RADARBANYUWANGI.ID - Lebih dari 232 juta perjalanan masyarakat Indonesia mengandalkan layanan kereta api bersubsidi selama Semester I 2026. Capaian tersebut menegaskan bahwa program Public Service Obligation (PSO) tidak hanya menjaga mobilitas masyarakat, tetapi juga membantu jutaan keluarga menghemat biaya transportasi untuk bekerja, bersekolah, berobat, hingga menjalankan usaha.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat layanan PSO dalam ekosistem KAI Group melayani 232.746.598 pelanggan sepanjang Januari hingga Juni 2026. Angka tersebut setara dengan rata-rata sekitar 1,28 juta pelanggan setiap hari, mencerminkan tingginya ketergantungan masyarakat terhadap transportasi publik yang aman, nyaman, dan terjangkau.
Jumlah pelanggan tersebut berasal dari layanan KA Jarak Jauh PSO, KA Lokal PSO, Commuter Line yang dikelola KAI Commuter, LRT Jabodebek, serta layanan KAI Bandara bersubsidi di Yogyakarta dan Medan.
Dari total pelanggan tersebut, layanan perkotaan masih menjadi penyumbang terbesar.
Berikut rincian jumlah pelanggan layanan PSO KAI Group selama Semester I 2026:
- Commuter Line KAI Commuter: 204.151.200 pelanggan
- LRT Jabodebek: 16.018.911 pelanggan
- KA Jarak Jauh PSO: 5.945.921 pelanggan
- KA Lokal PSO: 3.582.434 pelanggan
- KAI Bandara Yogyakarta dan Medan: 3.048.132 pelanggan
Secara keseluruhan, layanan KA PSO yang dikelola langsung oleh KAI melayani 9.528.355 pelanggan, terdiri atas KA Jarak Jauh PSO dan KA Lokal PSO.
Dominasi pelanggan Commuter Line menunjukkan kebutuhan transportasi massal di kawasan perkotaan masih sangat tinggi. Di sisi lain, layanan KA PSO antarkota tetap menjadi pilihan masyarakat karena menawarkan biaya perjalanan yang lebih terjangkau dibandingkan moda transportasi lain untuk berbagai kebutuhan.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, tingginya jumlah pelanggan mencerminkan pentingnya keberadaan layanan transportasi publik bersubsidi dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, dukungan pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan membuat masyarakat tetap memiliki akses terhadap transportasi yang ekonomis.
Anne menjelaskan, tarif PSO yang lebih murah membantu keluarga mengelola pengeluaran harian. Dana yang sebelumnya dialokasikan untuk biaya transportasi dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, seperti membeli kebutuhan pokok, membiayai pendidikan anak, memenuhi kebutuhan kesehatan, hingga menambah modal usaha kecil.
"Di balik 232,75 juta pelanggan ini, ada begitu banyak cerita. Ada pekerja yang berangkat pagi demi keluarganya, pelajar yang menempuh perjalanan untuk belajar, orang tua yang pergi berobat, pedagang kecil yang membawa dagangan, serta keluarga yang pulang untuk saling menguatkan," ujarnya, Senin (6/7/2026), dikutip Antara.
KAI menilai layanan PSO juga berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi nasional. Kemudahan mobilitas membantu pekerja tetap produktif, mempermudah pelajar dan mahasiswa mengakses pendidikan, memperluas akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan, sekaligus menjaga aktivitas perdagangan di berbagai daerah.
Bagi masyarakat perkotaan, Commuter Line dan LRT Jabodebek telah menjadi bagian dari rutinitas harian untuk menuju kantor, sekolah, kampus, rumah sakit, pasar, maupun pusat layanan publik.
Sementara itu, KA Jarak Jauh PSO dan KA Lokal PSO tetap berperan penting menjaga konektivitas antarkota dan antardaerah. Layanan tersebut menjadi pilihan masyarakat yang membutuhkan perjalanan rutin dengan biaya lebih hemat, mulai dari pekerja, pelajar, pedagang, hingga keluarga yang bepergian untuk berbagai keperluan.
Anne menegaskan KAI terus menjalankan amanah pemerintah dengan menjaga kualitas layanan agar tetap selamat, tepat waktu, bersih, nyaman, dan semakin sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
"Setiap pelanggan memiliki cerita dalam perjalanannya. Ada harapan yang dibawa, keluarga yang dituju, dan kebutuhan hidup yang ingin dijaga. Melalui PSO dari pemerintah melalui DJKA Kementerian Perhubungan, KAI hadir menjalankan layanan agar perjalanan masyarakat tetap selamat, nyaman, dan terjangkau," pungkasnya.
Editor : Lugas Rumpakaadi