RADARBANYUWANGI.ID - Upaya mengangkat potensi batik sebagai kekuatan ekonomi kreatif sekaligus identitas budaya terus diperkuat. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember bersama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menggelar talk show bertajuk "Inovasi Motif Batik dan Wastra Berkelanjutan: Merajut Tradisi Menciptakan Masa Depan" di Banyuwangi, Kamis (16/7/2026) di Taman Blambangan, Banyuwangi.
Kegiatan ini menjadi salah satu rangkaian Sekar Kijang Creative Fest (SCF) 2026 dan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2026.
Ratusan peserta yang terdiri atas pelaku UMKM, perajin batik, desainer fesyen, akademisi, hingga pelajar SMA/SMK/MA dari wilayah Sekar Kijang (eks Karesidenan Besuki dan Lumajang) memenuhi lokasi kegiatan.
Mereka diajak melihat peluang besar industri wastra Indonesia sekaligus didorong melahirkan inovasi motif batik yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember Ahmad mengatakan, batik tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi juga menjadi sektor ekonomi yang terus menunjukkan pertumbuhan positif. Karena itu, inovasi menjadi kunci agar batik tetap relevan di tengah perubahan tren fesyen dunia.
Menurut dia, berdasarkan data triwulan II tahun 2025, nilai ekspor batik Indonesia mencapai sekitar 5,09 juta dolar Amerika Serikat. Industri tersebut juga menyerap sekitar 1,52 juta tenaga kerja yang tersebar di lebih dari 47 ribu unit usaha di seluruh Indonesia.
"Ini menunjukkan bahwa batik bukan hanya warisan budaya, tetapi juga sumber penghidupan bagi jutaan masyarakat Indonesia," ujarnya.
Ahmad menegaskan, batik merupakan identitas bangsa yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak 2009. Di balik setiap motif batik tersimpan nilai sejarah, filosofi, hingga karakter suatu daerah.
Karena itu, melalui kegiatan tersebut Bank Indonesia ingin membuka ruang kreativitas seluas-luasnya bagi generasi muda agar mampu menerjemahkan kekayaan budaya lokal menjadi karya yang inovatif, bernilai ekonomi tinggi, sekaligus ramah lingkungan.
"Harapannya, lahir motif-motif baru yang tetap berakar pada kearifan lokal, tetapi memiliki daya saing di pasar global," katanya.
Talk show yang dipandu Analis Fungsi Pelaksana Pengembangan UMKM, Keuangan Inklusif, dan Syariah KPwBI Jember Retno Widiastuti menghadirkan dua narasumber nasional, yakni Ketua Indonesia Fashion Chamber (IFC) Leni Agustin serta Owner Batik Damakara Dini Prihastiti.
Dalam paparannya, Dini membagikan pengalaman membangun Batik Damakara yang memiliki konsep berbeda. Ia mengembangkan motif batik yang terinspirasi dari kisah anak autis, Iris Grace, sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus pembeda produk di tengah persaingan industri.
Menurutnya, pelaku UMKM tidak cukup hanya menghasilkan produk berkualitas. Mereka juga harus mampu membangun cerita (storytelling) dan identitas merek (branding) agar memiliki nilai tambah di mata konsumen maupun perusahaan besar.
"Brand yang kuat akan meningkatkan bargaining power ketika bekerja sama dengan korporasi maupun memasuki pasar yang lebih luas," jelasnya.
Sementara itu, Ketua Indonesia Fashion Chamber Leni Agustin menekankan pentingnya inovasi dalam dunia fesyen tanpa meninggalkan akar budaya. Salah satunya dengan menghadirkan desain kebaya maupun busana berbahan batik dalam tampilan yang lebih modern sehingga dekat dengan selera generasi muda.
Ia menilai, perkembangan tren fesyen saat ini harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk memperluas pasar batik Indonesia. Namun, inovasi tersebut tetap harus dibarengi dengan etika bisnis, penghormatan terhadap hak kekayaan intelektual, serta menjaga orisinalitas karya.
"Jangan sampai kreativitas justru mengabaikan identitas budaya dan menghargai karya sesama desainer," pesannya.
Tak hanya menghadirkan diskusi inspiratif, kegiatan tersebut juga menjadi ajang pencarian talenta muda melalui Lomba Desain Motif Batik Sekar Kijang 2026.
Ratusan pelajar SMA, SMK, dan MA mengikuti kompetisi tersebut dengan mengangkat kekayaan alam, budaya, serta karakter khas daerah masing-masing sebagai sumber inspirasi motif.
Ahmad berharap, sinergi Bank Indonesia dan Pemkab Banyuwangi, mampu melahirkan desainer-desainer muda ini sekaligus memperkuat posisi Banyuwangi dan kawasan Sekar Kijang sebagai salah satu pusat pengembangan industri batik dan wastra kreatif di Indonesia.
Editor : Lugas Rumpakaadi