RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah kenaikan harga pupuk dunia dan menurunnya volume perdagangan global, kelancaran distribusi pupuk di dalam negeri menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga produktivitas sektor pertanian. PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat telah mengangkut 10.050 ton pupuk sepanjang Januari hingga Juni 2026 sebagai bagian dari upaya mendukung distribusi nasional.
Pengiriman menggunakan kereta api menjadi pelengkap jaringan logistik yang menghubungkan lokasi produksi, gudang penyimpanan, hingga daerah tujuan. Moda transportasi berbasis rel dinilai mampu mengangkut muatan dalam jumlah besar dengan jadwal yang teratur, terutama untuk perjalanan antardaerah.
Kinerja angkutan pupuk KAI menunjukkan layanan tersebut telah dimanfaatkan secara berkelanjutan dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang 2024, volume pengiriman pupuk melalui kereta api mencapai 24.180 ton. Sementara pada 2025 tercatat sebanyak 21.060 ton. Hingga Semester I 2026, volume pengiriman telah mencapai 10.050 ton dan masih berpotensi bertambah hingga akhir tahun.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan kereta api dapat menjadi bagian dari sistem distribusi pupuk nasional yang melibatkan berbagai moda transportasi.
"Kereta api memiliki kapasitas untuk melayani pengiriman dalam jumlah besar dengan jadwal perjalanan yang teratur. Layanan ini dapat melengkapi penyaluran yang sudah berjalan, sesuai kebutuhan pelanggan dan kesiapan penerimaan barang di setiap daerah," ujarnya, dikutip Antara.
Menurut Anne, pengiriman antardaerah melalui jalur rel dapat dipadukan dengan transportasi darat untuk menjangkau lokasi tujuan akhir. Pola distribusi tersebut memberi fleksibilitas dalam menyesuaikan kebutuhan pengiriman di setiap wilayah.
Pentingnya sistem logistik yang andal juga dipengaruhi kondisi pasar pupuk global. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mencatat volume perdagangan pupuk dunia sepanjang Januari hingga April 2026 turun sekitar 20–25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, Bank Dunia memperkirakan rata-rata harga pupuk global sepanjang 2026 meningkat sekitar 31 persen. Perubahan tersebut membuat kelancaran distribusi dalam negeri menjadi semakin penting agar pasokan pupuk tetap tersedia sesuai kebutuhan.
Di tingkat nasional, Kementerian Pertanian mencatat realisasi penyaluran pupuk bersubsidi hingga 25 Juni 2026 telah mencapai 54,28 persen dari total alokasi nasional sebesar 9,55 juta ton. Besarnya volume tersebut menunjukkan distribusi pupuk membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari produsen, pemerintah, penyedia transportasi, pengelola gudang, distributor, hingga penerima di daerah.
KAI menilai setiap moda transportasi memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam rantai pasok pupuk. Kereta api dapat melayani perjalanan utama antardaerah, sedangkan distribusi dari dan menuju terminal barang dilanjutkan menggunakan angkutan darat menuju gudang maupun kios penyalur.
Selain pupuk, komoditas tersebut menjadi bagian dari layanan angkutan barang nonbatu bara KAI. Sepanjang Semester I 2026, perusahaan mengangkut 5.963.948 ton barang nonbatu bara yang meliputi peti kemas, bahan bakar minyak, semen dan klinker, hasil perkebunan, barang ritel, pupuk, serta berbagai komoditas lainnya.
Kapasitas tersebut membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dengan Kementerian Pertanian, produsen pupuk, pemerintah daerah, perusahaan logistik, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Skema pengiriman dapat disesuaikan dengan lokasi produksi, jaringan rel, terminal barang, fasilitas penyimpanan, hingga kebutuhan masing-masing daerah.
Anne mengatakan koordinasi antarpihak menjadi kunci dalam menentukan pola distribusi yang paling efektif, mulai dari volume pengiriman, jadwal perjalanan, kesiapan terminal, hingga proses penerimaan di daerah tujuan.
"Kelancaran penyaluran pupuk merupakan hasil kerja bersama. KAI siap menjadi bagian dari kerja tersebut melalui layanan barang yang aman, terjadwal, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengiriman," katanya.
Kelancaran distribusi pupuk menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan sektor pertanian. Ketepatan waktu pengiriman berpengaruh terhadap ketersediaan pupuk di tingkat petani, terutama ketika kebutuhan meningkat pada musim tanam.
Editor : Lugas Rumpakaadi