Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Angkutan Retail KAI Tembus 123.810 Ton, Peluang Tekan Biaya Logistik Nasional Makin Besar

Lugas Rumpakaadi • Senin, 6 Juli 2026 | 20:34 WIB
Volume angkutan retail KAI pada Semester I 2026 mencapai 123.810 ton. (Antara)
Volume angkutan retail KAI pada Semester I 2026 mencapai 123.810 ton. (Antara)

RADARBANYUWANGI.ID - Pertumbuhan angkutan retail PT Kereta Api Indonesia (KAI) pada Semester I 2026 mencerminkan meningkatnya volume pengiriman barang. Tak hanya itu, tren tersebut juga menjadi sinyal semakin besarnya peran kereta api dalam membangun sistem logistik nasional yang lebih efisien, sekaligus membuka peluang penurunan biaya distribusi bagi pelaku usaha, UMKM, hingga masyarakat.

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, volume angkutan retail KAI mencapai 123.810 ton. Capaian itu meningkat 5,06 persen dibanding Semester I 2025 yang tercatat 117.851 ton. Jika dibandingkan Semester I 2024, kenaikannya bahkan mencapai 21,84 persen dari sebelumnya 101.617 ton.

Peningkatan tersebut menunjukkan kebutuhan distribusi barang antarkota menggunakan kereta api terus bertumbuh. Moda transportasi berbasis rel dinilai semakin dipercaya sebagai solusi pengiriman barang yang memiliki kapasitas besar, jadwal teratur, dan efisien untuk perjalanan jarak menengah hingga jauh.

Selama Semester I 2026, rata-rata angkutan retail KAI mencapai sekitar 20.635 ton per bulan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata Semester I 2025 sebesar 19.642 ton per bulan maupun Semester I 2024 yang mencapai sekitar 16.936 ton per bulan.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, pertumbuhan tersebut menunjukkan kebutuhan pasar terhadap layanan distribusi yang semakin efisien dan terencana terus meningkat.

"Angkutan retail KAI tumbuh karena pasar membutuhkan distribusi yang lebih efisien, terencana, dan mampu menjangkau lintas kota. Ini menjadi sinyal bahwa kereta api dapat mengambil peran lebih besar dalam sistem logistik nasional, termasuk untuk mendukung pelaku usaha dan UMKM," ujarnya, Senin (6/7/2026), dikutip Antara.

Menurut Anne, layanan angkutan retail dijalankan menggunakan skema Business to Business (B2B) melalui kemitraan dengan perusahaan logistik. Pelaku usaha, UMKM, hingga masyarakat dapat mengakses layanan pengiriman barang melalui jaringan mitra, service point, dan layanan distribusi lanjutan yang telah tersedia.

Dalam rantai logistik modern, kereta api berfungsi sebagai moda utama pada perjalanan antarkota atau middle-mile. Barang dikumpulkan terlebih dahulu oleh mitra logistik, kemudian diangkut menggunakan kereta api menuju kota tujuan sebelum diteruskan melalui layanan first-mile dan last-mile hingga sampai ke tangan penerima.

Model distribusi tersebut memungkinkan kereta api menjadi tulang punggung pengiriman barang jarak menengah hingga jauh, sementara angkutan jalan tetap memegang peran penting pada proses pengambilan dan pengantaran barang.

"Kereta api memiliki keunggulan pada kapasitas, keteraturan jadwal, dan efisiensi untuk perjalanan antarkota. Ketika peran ini dipadukan dengan jaringan first-mile dan last-mile dari mitra, pelaku usaha bisa mendapatkan rantai distribusi yang lebih kompetitif," kata Anne.

Bagi pelaku usaha di daerah, termasuk UMKM yang mengirim produk ke berbagai kota, semakin berkembangnya logistik berbasis rel membuka peluang memperoleh layanan distribusi yang lebih terjadwal dan berpotensi menekan ongkos pengiriman. Efisiensi tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing produk sekaligus memperluas jangkauan pasar.

Penguatan angkutan retail berbasis rel dinilai semakin strategis karena biaya logistik Indonesia masih relatif tinggi dibanding sejumlah negara lain.

Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan biaya logistik nasional berada pada kisaran 14,29 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Tingginya biaya logistik berdampak terhadap harga barang, daya saing ekspor, investasi, disparitas harga antarwilayah, hingga stabilitas pasokan.

Sebagai perbandingan, Bank Dunia mencatat rata-rata biaya logistik dunia berada di kisaran 13 persen terhadap PDB, sedangkan negara dengan sistem logistik paling efisien mampu menekan biaya hingga sekitar 8 persen terhadap PDB.

Perbandingan tersebut menunjukkan Indonesia masih memiliki ruang besar untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok nasional, salah satunya melalui penguatan distribusi barang berbasis kereta api.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai PDB Indonesia tahun 2025 atas dasar harga berlaku mencapai Rp23.821,1 triliun. Dengan rasio biaya logistik sebesar 14,29 persen terhadap PDB, nilai biaya logistik nasional diperkirakan mencapai sekitar Rp3.404 triliun per tahun.

Secara simulasi makro, apabila sistem logistik nasional mampu meningkatkan efisiensi hingga 30 persen, potensi ruang penghematan secara teoritis dapat mencapai sekitar Rp1.021 triliun setiap tahun.

Besarnya nilai tersebut menggambarkan bahwa efisiensi logistik bukan hanya berdampak pada perusahaan distribusi, tetapi juga berpotensi menurunkan biaya pengiriman, menjaga stabilitas pasokan, serta membuat harga barang lebih kompetitif bagi masyarakat.

Pemerintah terus mendorong pembangunan jaringan perkeretaapian yang terintegrasi sebagai bagian dari strategi memperkuat konektivitas ekonomi sekaligus menekan biaya logistik nasional.

Anne menilai pertumbuhan angkutan retail KAI menjadi momentum untuk memperbesar kontribusi kereta api dalam sistem distribusi barang nasional, khususnya pada lintas dengan volume pengiriman yang stabil, jarak menengah hingga jauh, dan kebutuhan distribusi yang terjadwal.

"Penguatan angkutan retail berbasis kereta api perlu dilihat sebagai bagian dari agenda besar efisiensi logistik nasional. Ketika barang retail dapat dikonsolidasikan lebih baik, dihubungkan ke jaringan rel, lalu diteruskan melalui distribusi lanjutan oleh mitra, biaya pengiriman berpotensi semakin kompetitif. Dampaknya akan kembali kepada pelaku usaha, UMKM, dan masyarakat melalui rantai pasok yang lebih sehat," jelasnya.

Ke depan, KAI akan terus memperluas kolaborasi dengan pemerintah, mitra logistik, kawasan industri, pelaku usaha, hingga UMKM. Pengembangan simpul logistik, integrasi antarmoda, akses first-mile dan last-mile, serta konsolidasi pengiriman retail menjadi fokus untuk memperbesar kontribusi kereta api dalam distribusi barang nasional.

Editor : Lugas Rumpakaadi
#logistik #angkutan retail #KAI #Kereta Api