RADAR BANYUWANGI – Petani buah naga di Banyuwangi tengah menikmati kenaikan harga komoditas andalan mereka. Harga buah naga atau dragon fruit di tingkat petani kini menembus Rp12 ribu per kilogram, jauh lebih tinggi dibanding saat harga anjlok yang bahkan pernah berada di bawah Rp5 ribu per kilogram.
Kenaikan harga tersebut dipicu terbatasnya pasokan di pasaran. Saat ini sebagian besar tanaman buah naga di sentra produksi Banyuwangi masih memasuki fase berbunga sehingga jumlah buah yang siap dipanen belum banyak.
Salah seorang petani buah naga, Irfan, 35, mengatakan harga jual buah naga matang saat ini berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kilogram. Menurutnya, kondisi tersebut cukup menguntungkan bagi petani meski volume panen masih terbatas.
"Harga buah naga masih mahal karena jarang ada yang panen," ujar petani asal Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Senin (13/7).
Irfan mengungkapkan, harga buah naga sebenarnya pernah menyentuh Rp20 ribu per kilogram. Namun peluang harga kembali mencapai angka tersebut dinilai cukup kecil karena saat ini berbagai jenis buah lain juga sedang memasuki musim panen.
Mulai dari mangga, kelengkeng, hingga sejumlah buah musiman lainnya membanjiri pasar. Kondisi itu membuat pilihan konsumen semakin beragam sehingga permintaan terhadap buah naga tidak melonjak signifikan.
"Kalau musim berbarengan, minat pasar menurun sehingga harga buah naga paling mentok di angka belasan ribu rupiah," jelasnya.
Harga di Atas Rp8 Ribu Sudah Menguntungkan
Petani lainnya, Marzuki, menyebut tingginya harga jual sangat berpengaruh terhadap keuntungan petani. Pasalnya, biaya produksi buah naga tidaklah murah.
Untuk lahan seluas seperempat hektare, biaya perawatan dalam satu musim panen bisa mencapai sekitar Rp6 juta. Biaya tersebut meliputi pemupukan, perawatan tanaman, hingga kebutuhan operasional lainnya.
Dalam satu kali musim panen, lahan tersebut rata-rata mampu menghasilkan sekitar dua ton buah naga.
Menurut Marzuki, harga jual di atas Rp8 ribu per kilogram sudah memberikan keuntungan yang layak bagi petani. Sebaliknya, ketika harga turun hingga Rp5 ribu per kilogram, hasil penjualan hanya cukup menutup biaya produksi.
"Modal bisa kembali, petani rugi waktu dan tenaga kalau harga sudah Rp5 ribu," katanya.
Pasokan Diperkirakan Meningkat Saat Musim Panen Raya
Meski saat ini harga buah naga masih berada pada level yang menguntungkan, petani memperkirakan kondisi tersebut tidak akan berlangsung selamanya. Ketika tanaman mulai memasuki panen raya dan pasokan meningkat, harga berpotensi kembali mengalami penyesuaian mengikuti mekanisme pasar.
Bagi petani Banyuwangi, tingginya harga saat pasokan masih terbatas menjadi momentum untuk menutup biaya perawatan yang selama ini cukup besar. Mereka berharap harga tetap stabil ketika musim panen raya tiba agar usaha budidaya buah naga tetap memberikan keuntungan yang berkelanjutan. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin