RADARBANYUWANGI.ID - Meningkatnya aktivitas ekspor, penguatan hilirisasi industri sawit, serta persiapan implementasi biodiesel B50 mendorong lonjakan distribusi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) melalui jalur kereta api. Sepanjang Semester I 2026, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat angkutan komoditas perkebunan, yang didominasi CPO dan produk turunannya, tumbuh signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan volume angkutan perkebunan pada Januari–Juni 2026 mencapai 324.579 ton, meningkat 17,83 persen dibanding Semester I 2025 yang sebesar 275.475 ton. Dengan demikian, terdapat tambahan angkutan mencapai 49.104 ton dalam setahun.
"Angkutan didominasi CPO dan produk turunan sawit. Layanan berbasis rel mendukung rantai pasok industri, ekspor, dan kesiapan energi nabati B50," ujar Anne, Sabtu (18/7/2026), dikutip Antara.
Peningkatan angkutan tersebut menunjukkan kebutuhan pelaku usaha terhadap layanan logistik berkapasitas besar terus bertambah. CPO merupakan salah satu komoditas strategis Indonesia yang memiliki keterkaitan erat dengan industri pengolahan, perdagangan antardaerah, ekspor, hingga penyediaan bahan baku energi terbarukan.
Selain menjadi komoditas ekspor andalan, minyak sawit juga memiliki peran penting dalam mendukung program biodiesel nasional. Karena itu, kelancaran distribusi dari kawasan produksi menuju pabrik pengolahan maupun pelabuhan menjadi salah satu faktor yang menentukan keberlangsungan rantai pasok.
"Komoditas perkebunan, terutama sawit, memiliki peran penting bagi aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Distribusi yang lancar membantu menjaga pasokan bahan baku industri, mendukung ekspor, dan memperkuat daya saing komoditas Indonesia," kata Anne.
Menurut Anne, kebutuhan terhadap bahan baku nabati diperkirakan akan terus meningkat seiring penguatan kebijakan energi nasional, termasuk kesiapan implementasi biodiesel B50.
Kondisi tersebut membuat sistem logistik yang efisien semakin dibutuhkan agar distribusi CPO dari sentra produksi menuju industri pengolahan dapat berlangsung tepat waktu dan berkelanjutan.
"Agenda energi nasional membutuhkan dukungan logistik yang kuat. Ketika kebutuhan bahan baku nabati meningkat, termasuk dalam kesiapan B50, distribusi CPO dan produk turunannya perlu ditopang sistem logistik yang efisien, konsisten, dan terhubung," ujarnya.
Di berbagai wilayah Sumatra, layanan angkutan barang berbasis rel telah menghubungkan kawasan perkebunan dengan industri pengolahan hingga pelabuhan ekspor. Pola distribusi tersebut membantu menjaga kelancaran arus barang sekaligus mendukung aktivitas ekonomi daerah yang bergantung pada sektor perkebunan.
Dari sisi keberlanjutan, kereta api juga dinilai memiliki keunggulan karena mampu mengangkut barang dalam jumlah besar dalam satu perjalanan. Model distribusi ini membantu mengurangi kepadatan kendaraan berat di jalan raya, meningkatkan efisiensi penggunaan energi per ton barang, serta menjadi pilihan logistik yang lebih efektif bagi komoditas berkapasitas besar seperti CPO.
Anne menilai pertumbuhan angkutan perkebunan menjadi indikator positif bagi sektor logistik nasional. Konektivitas yang semakin baik antara kawasan produksi, industri pengolahan, dan pelabuhan diyakini mampu meningkatkan efisiensi distribusi sekaligus memperkuat daya saing komoditas perkebunan Indonesia di pasar global.
"KAI akan terus memperkuat layanan logistik untuk mendukung sektor-sektor produktif nasional," tegasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi