RADARBANYUWANGI.ID - Tidak sedikit perusahaan di industri komunikasi yang harus berjuang menghadapi pandemi Covid-19 dan derasnya arus transformasi digital. Namun, di tengah perubahan tersebut, Kandi Imaji justru mampu mempertahankan eksistensinya selama lebih dari satu dekade. Bagi Founder dan CEO Kandi Imaji, Faradila Sofyana, kemampuan bertahan bukan semata ditentukan oleh besarnya perusahaan, melainkan oleh konsistensi menjalankan prinsip bisnis yang tepat.
Perubahan industri Public Relations (PR) dalam beberapa tahun terakhir berlangsung sangat cepat. Kebutuhan komunikasi perusahaan kini tidak lagi hanya mengandalkan media konvensional, tetapi berkembang menuju strategi digital yang terintegrasi. Kondisi tersebut mendorong banyak agensi PR melakukan transformasi agar tetap relevan dengan kebutuhan klien.
Menjawab tantangan tersebut, Kandi Imaji bertransformasi dari PR Consultant menjadi Digital PR Ecosystem Agency. Langkah itu menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengikuti perkembangan industri sekaligus menghadirkan layanan komunikasi yang lebih adaptif di era digital.
Faradila, yang akrab disapa Dila, membangun Kandi Imaji berbekal pengalaman di bidang Public Relations. Dalam perjalanannya, perusahaan tersebut berkembang menjadi salah satu agensi PR lokal yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan PR Indonesia (APPRI).
Meski demikian, perjalanan bisnis yang dijalani tidak selalu mulus. Penurunan omzet saat pandemi, perubahan kebutuhan klien, hingga persaingan industri yang semakin kompetitif menjadi tantangan yang harus dihadapi. Alih-alih berhenti, kondisi tersebut justru menjadi momentum bagi perusahaan untuk berbenah dan terus berinovasi.
Bagi Dila, fondasi utama membangun perusahaan adalah memastikan seluruh proses dijalankan dengan benar. Prinsip tersebut terinspirasi dari buku Company of One yang mengubah cara pandangnya dalam mengembangkan bisnis.
"Menjadi besar itu belum tentu menjadi lebih baik, tapi menjadi benar sudah pasti lebih baik," ujarnya.
Menurutnya, mengejar pertumbuhan tanpa tata kelola yang baik hanya akan menghasilkan keberhasilan sesaat. Sebaliknya, perusahaan yang dibangun dengan fondasi yang benar memiliki peluang lebih besar untuk bertahan menghadapi berbagai perubahan.
Prinsip kedua yang dipegang Dila adalah memastikan keberhasilan perusahaan turut dirasakan seluruh anggota tim. Baginya, pertumbuhan bisnis tidak boleh hanya menguntungkan pemilik perusahaan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan karyawan.
"Prinsipnya adalah ya kita harus kaya bareng, kita harus sejahtera bareng. Bukan yang kemudian saya sebagai pimpinan, sebagai founder, saya yang sejahtera sendiri," katanya.
Karena itu, Kandi Imaji memilih membangun organisasi yang ramping dengan sumber daya manusia berkualitas. Pengembangan kompetensi menjadi perhatian utama agar setiap anggota tim mampu mengikuti perubahan industri yang terus berkembang.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui berbagai bentuk apresiasi kepada karyawan. Salah satunya dengan memberangkatkan umrah bagi pegawai yang telah lama mengabdi sebagai bentuk penghargaan atas loyalitas dan kontribusi mereka terhadap pertumbuhan perusahaan.
Menurut Dila, perubahan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari dunia bisnis. Karena itu, kemampuan belajar dan beradaptasi menjadi modal penting bagi setiap perusahaan agar tetap relevan.
"Hal yang saya pelajari setelah membangun Kandi Imaji lebih dari 10 tahun adalah perjalanan bisnis bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi tentang bagaimana kita tetap berjalan saat banyak orang memilih untuk berhenti," ungkapnya.
Ia menilai tantangan akan terus berubah seiring perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Oleh sebab itu, perusahaan harus terbuka terhadap inovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi fondasi organisasi.
Transformasi menjadi Digital PR Ecosystem Agency menjadi salah satu bentuk adaptasi yang dilakukan Kandi Imaji dalam menjawab perubahan pola komunikasi perusahaan yang kini semakin mengandalkan kanal digital.
Editor : Lugas Rumpakaadi