawa banyak barang selama menikmati karnaval. Produk yang dibeli selanjutnya dapat dikirim langsung ke alamat pembeli.

Model pengembangan tersebut menunjukkan bahwa BEC tidak lagi diposisikan sekadar sebagai agenda budaya tahunan. Festival ini telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi kreatif yang menghubungkan pelaku seni, desainer, UMKM, industri kreatif, hingga sektor pariwisata dalam satu rantai nilai yang saling menguatkan.

Editor : Lugas Rumpakaadi
Perang Bayu BEC 2026 ekonomi kreatif Banyuwangi Ethno Carnival