Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Rupiah Menguat di Tengah Sentimen Domestik Positif, Konflik AS-Iran Masih Jadi Perhatian Pasar

Lugas Rumpakaadi • Jumat, 17 Juli 2026 | 17:59 WIB
Rupiah ditutup menguat 65 poin menjadi Rp17.921 per dolar AS pada perdagangan Jumat (17/7/2026). (Dok. Riau Pos)
Rupiah ditutup menguat 65 poin menjadi Rp17.921 per dolar AS pada perdagangan Jumat (17/7/2026). (Dok. Riau Pos)

RADARBANYUWANGI.ID - Nilai tukar rupiah menutup perdagangan Jumat sore dengan penguatan signifikan. Mata uang Garuda naik 65 poin atau 0,45 persen menjadi Rp17.921 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.986 per dolar AS.

Mengutip Antara, penguatan rupiah didorong sentimen positif dari dalam negeri setelah Bank Indonesia (BI) merilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) periode kuartal II-2026. Laporan tersebut menunjukkan aktivitas dunia usaha mengalami peningkatan dibandingkan kuartal sebelumnya.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, BI mencatat Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II-2026 sebesar 12,97 persen. Angka tersebut meningkat dari 10,11 persen pada kuartal I-2026.

Peningkatan aktivitas usaha didorong oleh membaiknya kinerja sejumlah lapangan usaha utama. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, konstruksi, serta pertambangan dan penggalian menjadi kontributor utama penguatan tersebut.

Selain itu, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum juga menunjukkan pertumbuhan seiring tetap tingginya permintaan masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan musim libur sekolah pada triwulan II-2026.

BI juga mencatat kapasitas produksi terpakai meningkat menjadi 73,8 persen dari sebelumnya 73,33 persen. Kenaikan ini terutama ditopang oleh sektor pertanian, pertambangan, serta pengadaan listrik.

Di sisi lain, kondisi keuangan dunia usaha dinilai masih berada dalam kondisi yang sehat. Aspek likuiditas dan rentabilitas tetap terjaga, sementara akses terhadap pembiayaan atau kredit masih relatif mudah.

Memasuki kuartal III-2026, pelaku usaha memperkirakan aktivitas bisnis masih tumbuh meski dengan laju yang sedikit melambat. BI mencatat proyeksi SBT sebesar 11,75 persen.

Pertumbuhan diperkirakan ditopang oleh sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor, serta konstruksi. Berlanjutnya proyek pemerintah maupun swasta diperkirakan menjadi faktor utama yang menjaga aktivitas sektor konstruksi.

Sementara itu, sektor pertambangan dan penggalian diprediksi turut mengalami peningkatan aktivitas seiring menurunnya curah hujan yang mendukung operasional pertambangan.

Dalam survei lainnya, Prompt Manufacturing Index (PMI) Bank Indonesia pada kuartal II-2026 tercatat sebesar 51,43 persen. Meskipun lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 52,03 persen, angka tersebut masih berada di atas level 50 yang menandakan sektor manufaktur tetap berada dalam fase ekspansi.

Ekspansi tersebut didukung oleh peningkatan volume produksi yang mencapai 53,81 persen, volume persediaan barang jadi sebesar 53 persen, serta volume total pesanan yang berada di level 52,77 persen.

Di tengah sentimen domestik yang positif, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan global. Konflik yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran terhadap kenaikan harga energi dunia yang berpotensi mendorong inflasi.

Harga minyak yang lebih tinggi dinilai dapat mempersulit langkah Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Meski data inflasi konsumen dan produsen AS menunjukkan tekanan harga mulai mereda, pasar masih menilai risiko inflasi tetap tinggi apabila lonjakan harga energi berlanjut.

Pejabat Federal Reserve juga terus mengingatkan bahwa risiko inflasi belum sepenuhnya hilang. Bank sentral AS disebut masih membutuhkan beberapa bulan data inflasi yang lebih rendah sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga acuan.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan. Pada Jumat, JISDOR berada di level Rp17.944 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi sebelumnya sebesar Rp18.041 per dolar AS.

Editor : Lugas Rumpakaadi
kurs dolar AS Bank Indonesia rupiah menguat