Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Lebih dari 503 Juta Penumpang Naik Kereta Api pada 2025, Laba KAI Rp2,28 Triliun Diklaim Perkuat Layanan

Lugas Rumpakaadi • Senin, 6 Juli 2026 | 21:20 WIB
PT KAI mencatat laba bersih Rp2,28 triliun pada 2025. (Antara)
PT KAI mencatat laba bersih Rp2,28 triliun pada 2025. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - Lebih dari 503 juta perjalanan masyarakat tercatat menggunakan layanan kereta api sepanjang 2025. Di balik tingginya mobilitas tersebut, PT Kereta Api Indonesia (KAI) membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp2,28 triliun.

Kondisi keuangan yang semakin sehat itu disebut menjadi modal penting bagi perusahaan untuk menjaga keselamatan perjalanan, meningkatkan ketepatan waktu, merawat sarana dan prasarana, serta memperkuat kualitas pelayanan bagi pelanggan di seluruh Indonesia.

Capaian tersebut disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2025. Laba KAI Group meningkat 2,77 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp2,22 triliun.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, kinerja keuangan yang baik bukan sekadar pencapaian bisnis, melainkan menjadi fondasi agar layanan kereta api tetap andal di tengah tingginya kebutuhan mobilitas masyarakat.

"Kinerja keuangan yang sehat membuat KAI memiliki ruang lebih kuat untuk menjaga keselamatan perjalanan, merawat sarana, memastikan kesiapan operasi, dan meningkatkan kualitas pelayanan. Bagi pelanggan, ini berarti perjalanan dengan kereta api dapat terus diandalkan untuk bekerja, sekolah, berusaha, berwisata, maupun bertemu keluarga," ujarnya, Senin (6/7/2026), dikutip Antara.

Sepanjang 2025, KAI Group melayani 503.549.740 pelanggan. Selain itu, perusahaan juga mengangkut 69.791.691 ton barang ke berbagai daerah di Indonesia.

Besarnya jumlah penumpang tersebut menunjukkan kereta api masih menjadi salah satu moda transportasi utama masyarakat. Sementara layanan angkutan barang terus mendukung distribusi logistik dan aktivitas ekonomi di berbagai wilayah.

Dari sisi pendapatan, KAI Group membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp35,76 triliun. Nilai tersebut relatif stabil dibandingkan tahun 2024 yang mencapai Rp36,11 triliun.

Meski pendapatan sedikit menurun, perusahaan justru mampu meningkatkan laba usaha sebesar 10,35 persen menjadi Rp8,39 triliun, dari sebelumnya Rp7,60 triliun.

Peningkatan laba usaha ditopang pengelolaan biaya operasional yang lebih efisien.

Beban pokok pendapatan turun menjadi Rp23,02 triliun dibandingkan Rp23,27 triliun pada 2024. Beban usaha juga berhasil ditekan dari Rp5,23 triliun menjadi Rp4,35 triliun.

Efisiensi tersebut membuat laba sebelum pajak meningkat 12,20 persen menjadi Rp3,71 triliun.

Anne menjelaskan, efisiensi yang dilakukan perusahaan tidak hanya bertujuan meningkatkan kinerja keuangan, tetapi juga dikembalikan dalam bentuk pelayanan yang lebih baik kepada pelanggan.

"Pengelolaan biaya yang baik membantu perusahaan menjaga ketepatan waktu, kenyamanan di stasiun dan selama perjalanan, kesiapan sarana, serta perawatan fasilitas yang mendukung pengalaman pelanggan," katanya.

Selain laba yang meningkat, kondisi kas perusahaan juga semakin kuat.

Arus kas bersih dari aktivitas operasi mencapai Rp7,15 triliun atau naik 36,43 persen dibandingkan 2024 yang sebesar Rp5,24 triliun.

Penerimaan kas dari pelanggan tumbuh 12,68 persen menjadi Rp28,59 triliun. Sementara kas dan setara kas pada akhir 2025 meningkat 37,22 persen menjadi Rp6,76 triliun.

Menurut Anne, arus kas operasi yang kuat sangat penting karena bisnis perkeretaapian membutuhkan investasi dan biaya operasional yang besar secara berkelanjutan, mulai dari perawatan lokomotif, kereta, gerbong, fasilitas stasiun, sistem pelayanan, hingga dukungan operasional di berbagai daerah.

Di sisi lain, posisi keuangan perusahaan juga terus menguat. Total aset KAI Group naik 8,58 persen menjadi Rp105,43 triliun dari Rp97,10 triliun pada 2024.

Ekuitas meningkat 11,23 persen menjadi Rp39,29 triliun, sedangkan aset tetap tumbuh 26,84 persen menjadi Rp37,30 triliun. Kenaikan aset tetap tersebut memperkuat kapasitas perusahaan dalam menjaga kesiapan sarana, prasarana, dan fasilitas pendukung layanan.

Anne menegaskan, seluruh capaian keuangan perusahaan pada akhirnya harus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat sebagai pengguna jasa kereta api.

Menurutnya, semakin sehat kondisi perusahaan, semakin besar pula kemampuan KAI menjaga layanan publik berbasis rel secara aman, nyaman, dan berkelanjutan.

"Bagi KAI, angka-angka dalam kinerja keuangan harus bermuara pada pelayanan. Setiap penguatan perusahaan harus membantu pelanggan mendapatkan layanan kereta api yang aman, nyaman, mudah diakses, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat," tuturnya.

Ke depan, kondisi keuangan yang semakin kuat diharapkan menjadi modal bagi KAI untuk terus meningkatkan kualitas layanan, menjaga keandalan operasional, serta memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus meningkat, termasuk di berbagai daerah yang dilayani jaringan perkeretaapian nasional.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#Kinerja Keuangan KAI 2025 #Kereta Api